[Perjalanan] Perempuan dan Gunung

7Saya ingin berbagi petualangan dengan orang-orang terdekat saya.  Meskipun saya memiliki banyak teman dan tergabung dalam banyak kelompok, hanya sedikit orang-orang yang dekat dengan saya. Saya memutuskan untuk liburan mengunjungi Gunung Semeru, Gunung tertinggi di Pulau Jawa, bersama sahabat saya yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, Shallyna. Ia seorang sahabat saya sejak di sekolah menengah atas. Ia telah memperkenalkan banyak hal kepada saya, dan kami telah mencobai banyak hal baru bersama. Saya pun ingin ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Selain itu, saya mudah bosan dan sering berganti-ganti suasana. Saya bukan tipe orang yang menghabiskan waktu di satu tempat atau satu kelompok saja. Itu pula sebabnya saya tidak mengajak teman-teman yang biasa mendaki gunung bersama saya. And we both knew if we do it, it is gonna be one of our best memories together in our lifeEspecially because of that is her first time.

Manusia takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya. Penentang yang paling bersikeras biasanya adalah orang yang tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu. Anak-anak muda Indonesia telah disuapi dogma mengenai pentingnya ijin orangtua sebelum mendaki gunung. Berbagai berita mengenai celakanya anak-anak muda yang mendaki gunung tanpa seijin orang tuanya marak beredar dari mulut ke mulut, hingga di media sosial. Mulai dari yang hilang karena tersesat akibat kabut tebal menghadang, jatuh ke jurang, hingga ‘disesatkan’ oleh makhluk astral. Berita-berita yang menarik banyak pembaca, namun menanamkan ketakutan massal tersebut juga menjangkiti orangtua kami. Dan benarlah, hambatan pertama datang dari orang yang paling kami cintai, yakni para Ibu kami. Ibu-ibu kami tidak pernah mengunjungi gunung.

Seorang Ibu akan melakukan apapun agar kita tidak pergi. Mereka saling bertelepon dan menyamakan pendapat. Mulai dari alasan yang logis seperti, berbahayanya hal tersebut karena Shally tidak pernah mendaki gunung sebelumnya dan ia akan merepotkan saya. Kemudian alasan yang mulai tidak logis seperti, berbahaya karena it is just two of us and we’re girls (and all of men we’ll find in the trip probably want to rape us). Hingga pernyataan final yang dipaksakan seperti perkataan seorang Ibu itu mengandung mukjizat, yang tanpanya kami tidak dapat kelancaran. Perkataan seorang Ibu itu dapat menjadi kenyataan, yang dengan sumpahnya kami tidak akan selamat.11Alhasil, karena mata kami hanya tertuju pada Semeru dan kebutuhan untuk bertualang di alam yang tak terbendung lagi, kami memutuskan untuk tetap pergi. Perasaan lega muncul ketika kami bertemu teman-teman baru di Jeep yang kami tumpangi dari Tumpang menuju Ranu Pane. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang dari kelompok inilah yang akan bersama kami selama beberapa hari kedepan. Kelompok kami berjumlah 11 orang, 6 orangnya dari Banyuwangi, dan 3 orang lainnya dari Jakarta. Kami tiba di basecamp Ranu Pane pada 4 Juli 2017. Kami baru mengetahui betapa Gunung ini menjadi sangat populer, akibat film 5 CM, hingga kuota pendakian Gunung Semeru dibatasi ‘hanya’ 500 orang saja perharinya. Kami tiba terlalu malam, sehingga tidak sempat me-booking dengan menaruh KTP kelompok di loket taman nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sehingga kami harus menunggu satu malam lagi. Dua malam tersebut merupakan malam terpanjang bagi kami, karena udara di Ranu Pane saat itu begitu dingin yang tidak memungkinkan kami untuk tidur nyenyak.

 

Berbeda lagi dengan siangnya, sebuah drama menyebabkan saya merasa tidak tahan melewatkan hari itu lebih lama lagi. Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar Desa Ranu Pane. Selesai mengunjungi sebuah danau, Ranu Regulo, kami melihat sebuah gapura dan arca yang cantik. Ternyata setelah didekati, tempat itu adalah sebuah pura. Pura Ulun Danu di Ranu Pane. Setelah menanyakan kepada seorang Bapak berkopiah, ia membolehkan kami untuk masuk kesana. Shally memasuki pura tersebut, sementara saya membaca tulisan tata tertib pura yang letaknya agak tersembunyi. Belum sempat saya mengobrol dengan teman saya mengenai isi dari tata tertib tersebut, seorang tua yang memakai iket udeng melesat cepat ke dalam pura. Ia menginterogasi dan memarahi teman saya. Terdengar bentakan-bentakan dari mulutnya, tubuhnya yang tua bergetar. Si tua penjaga pura ini mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Nampaknya ia merasa terhina karena tempat berdoanya ternodai oleh seorang muda yang masuk tanpa berpakaian rapi. Di situlah drama itu dimulai. Shallyna terus-menerus mengutarakan ketakutannya akan kesialan yang bisa datang. “Kejadian tadi siang itu merupakan sebuah tanda,” katanya bersikeras. Saya nampak tidak mau mendengarkannya. “Hal-hal yang unik seperti ini yang harus kita perhatikan,” ia mengulangi saran seorang gadis yang telah mengikuti Open Trip ke Semeru. Jelas lah si gadis berkata demikian, karena saya mengetahui dalam sebuah Open Trip selalu ada seorang guide yang menginformasikan mitos-mitos setempat. Dan saya tidak percaya mitos. Saya telah mendengar curahan hati Shally mengenai ketakutannya akan kesialan yang akan menimpa karena tidak memiliki restu Ibunya saat perjalanan di kereta. Dan sekarang saya harus mendengarkan spekulasi-spekulasinya mengenai bencana yang akan menimpa kami. Hal ini merupakan energi negatif dan buruk bagi saya. “Biasa lah Shel, orang tua tadi tuh cuma mengabdi sama agama, jadi tingkahnya begitu. Gampang tersinggung,” hibur saya. “Kalo ada apa-apa sama gue emang Lo mau tanggung jawab? Nggak kan?” WTF. Ia mulai bertingkah seperti mamanya dan Ibu saya. Menimpakan hal ini kepada saya, seakan saya satu-satunya yang harus bertanggung jawab jika nanti terjadi apa-apa padanya. “Yaudah, kita lihat saja. Kalau di perjalanan Lo sial, kita pulang saja” Tentu saja saya tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Pulang setelah perjalanan 17 jam di kereta? No way. Kemudian ia merajuk, “PULANG? Itu saja yang bakal Lo lakukan?” That was really hitted my nerve. “Mut, ya emang bener kan, kalau di tempat-tempat kayak gini tuh harus perhatiin hal-hal kayak tadi. Karena memang masyarakat sini masih percaya banget sama hal-hal kayak gitu”. Saya hanya dapat berkata dalam hati karena malas berdebat saat itu, “Tetapi itu bukan kepercayaan saya. Itu kepercayaan mereka. So, it has nothing to do with me.”

Setiap gunung di Indonesia memiliki mitos-mitos. Warga lokal akan melarangmu ini dan itu, menceritakanmu tentang hantu yang ini dan yang itu. Saya menghormati kepercayaan mereka yang mengandung kemistisan itu, tentu saja, tetapi itu bukan kepercayaan saya. If you become upset about what they say, you wouldn’t get anywhere. Lagipula, kesialan dapat diantisipasi dengan persiapan yang baik dan sikap hati-hati.

Suasana tegang diakhiri dengan ngobrolin soal ‘tenda goyang’, yang mungkin merupakan salah satu yang dapat kami tangkap dari dari ucapan teman-teman dari Banyuwangi. Mereka berbicara Bahasa Jawa dan kami tidak mengerti. Meskipun begitu, kami cukup puas dengan mereka berusaha menerjemahkan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Kembali lagi ke tenda goyang, saya dan Shally sama-sama ingin melakukannya suatu hari nanti. I have been wanting that since a long time ago, actually. “Tapi nggak di gunung di Indonesia. Mistis, sih,” kataku. “Iya, katanya hantu tuh nggak suka wilayahnya dinodai sama sex”. Meskipun saya tidak suka memercayai hal semacam itu, saya tetap saja tidak mau dijailin dengan tidak dapat dilepasnya penis siapapun itu dari kemaluan saya!

Saya kira perjalanan ini tidak mengecewakan, Semeru memang seindah yang ada di foto-foto yang ada di penelusuran google (google image). Tiket kereta yang tiga kali lipat lebih mahal karena kami kehabisan tiket, sungguh terbayar. Kami mulai mendaki pada tanggal 6 Juli dan selama 3 hari kedepan, kami sungguh beruntung mendapatkan cuaca sangat cerah. Kami tiba di Ranu Kumbolo pada saat paling indahnya, yaitu saat sore hari. Padang ilalang di sekitar Ranum menjadi padang berwarna keemasan, dan pancaran biru gelap air danau tampak begitu meneduhkan. Tentu saja, kami menyempatkan langsung mengabadikannya dalam foto. Tidak hanya Ranu Kumbolo, sepanjang jalur dari entry point Desa Ranu Pane menuju Mahameru sangat indah! Tentu saja, karena tidak berkabut. KAMI SANGAT BERUNTUNG. Mulai dari bukit dan tebing karst dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo, kemudian padang rumput dan bunga lavender di Oro-oro Ombo, pohon-pohon cemara di Cemoro Kandang, padang bunga edelweiss di Jambangan, berkemah dengan view Gunung Semeru di Kalimati, hingga pemandangan yang dapat terlihat di.jalur summit Puncak Semeru yang luar biasa indah.

2

8

9

Setelah Shally dan rombongan dari Banyuwangi mengantarkan saya dan ketiga orang dari Jakarta Timur, kami pamit di bawah rindang pohon-pohon cemara, di perbatasan antara Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo. Shally memutuskan untuk tidak summit karena mengejar kereta yang telah ia beli tiketnya. Ia hanya memiliki 1 hari lagi yang akan dihabiskan untuk mengunjungi Bromo.

Saya tidak akan menceritakanmu mengenai summit ke Mahameru. Biar itu menjadi kejutan buatmu juga. Yang akan saya ceritakan disini ialah saat saya hendak sampai di puncak, yang saya tempuh 7 jam lamanya, sehingga saya memandang sunrise ketika masih di kemiringan. Eric, teman jalan saya yang juga dari Jakarta, menjabat seorang tua yang adalah kenalannya. Bapak-bapak itu juga menjabat tangan saya. “Berapa lama, Bang, summit-nya?” Dengan malu-malu kucing ia menjawab, “Empat atau lima jam, gitu”. Saya dan teman-teman takjub mendengarnya. Seorang tua ini mestilah seorang ahli dalam mendaki gunung. Eric menjawab merendah, “Wah, kita yang muda-muda aja tujuh jam, Bang”. Seorang tua ini kemudian melirik saya sambil tersenyum, “Maklum lah tujuh jam, bawa wanita soalnya”. Mata saya menyipit mendengarnya, memandanginya lekat-lekat. Dasar orang tua seksis.

12

13

Memang saya tidak ikut bergantian membawa satu carrier kecil yang dibawa kelompok kecil saya, namun saya sama sekali tidak membebani tim dan membawa air minum  summit saya sendiri. Malah, saya berjalan di paling depan. Jika saat itu saya tidak berjalan sendirian alias mendaki bersama lingkaran kawan naik gunung saya, saya tidak akan mengetahui tentang hal ini. Saya tidak menyalahkan Si Tua itu juga, karena memang inilah yang terjadi di kalangan pendaki-pendaki di Indonesia, di luar kepecinta-alaman. Mereka menganggap mendaki gunung adalah olahraga laki-laki. Karena itulah rombongan dari Banyuwangi tidak mengajak pacar-pacarnya. “Takut nggak kuat, Mbak” jelas Yordan, salah seorang anak rombongan dari Banyuwangi, lelaki yang supel dan menyenangkan. “Ama itu, takut kena penyakit kedinginan itu…”. “Hipotermia,” imbuhku. Eric juga tidak mengajak pacarnya. “Wah, bahaya!” sahutnya. “Takut nagih, ya?” tanya Bongki, juga teman jalan kami. “Pasti nagih, nanti jarang di rumah,” Eric menambahkan. Bukan hanya itu, dalam sebuah angkot di perjalanan pulang di terminal Bekasi-Pulogadung, saya juga ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain. Katanya, mereka direpotkan dengan membawakan carrier teman-temannya yang perempuan. Seorang lelaki yang mengambilkan beberapa botol air Ranu Kumbolo untuk Shally juga bercerita yang serupa. Alhasil, mereka semua jadi kapok mengajak teman-teman perempuannya lagi.

Saya tidak berbicara mengenai kemampuan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan seharusnya berhenti melemahkan diri, atau mengambil kesempatan dari enaknya jadi perempuan (meskipun saya juga terkadang melakukan itu) untuk dapat mencapai kesetaraan. Persiapkan dirimu sebelum pendakian dengan jogging dan latihan fisik, dijamin tidak akan merepotkan selama perjalanan. Kemudian, jangan pernah mengiyakan keterbatasan-keterbatasan karena lahir dalam tubuh perempuan. Contohnya, mamamu melarangmu naik gunung karena kamu seorang perempuan. Memangnya semua laki-laki ingin memperkosa? Atau, mamamu melarangmu naik gunung karena jika kamu dapat naik gunung, tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu karena kamu adalah perempuan yang kuat. Well, if  he does not like you, he is simply not your type.

10

 

 

[Perjalanan] Walah, Navigasi!

Rombongan caang (calon anggota) Mapala UI beserta panitia BKP (Badan Kepengurusan Pelantikan) 2016 disambut oleh udara dingin setibanya di Agrowisata Gunungmas. Saat itu hari sudah gelap, sorot headlamp satu-persatu nampak berpendar. Navigasi dan komunikasi merupakan materi yang akan kami pelajari dalam perjalanan kedua kami dalam BKP 2016 ini.

Sejujurnya, perjalanan kedua ini cukup membuat saya berdebar bahkan sebelum dimulai. Pasalnya, saya bodoh dalam matematika dan asing dengan derajat, koordinat, azimut, dan kawan-kawannya. Memang saya hadir dalam materi navigasi, namun rasa kantuk pada malam penyampaian materi itu menghalau materi tersebut untuk nyantol di kepala saya. Dan memang, mentor saya, Irvan, M-952-UI, telah mengajari kami sebelum perjalanan ini dimulai, namun semua materi yang diberikan tersebut seperti mengawang di udara.

1480346056489.jpg
Dag dig dug.. jderrr!!

Sebelum kami, para caang, mendirikan tenda di kawasan agrowisata, seluruh handphone kami dikumpulkan. Panitia tentu telah memperkirakan bahwa akan ada caang yang tricky dengan bernavigasi secara otomatis lewat  gadget miliknya. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi saya semenjak saya asing dengan perpetaan, menggunakan google maps saja sangat jarang. Saya lebih suka merepotkan orang di sepanjang jalan dengan bertanya dimana letak tempat tujuan ketika bepergian. Jadi, dengan enteng saya serahkan handphone milik saya.

Kali ini, bukan lambung nyaman Big Dome lagi tempat saya terlelap. Kini, saya dan kelompok enam perjalanan dua saya yang terdiri dari Apoy, Ben, Fauzan, Putri, Verdy, dan saya sendiri tidur di dalam Java four. Tiada yang mempercayai Apoy yang telah berusaha meyakinkan bahwa tenda tersebut mempunyai kapasitas maksimal untuk enam orang. Kenyataan bahwa Apoy telah tidur bersama enam orang lainnya yang berbadan lebih besar dari kami semua pada perjalanan satu kemarin juga sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, dua orang dari kami lebih memilih tidur di teras daripada berjejalan dalam tenda ini pada malam yang berbeda.

Sebagai orang yang bangun paling awal pada pagi pertama, saya langsung menyiapkan peralatan masak sambil kepala menengadah langit. Hamparan bintang terang dalam kegelapan seakan memayungi barisan tenda kami, visual indah tersebut terekam dalam benak saya. Hamparan langit luas tanpa apapun yang menghalangi, itulah salah satu hal favorit saya saat naik gunung. Tidak lama kemudian, ketika saya ingin berbagi pemandangan indah tersebut kepada manusia-manusia di dalam tenda yang sudah mulai grasak-grusuk, tiba-tiba awan dengan cepat menelan seluruh hamparan bintang di langit. Di langit, gemerlap payung bintang tergantikan dengan kabut abu-abu kuburan. Dahi yang mengernyit bukan pertanda saya telah meramal bahwa hari itu akan menjadi hari dimana, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berdaya.

Dalam perjalanan dua ini, kami bertugas untuk mencari dan menemukan checkpointcheckpoint yang tersedia di sepanjang jalur menuju puncak Gegerbentang. Cp-cp tersebut tentu saja hanya diberi tahu koordinatnya. Banyaknya ada enam checkpoint, itu berarti ada enam kertas tersembunyi di setiap checkpoint yang harus ditemukan sebagai bukti kami telah melewati tempat itu. Jika pada perjalanan satu BKP 2016 dua minggu yang lalu kami hanya mengikuti jalur yang tersedia, kali ini kami membuka jalur di beberapa titik. Caang telah dibagi kepada dua kelompok besar dengan jalur yang berbeda. Jalur Joglok dan Jalur Gedogan. Tim yang lebih dulu sampai ke checkpoint terakhir, yang mana berada di Puncak Gegerbentong lah yang menjadi pemenang.

Saya geli jika teringat bagaimana saya mencari checkpoint pertama. Di peta jalur kami yang telah di-highlight, sudah jelas bahwa letak Cp 1 belum menaiki punggunggan. Namun, saya dan beberapa teman ikut naik punggungan dan tentu saja tidak menemukan apa-apa. Setelah lebih dari satu setengah jam mencari, waktu habis dan kami langsung melanjutkan mencari Cp berikutnya. Belakangan saya mengetahui bahwa Cp1 masih terletak di kawasan wisata Gunungmas, tepatnya berada di mulut punggunggan sebagai entry point punggunggan, gerbang gunung yang seharusnya dari sana kami masuk. Setelah menemukan beberapa Cp berikutnya, kami menyadari bahwa Cp-cp yang kami cari tersebar di titik-titik ekstrem: di punggungan, di lembahan, di saddle, di pendilan, dan di puncak.

Dari yang tidak tahu-menahu apa-apa; apa yang harus saya lakukan dalam orientasi medan? mengapa saya harus naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukannya? Kemana saya harus pergi selanjutnya? Saya jadi tahu. Layaknya pembuatan alat musik gamelan, otak saya yang bekerja sangat lambat dalam navigasi ini perlu waktu dan dalam penempaannya menghasilkan kemajuan (yang sangat) sedikit demi sedikit (sekali).

1480346122957
“Dimana checkpoints beradaa?”  kiri-kanan: Selli, Ichaw, Ghozi, Tita, Putri, saya, Ojan, Ben, Apoy.

Dalam pencarian checkpoint kedua hingga keempat, saya masih meraba-raba untuk dapat memutuskan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ketika itu rasanya saya masih mengekor saja di antara teman-teman caang lainnya, sekeras apapun saya berusaha untuk aktif. Bukannya tidak antusias dan lantas menyerahkan peran bernavigasi kepada anak-anak Adam semata, melainkan rasanya saya belum bisa mengimbangi ritme pergerakan navigasi teman-teman yang lain. Ketika Apoy dan Ben, dua orang paling berjasa dalam perjalanan navigasi jalur Gedogan ini (yang juga anggota  kelompok saya), telah memperdebatkan suatu hasil yang mereka peroleh, saya masih menanyakan kepada mereka cara mereka memperoleh hasil itu.

Mentor kelompok kami, Irvan, terus mendorong saya dan Putri, perempuan dalam kelompok enam untuk turut aktif bernavigasi. Malah, Irvan meneriaki saya untuk mengeluarkan pendapat saya. “Muti, ayo keluarkan pendapatmu!” ujarnya spontan. “Yah, kalau bisa…” jawab saya seadanya, pahit. Sebagai seorang feminis, saya benci merasa tidak berdaya.

Baru pada hari pencarian dua Cp terakhir, hari dimana para mentor membuat ladies day demi meningkatkan peran para caang perempuan dalam perjalanan dua ini, saya mulai tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Saya senang caang perempuan  dapat membuka jalur dan marking dengan tramontina, juga melakukan blitz untuk orientasi medan. Setelah itu, istilah-istilah dalam bernavigasi rasanya tidak lagi seperti alien lagi bagi saya. Learning by doing, kalimat klise dan simpel yang diucapkan mentor kami kini terdengar relevan.

Saya memercayai ruh yang sama ditiupkan kepada wanita dan pria, yang membedakan adalah tubuh biologis. Karena itulah posisi push-up kami berbeda, tetapi kemampuan kami bisa menjadi sama. Namun, dengan nilai-nilai dalam masyarakat yang tidak benar dan tidak adil, juga konstruksi sosial yang bias gender, rangkul kami, berikan kami peran untuk dapat menjadi setara. Karena itu, inisiatif mentor kami sudah tepat dengan mengadakan ladies day, karena kami, caang perempuan, kurang mendapatkan peran dalam kelompok kami. Setelah dipikir-pikir, tidak benar jika mengkambinghitamkan kemampuan saya yang masih tertinggal, sebab seharusnya saya bisa mengejarnya dengan terus bertanya lebih keras.
Tidak bermaksud menyalahkan caang laki-laki yang kurang sabar dalam mengikutsertakan sebagian dari kami yang sedikit lebih lamban, sebab saya mengerti caang laki-laki merasa tertuntut dan merasa memiliki beban di pundaknya atas ketepatan waktu selesainya kegiatan navigasi tersebut. Sebab laki-laki selalu dituntut lebih hebat dari wanita dalam masyarakat kami. Sebab wanita harus selalu merendahkan diri demi menjaga ego laki-lakinya.

Kami kembali ke Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) di kampus sekitar pukul setengah satu dini hari. Salah seorang mentor dari jalur Joglok yang pernah mengajari saya navigasi, bernama Manak, mencoba mengetes saya dengan menanyakan bentukan medan pada suatu titik koordinat kepada saya. Saya berusaha terdengar sudah yakin ketika menjawab pertanyaannya, meskipun saya tidak. Jawaban saya salah, ternyata saya terbalik membaca urutan garis di samping peta (saya lupa nama garisnya)! Nampaknya saya akan kembali meneror mentor saya untuk kembali belajar navigasi dengannya, meski saya tahu perjalanan dua sudah berakhir dan hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Ck, navigasi, navigasi! Saya menantikan waktu ketika saya bisa menguasainya…

1480346205373
“Muka longsor kini sumringah”. Caang BKP MAPALA UI 2016 s.d. Perjalanan 2.

P.S. Saya tahu, tulisan ini lebih terasa seperti sebuah ‘press release’ atau curhat daripada apapun.
Ditulis 1 Desember 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.