[PUISI] ‘Ini’ – ‘Itu’

Ini-itu

Oh, kelezatan apa ini, ‘ini’?

Aku tidak bisa berhenti.

Ekstase memabukkan, ini surga dunia.

Dulu aku berpikir, karena adanya ‘ini’, wanita bisa jadi tak perlu menikah.

Setruman mengalir di darahku, dari bawah ke kepalaku.

Aku melepaskan semuanya biarkan otot kendur.

Seketika aku seperti merasakan terangkat ke udara.

Dengan bunga-bunga dan muka lembut bumi dibawahku.

Lalu aku mengulat, kemudian tidur.

 

Jika ini saja sudah enak,

Aku tak bisa membayangkan yang lebih lagi, ‘itu’.

 

Oh, ‘ini’ melekat di otakku.

Tak ada satu waktu pun hal ‘ini’ berada di luar aktif pikirku.

Tak sabar hatiku bertemu denganmu lagi, ‘ini’.

Aku tak pernah jauh-jauh dari ‘ini’.

Seperti anak muda yang merindukan datangnya waktu masturbasi –Ayu Utami.

Puisi ini ditulis pada tahun 2014 lalu.

[Perjalanan] Walah, Navigasi!

Rombongan caang (calon anggota) Mapala UI beserta panitia BKP (Badan Kepengurusan Pelantikan) 2016 disambut oleh udara dingin setibanya di Agrowisata Gunungmas. Saat itu hari sudah gelap, sorot headlamp satu-persatu nampak berpendar. Navigasi dan komunikasi merupakan materi yang akan kami pelajari dalam perjalanan kedua kami dalam BKP 2016 ini.

Sejujurnya, perjalanan kedua ini cukup membuat saya berdebar bahkan sebelum dimulai. Pasalnya, saya bodoh dalam matematika dan asing dengan derajat, koordinat, azimut, dan kawan-kawannya. Memang saya hadir dalam materi navigasi, namun rasa kantuk pada malam penyampaian materi itu menghalau materi tersebut untuk nyantol di kepala saya. Dan memang, mentor saya, Irvan, M-952-UI, telah mengajari kami sebelum perjalanan ini dimulai, namun semua materi yang diberikan tersebut seperti mengawang di udara.

1480346056489.jpg
Dag dig dug.. jderrr!!

Sebelum kami, para caang, mendirikan tenda di kawasan agrowisata, seluruh handphone kami dikumpulkan. Panitia tentu telah memperkirakan bahwa akan ada caang yang tricky dengan bernavigasi secara otomatis lewat  gadget miliknya. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi saya semenjak saya asing dengan perpetaan, menggunakan google maps saja sangat jarang. Saya lebih suka merepotkan orang di sepanjang jalan dengan bertanya dimana letak tempat tujuan ketika bepergian. Jadi, dengan enteng saya serahkan handphone milik saya.

Kali ini, bukan lambung nyaman Big Dome lagi tempat saya terlelap. Kini, saya dan kelompok enam perjalanan dua saya yang terdiri dari Apoy, Ben, Fauzan, Putri, Verdy, dan saya sendiri tidur di dalam Java four. Tiada yang mempercayai Apoy yang telah berusaha meyakinkan bahwa tenda tersebut mempunyai kapasitas maksimal untuk enam orang. Kenyataan bahwa Apoy telah tidur bersama enam orang lainnya yang berbadan lebih besar dari kami semua pada perjalanan satu kemarin juga sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, dua orang dari kami lebih memilih tidur di teras daripada berjejalan dalam tenda ini pada malam yang berbeda.

Sebagai orang yang bangun paling awal pada pagi pertama, saya langsung menyiapkan peralatan masak sambil kepala menengadah langit. Hamparan bintang terang dalam kegelapan seakan memayungi barisan tenda kami, visual indah tersebut terekam dalam benak saya. Hamparan langit luas tanpa apapun yang menghalangi, itulah salah satu hal favorit saya saat naik gunung. Tidak lama kemudian, ketika saya ingin berbagi pemandangan indah tersebut kepada manusia-manusia di dalam tenda yang sudah mulai grasak-grusuk, tiba-tiba awan dengan cepat menelan seluruh hamparan bintang di langit. Di langit, gemerlap payung bintang tergantikan dengan kabut abu-abu kuburan. Dahi yang mengernyit bukan pertanda saya telah meramal bahwa hari itu akan menjadi hari dimana, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berdaya.

Dalam perjalanan dua ini, kami bertugas untuk mencari dan menemukan checkpointcheckpoint yang tersedia di sepanjang jalur menuju puncak Gegerbentang. Cp-cp tersebut tentu saja hanya diberi tahu koordinatnya. Banyaknya ada enam checkpoint, itu berarti ada enam kertas tersembunyi di setiap checkpoint yang harus ditemukan sebagai bukti kami telah melewati tempat itu. Jika pada perjalanan satu BKP 2016 dua minggu yang lalu kami hanya mengikuti jalur yang tersedia, kali ini kami membuka jalur di beberapa titik. Caang telah dibagi kepada dua kelompok besar dengan jalur yang berbeda. Jalur Joglok dan Jalur Gedogan. Tim yang lebih dulu sampai ke checkpoint terakhir, yang mana berada di Puncak Gegerbentong lah yang menjadi pemenang.

Saya geli jika teringat bagaimana saya mencari checkpoint pertama. Di peta jalur kami yang telah di-highlight, sudah jelas bahwa letak Cp 1 belum menaiki punggunggan. Namun, saya dan beberapa teman ikut naik punggungan dan tentu saja tidak menemukan apa-apa. Setelah lebih dari satu setengah jam mencari, waktu habis dan kami langsung melanjutkan mencari Cp berikutnya. Belakangan saya mengetahui bahwa Cp1 masih terletak di kawasan wisata Gunungmas, tepatnya berada di mulut punggunggan sebagai entry point punggunggan, gerbang gunung yang seharusnya dari sana kami masuk. Setelah menemukan beberapa Cp berikutnya, kami menyadari bahwa Cp-cp yang kami cari tersebar di titik-titik ekstrem: di punggungan, di lembahan, di saddle, di pendilan, dan di puncak.

Dari yang tidak tahu-menahu apa-apa; apa yang harus saya lakukan dalam orientasi medan? mengapa saya harus naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukannya? Kemana saya harus pergi selanjutnya? Saya jadi tahu. Layaknya pembuatan alat musik gamelan, otak saya yang bekerja sangat lambat dalam navigasi ini perlu waktu dan dalam penempaannya menghasilkan kemajuan (yang sangat) sedikit demi sedikit (sekali).

1480346122957
“Dimana checkpoints beradaa?”  kiri-kanan: Selli, Ichaw, Ghozi, Tita, Putri, saya, Ojan, Ben, Apoy.

Dalam pencarian checkpoint kedua hingga keempat, saya masih meraba-raba untuk dapat memutuskan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ketika itu rasanya saya masih mengekor saja di antara teman-teman caang lainnya, sekeras apapun saya berusaha untuk aktif. Bukannya tidak antusias dan lantas menyerahkan peran bernavigasi kepada anak-anak Adam semata, melainkan rasanya saya belum bisa mengimbangi ritme pergerakan navigasi teman-teman yang lain. Ketika Apoy dan Ben, dua orang paling berjasa dalam perjalanan navigasi jalur Gedogan ini (yang juga anggota  kelompok saya), telah memperdebatkan suatu hasil yang mereka peroleh, saya masih menanyakan kepada mereka cara mereka memperoleh hasil itu.

Mentor kelompok kami, Irvan, terus mendorong saya dan Putri, perempuan dalam kelompok enam untuk turut aktif bernavigasi. Malah, Irvan meneriaki saya untuk mengeluarkan pendapat saya. “Muti, ayo keluarkan pendapatmu!” ujarnya spontan. “Yah, kalau bisa…” jawab saya seadanya, pahit. Sebagai seorang feminis, saya benci merasa tidak berdaya.

Baru pada hari pencarian dua Cp terakhir, hari dimana para mentor membuat ladies day demi meningkatkan peran para caang perempuan dalam perjalanan dua ini, saya mulai tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Saya senang caang perempuan  dapat membuka jalur dan marking dengan tramontina, juga melakukan blitz untuk orientasi medan. Setelah itu, istilah-istilah dalam bernavigasi rasanya tidak lagi seperti alien lagi bagi saya. Learning by doing, kalimat klise dan simpel yang diucapkan mentor kami kini terdengar relevan.

Saya memercayai ruh yang sama ditiupkan kepada wanita dan pria, yang membedakan adalah tubuh biologis. Karena itulah posisi push-up kami berbeda, tetapi kemampuan kami bisa menjadi sama. Namun, dengan nilai-nilai dalam masyarakat yang tidak benar dan tidak adil, juga konstruksi sosial yang bias gender, rangkul kami, berikan kami peran untuk dapat menjadi setara. Karena itu, inisiatif mentor kami sudah tepat dengan mengadakan ladies day, karena kami, caang perempuan, kurang mendapatkan peran dalam kelompok kami. Setelah dipikir-pikir, tidak benar jika mengkambinghitamkan kemampuan saya yang masih tertinggal, sebab seharusnya saya bisa mengejarnya dengan terus bertanya lebih keras.
Tidak bermaksud menyalahkan caang laki-laki yang kurang sabar dalam mengikutsertakan sebagian dari kami yang sedikit lebih lamban, sebab saya mengerti caang laki-laki merasa tertuntut dan merasa memiliki beban di pundaknya atas ketepatan waktu selesainya kegiatan navigasi tersebut. Sebab laki-laki selalu dituntut lebih hebat dari wanita dalam masyarakat kami. Sebab wanita harus selalu merendahkan diri demi menjaga ego laki-lakinya.

Kami kembali ke Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) di kampus sekitar pukul setengah satu dini hari. Salah seorang mentor dari jalur Joglok yang pernah mengajari saya navigasi, bernama Manak, mencoba mengetes saya dengan menanyakan bentukan medan pada suatu titik koordinat kepada saya. Saya berusaha terdengar sudah yakin ketika menjawab pertanyaannya, meskipun saya tidak. Jawaban saya salah, ternyata saya terbalik membaca urutan garis di samping peta (saya lupa nama garisnya)! Nampaknya saya akan kembali meneror mentor saya untuk kembali belajar navigasi dengannya, meski saya tahu perjalanan dua sudah berakhir dan hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Ck, navigasi, navigasi! Saya menantikan waktu ketika saya bisa menguasainya…

1480346205373
“Muka longsor kini sumringah”. Caang BKP MAPALA UI 2016 s.d. Perjalanan 2.

P.S. Saya tahu, tulisan ini lebih terasa seperti sebuah ‘press release’ atau curhat daripada apapun.
Ditulis 1 Desember 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.

[Perjalanan] Suka Duka dengan Si Kubah Hijau Besar

 

Saya tidak menyangka bahwa benda yang dianggap biasa oleh semua orang yang berkemah menjadi bintang dalam tulisan saya ini. Bagaimana tidak, benda tersebut membuat saya menikmati perjalanan pertama saya pada BKP Mapala UI 2016. Pada suatu malam yang sunyi dengan bau anyir, mungkin benda itu akan menjelma menjadi salah satu ksatria Pandhawa yang kuat. Pada awalnya saya ragu, tangan saya meraba, memastikan tubuhnya tidak akan terembes hujan dingin beserta angin kencang di lembah Surya Kencana. Jari-jari tangan menelusuri lapisan transparannya yang memperlihatkan bulir-bulir air di permukaan seberang yang lain. Waterproof. Saya teringat menatap langit-langitnya pada pagi dini hari yang dingin dengan terjangan hujan. Tumbuh perasaan aman tubuh saya dalam lambungnya, seperti lindungan perut busuk paus terhadap nabi Nuh dari lautan yang sedang badai. Rasanya mukjizat Sang Nabi diberikan kepada kami, kelompok empat yang bukan siapa-siapa ini, melalui Big Dome hijau ini.

15036376_1830331837246903_9042776322582227485_n
Kami senang dengan tenda sewaan kami!

Kami, kelompok empat, senang dengan tenda sewaan kami. Kelompok kami terdiri dari enam orang: Saya, Kawkab, Dea, Luthfi, Ratu, dan Jazmi. Kami mendirikan tenda dekat dengan jalan di lembah Surya Kencana. Setelah saya bersikeras menginginkan pintu tenda menghadap jalan, saya dapat bersantai dengan pemandangan indah padang rumput yang dipercantik dengan beberapa tanaman edelweiss, para pendaki yang lewat, dan Gunung Gemuruh dari pintu risleting tenda yang dibuka! Tenda yang lumayan luas memungkinkan kami berenam untuk difoto di dalamnya, karena ada cukup ruang untuk orang lainnya yang mengambil gambar kami dengan kamera. Selain itu, di tenda itu juga lah kami berlatih puisi teatrikal kami yang absurd dengan cahaya temaram headlamp. Yah, meskipun kami agak kecewa karena penampilan kami pada acara persembahan penampilan calon anggota (caang) berakhir dengan kegagalan karena kami  lupa pertengahan hingga akhir naskahnya.

15036402_1830356273911126_5154190409499275809_n
Ketika pintu dibuka..

Penampilan tenda kami yang ramah meski tanpa susuk, seakan mengundang beberapa raga yang kedinginan untuk turut berteduh. Berdiri kokoh dengan konsumsi lapak yang terbesar diantara tenda-tenda kecil lainnya, pastilah orang-orang yang melihat telah membayangkan ‘posisi wenak’ dengan tidur-tidur di dalamnya. Beberapa mentor BKP Mapala yang lewat,  mampir untuk menghangatkan diri di dalam. Termasuk mentor kelompok kami pada perjalanan satu ini, Chey M-963-UI, dan  mentor kelompok lainnya, Irvan. Beberapa dari mereka berdecak takjub mengungkapkan rasa setuju  mengenai betapa nyamannya tenda tersebut, beberapa lainnya ingin ikut tidur di tenda yang luas ini, dan seorang lainnya menyuruh dua orang tetangga di tenda sebelah yang mana mereka berdua memiliki kelamin berbeda untuk bergabung bersama kami. Tentu saja kami menolak, kami tidak sudi berbagi! Hal menggelitik lain adalah ketika beberapa mentor kelompok lain, Bagea dan Firman ngguyon dengan menyarankan kami untuk membuka lapak tempat salat alias musala di tenda kami dengan menarik iuran. Hasil dari musala berbayar tersebut pastilah akan lumayan, katanya.

Namun, tidak semua orang memuji, satu-dua lainnya melepaskan ‘hewan-hewan kurungan’ ketika pertama kali melihat tenda kami. Saya teringat pada suatu pagi dini hari, pertama kalinya kami semua berkemah dalam perjalanan satu itu di tanah area perkebunan jalur masuk Gunung Putri. Pagi itu bukan kukuruyuk ayam jantan yang membuat kami terbangun, melainkan teriakan berikut, “An****, gede banget ni tenda!” Ya, terlebih area kosong di perkebunan tersebut tidaklah luas, sehingga tenda kami sangat terlihat mencolok berdiri di tengah tenda-tenda kecil lainnya.

Lihat perbandingannya, begitulah besarnya.

Bukan maksud hati untuk memajang tenda yang dari sananya sudah besar ini di tengah-tengah tanah kemah yang sempit di area perkebunan. Bukan maksud kami untuk menjejalkan tenda besar kami untuk berdesakan dengan tenda kecil lainnya, melainkan nasib bagi kami yang memiliki tenda besar yang mana membutuhkan lapak yang lebih besar pula. Kami terusir dari satu tempat ke tempat lainnya ketika hendak mendirikan tenda di tanah sempit tersebut karena ukuran tenda yang besar memakan lapak milik kelompok lain. Semua sudut area telah terisi tenda, jadilah kami memasang tenda di lapak yang tersisa, di tengah-tengah. Di Surya Kencana, ketika kelompok lain mengangkat tenda mereka yang sudah terpasang dengan mudah untuk berpindah lokasi, kami tidak bisa melakukan hal yang sama karena tenda besar kami terlalu berat. Alhasil, kami harus membongkar dan memasang ulang tenda tersebut. Yah, nampaknya Big Dome hijau ini tidak pantas disandingkan dengan paus meski sama-sama berwarna hijau dan bertubuh besar, juga bukanlah mukjizat dari Tuhan, melainkan sesimpel kami kehabisan tenda ukuran secukupnya di tempat penyewaan barang-barang kegiatan outdoor.

P.S. saya memberi judul ‘Kubah Hijau Besar’ tak lain merupakan terjemah English – Indonesia dari Big Dome.

Ditulis 15 November 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.

Bagaimana jika Surga… a. Ada b. Tidak ada

Postingan ini adalah percakapan pendek di salah satu kajian filsafat dan feminisme yang saya hadiri. Saat itu adalah hari terakhir KAFFE 1. Yang menjadi pembicara saat itu adalah Dr. Haryatmoko. Kelas yang diampu oleh pria yang biasa dipanggil Romo ini asyik, karena ia suka memberikan contoh berupa cerita-cerita dalam keseharian yang segar.

Pada pertemuan sebelumnya, Romo telah memberikan materi tentang distinctiveDistinctive adalah sebutan ketika seseorang berbicara dengan bahasa yang terkesan biasa saja, namun terkandung makna memisahkan diri karena lebih unggul. Mari gamblang-kan saja, distinctive berarti memisahkan diri dengan cara yang halus dari yang lainnya karena merasa lebih unggul.

Pada hari itu, Romo baru saja menjelaskan mengenai “Empat Fase Citra”. Di sini saya hanya menyebutkannya saja. Citra ada yang disebut representasi, yaitu citra suatu hal yang menjadi cermin suatu realitas. Yang kedua ada ideologi, di mana citra menyembunyikan diri dan memberi gambaran baru akan realitas. Yang ketiga saya lupa. Yang terakhir yaitu hiperrealitas, ketika yang tidak nyata menjadi realita, seperti bayangan akan surga yang tidak kasat mata dapat mengatur perbuatan manusia di dunia. 

“Kalau mau bahagia, ciptakan realita sendiri. Jangan ikut didikte realita orang lain,” terang sosok yang supel ini. Kepalanya menengadah seperti teringat sesuatu, “Saya juga punya realita bikinan sendiri, yaitu surga di akhir nanti.” Ia tersenyum. Begitu pun saya. Saya kira beberapa orang di ruangan ini juga tersenyum.

Ia menyapu seisi ruangan. Nampak seperti ingin mengoreksi, “Tetapi tentu saya mikir juga, sih. Bagaimana kalau ternyata Tuhan dan surga itu tidak ada?” ia menepok jidatnya. “Wuaduh!” Ya, jika ternyata Tuhan dan surga tak pernah ada di alam lain sana, Romo Haryatmoko melewatkan semua kesenangan dunia ini.

“Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya rugi karena berbuat kebaikan untuk sesama di dunia.” Nampak senyumnya yang paling lebar.

Seisi kelas menyahut, “Distinktif!!!”

 

 

[PUISI] Kayuh

Roda di bawah,

ku tangis ditindas.

Roda di atas,

ku tuntut diri sesak nafas.

 

Kutembus ruang dan waktu,

tidak terasa.

Tidak terasa,

berulang-ulang, menderu-deru.

 

Aku tahu, tanpa tahu

Apa yang ku tahu aku tuju

Aku tuju tanpa tahu

Ku tahu ku henti, lagi ku tuju.

 

Kira aku sudah lupa tentang,

drama-drama dan kelembutan

Tubuh makin matang,

pikiran makin awut-awutan.

Tiada lagi langit membentang,

Yang ada kait-mengait akar hutan.

 

Mengecap pengetahuan,

sekelebat lalu tak termaafkan.

 

 

 

About Marriage

Kata yang paling sering saya dengar selama saya kuliah saya adalah: ازواج. Menikah. Hal tersebut cukup mengejutkan saya pribadi karena mengapa harus kata itu yang mengganggu di kepala saya? Kata itu sering diucapkan oleh orang-orang seusia saya ketika saya masih di tingkat pertama perkuliahan dan kini makin sering terdengar ketika saya berada di tingkat dua. Di sini, saya hanya ingin berbagi perspektif lain tentang memikirkan ulang hal yang turun-temurun dilakukan tanpa dipikirkan.

Mengapa orang ingin menikah? karena itu tradisi. Menikah sudah sejak dulu ada, dilakukan turun-temurun. Jaman dulu, wanita memang dididik untuk menikah. Menikah, melahirkan anak, dan memberi makan semua orang (saya mendapatkan quote ini dari sebuah film My Big Fat Greek Wedding) adalah image dari wanita baik-baik. Jika tidak melakukan ketiga hal tersebut, tidak pantas disebut wanita baik-baik. But thanks to feminism, kini jaman telah berubah (meskipun dampaknya terasa di belahan bumi yang lain).

Lady-Chatterley

Saya curiga kalau orang-orang yang ingin menikah muda bukan menyukai pernikahan, tetapi menyukai “pesta pernikahan”. Dalam pesta pernikahan, bayang-bayangnya memang seperti gemerlapan. Menjadi pusat perhatian semua orang, melayani tamu-tamu yang datang, mendengar pujian bagaimana cantiknya dirimu dan kekasih dalam balutan gaun nikah yang seragam, selama beberapa jam duduk dan tersenyum terus melihat mereka semua menyantap hidangan yang enak. Oh, indahnya!

Sementara itu, dengan polosnya, kamu tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelahnya saat malam tiba. Kamu bahkan tidak menyukai hal itu (baca: having sex). “Mengerikan,” katamu. “Memangnya sakit, ya?” katamu. Padahal, justru itulah bagian terbaiknya!

Bagian yang kamu benci itu tetap kamu lakukan pada malam-malam berikutnya, demi menyenangkan suamimu. Tanpa kamu mengerti kenikmatan darinya. Tidak ada gairah saat melakukannya. Terlebih dapat mencobai berbagai gaya. Alhasil, keduanya tidak mendapat kepuasan. Kalau begitu, pantas saja kalau Islam menghalalkan poligami. (Meskipun saya pribadi tidak setuju dengan poligami).

Salah satu alasan mengapa tradisi menikah tetap berlangsung hingga kini adalah agar mempunyai anak. Anak yang lucu-lucu. Tetapi, tidak banyak orang tahu bahwa merawat anak tidak semudah yang terbayangkan. Semua orang mudah melakukannya. Tanpa mengetahui bahwa anak juga menyebabkan terkikisnya romantisme bahkan pertengkaran antara kamu dan suami, juga menghambat karirmu (jika kamu bekerja). Lucu bahwa pernikahan hanyalah untuk berkembang biak. Lihat saja kemana pun kamu pergi, anak-anak dimana-mana. Negara ini sudah penuh! tidak butuh banyak bayi lagi dari rahimmu, tapi butuh seorang anak yang bisa memperbaiki carut-marut negeri ini. Lebih baik merawat satu dari banyaknya anak terlantar yang ada daripada memproduksi banyak yang baru lagi.

tumblr_inline_mw6rfcuxdn1s93g6s
What your Dad says

Merawat anak membutuhkan kedewasaan. Kamu tidak bisa lagi bersikap egois. Saya mengatakan ini karena terbukti bahwa, ketika memiliki anak, seluruh uang hasil kerja kerasmu diberikan untuk kepentingan sang anak. Tidak bisa tidak. Untuk bahagiamu, hanya datang dari kebahagiaan anakmu. Kamu bahagia jika anakmu bahagia.

Yang paling menjengkelkan adalah kalimat “Menikah karena Allah”. Nah, yang mengatakan ini adalah wanita yang menawarkan diri menjadi budak setelah menikah. Padahal, seorang suami tidak terjamin aman dan dapat melindungi. Lagipula mengapa kamu butuh untuk dilindungi? Jalannya seperti ini: Menikah -> menjadi budak suami ( meniti jalan ke surga) -> Meninggal -> Surga. Kamu dengan senang hati melayani suamimu, hingga merelakan karirmu agar kamu tidak absen dalam menghidangkan masakan di meja makan. Kehidupanmu hanya seputar domestik dan keluar rumah hanya dengan ijin dari suami. Kamu menurut pada semua perkataan suamimu hingga menomorduakan kepentingan dirimu. Kamu memberi makan seluruh teman-teman yang suamimu bawa ke rumah. Sungguh menjenuhkan dan melelahkan!

Hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang bermakna. Saya sendiri ingin hidup saya bukan hanya sekedar menjalani “siklus hidup”.  Siklus hidup yang seperti ini: Belajar sungguh-sungguh saat kuliah -> lulus dengan Cum Laude -> kerja -> menikah -> punya anak -> berhenti kerja -> mengurus anak -> anak besar -> ditinggalkan anak menikah -> tua -> meninggal. Saya juga tidak ingin tiba-tiba saya, anak perempuan dari seorang Ibu, tiba-tiba sudah punya anak lagi. Saya tidak ingin hanya tubuh saya saya yang menua karena sibuk menjalani hidup, tanpa menjadi lebih dewasa.

The unexamined life is not worth living” -Socrates.

Pernahkah dirimu memikirkan hal yang lebih penting daripada sekadar menikah? Adakah cita yang kamu ingin wujudkan sebelum menikah? Seperti menjadi traveller yang keliling dunia, melihat dunia yang lebih besar dan baru bagimu. Atau menjadi aktivis, memperbaiki negerimu atau dunia ini, hidup untuk kemanusiaan dan keadilan.