[REVIEW FILM] MACBETH

1Director: Justin Kurzel

Starring: Michael Fassbender, Marion Cotillard, Paddy Considine, Sean Harris, Jack Reynor, Lochlann Harris

Score: 9/10

All hail Macbeth that shall be king …

Film perang western abad pertengahan memang selalu dinantikan, karena menyuguhkan adegan perang brutal yang mendebarkan. Namun, Macbeth menjadi film perang paling ditunggu karena merupakan adaptasi dari salah satu drama paling terkenal Shakespeare. Selain menonton prajurit berani dalam baju zirah, pedang besi  yang menghunus leher, kegilaan dan kebrutalan dalam berperang, film Macbeth juga menghadirkan indahnya permainan kata dari Shakespeare yang penuh teka-teki sekaligus juga menghipnotis melalui tokoh-tokohnya. Film ini merupakan sebuah dongeng kengerian.

2

Sutradara Justin Kurzel dapat dibilang sukses mentransformasi  drama Shakespeare ke layar lebar. Kisah memukau dengan citra puitis transenden ini mendapat komposisi yang pas dalam film. Selain lokasi film yang menampilkan visual yang seperti negeri dongeng (pegunungan di Isle of SkyeBamburgh Castle, dll.) dan keseluruhan dialog yang puitis, performa para aktornya juga memiliki andil besar dalam mewujudkannya. Michael Fassbender nampaknya memang terlahir untuk peran ini! Fassbender dan Cotillard dalam aktingnya mampu menampilkan jiwa setiap manusia yang dibuat bingung dan tersesat oleh hal-hal transenden.

3

Menonton film ini, kamu akan menyelam ke dunia spiritual dan magis secara bersamaan. Selama 113 menit, buang jauh-jauh pikiran rasionalmu dan hidupkan imajinasimu. Terdapat banyak tipu daya dan hal diluar akal dalam film ini. Drama tragedi ini tidak berjalan sesuai kemauan kita, para tokoh tidak bertindak sesuai apa yang kita inginkan mereka untuk lakukan. Atau apa yang akan kita lakukan jika kita menjadi mereka. Mencengangkan bagaimana teman seperjuangan di medan perang dibunuh oleh rekannya sendiri, kejayaan yang dahulu diperjuangkan tidak dinikmati, dan keberanian yang berpuluh-puluh tahun tertanam sirna setelah mendengar sebuah ramalan.

4

Macbeth merupakan kisah tentang pembunuhan, pengkhianatan, dan ambisi. Film yang memiliki tone muram ini bersetting saat perang sipil melanda Skotlandia. Di sisi Raja Skotlandia saat itu, ada Macbeth, seorang ksatria pahlawan perang yang bergelar Thane of Glamis, yang memimpin batalyon terakhir Raja Duncan yang sudah lelah. “Thane” merupakan sebutan bangsawan di Skotlandia. Sisi Raja Duncan dan pengkhianat yang dipimpin Macdonwald dengan tentara bayaran, bertemu pada Battle of Ellon.

5

Terdapat dua sisi dari Macbeth, sisi yang bersih dan kotor. Dan Fassy mewujudkannya dengan sempurna. Ketika gelarnya hanya Thane of Glamis, Macbeth nampak tidak memiliki ambisi atas mahkota Raja. Mencintai raja dan negaranya. Setelah memenangkan perang tersebut, Macbeth dan teman seperjuangannya, Banquo (Paddy Considine), ditemui oleh tiga orang penyihir yang disebut The Weird Sisters. The Weird Sisters menggumamkan sesuatu yang mana adalah sebuah ramalan bahwa Macbeth akan menerima gelar Thane of Cawdor kemudian selanjutnya akan menjadi raja, dan Banquo akan menjadi ayah dari para raja. Macbeth tidak bisa berhenti memikirkan ramalan tersebut, namun kata-katanya masih terkesan skeptis.

Turning point pertama terjadi ketika ramalan pertama menjadi kenyataan. Raja Duncan menghadiahinya gelar Thane of Cawdor, gelar yang tidak lagi dimiliki oleh Macdonwald. Sementara putra Duncan, Malcolm, yang bergelar The Prince of Fife, menggantikannya menjadi Raja Skotlandia yang baru. Dari sini, ia membuang segalanya dan dimulai lah ambisinya untuk menjadi Raja Skotlandia.

6

Satu persatu kejadian yang gaib menuntunnya untuk mewujudkan ramalan tersebut, termasuk melalui istrinya. Hingga menjadi istri dari Raja Macbeth, Cotillard tampil powerful dan lebih ambisius dengan mendorong Macbeth dalam pembunuhan Raja Duncan. Dari ksatria jujur berhati baik, ia menjadi raja lalim. From a man so ‘full o’ the milk of human kindness became a man whose hands were so covered in blood they could never be wiped clean. Macbeth yang malang! terlambat menyadari bahwa ramalan tersebut nyatanya adalah sebuah kutukan.

7

Terakhir, hal yang patut diapresiasi dari film ini adalah sinematografinya yang tak biasa dan indah. Film ini memanfaatkan keadaan alam seperti kabut, cahaya, awan dan memadukannya dengan filter warna. Selain itu, banyak menggunakan siluet-siluet. Scoring-nya yang apik juga seperti pengiring musik pertunjukan di teater.

8910

Fair is foul, and foul is fair.

Hover through the fog and filthy air.

Tulisan ini pernah dimuat di cinemaniaindonesia.wordpress.com. Untuk pedoman nonton filmmu dan rekomendasi prediksi film hits atau menang festival yang akurat, baca aja cinemaniaindonesia.wordpress.com. Untuk selalu update mengenai watch list mu, ikuti saja twitter-nya di @CINEMANIA_ID ya! #promosi

 

Advertisements

[Thought] About Marriage

Kata yang paling sering saya dengar selama saya kuliah saya adalah: ازواج. Menikah. Hal tersebut cukup mengejutkan saya pribadi karena mengapa harus kata itu yang mengganggu di kepala saya? Kata itu sering diucapkan oleh orang-orang seusia saya ketika saya masih di tingkat pertama perkuliahan dan kini makin sering terdengar ketika saya berada di tingkat dua. Di sini, saya hanya ingin berbagi perspektif lain tentang memikirkan ulang hal yang turun-temurun dilakukan tanpa dipikirkan.

Mengapa orang ingin menikah? karena itu tradisi. Menikah sudah sejak dulu ada, dilakukan turun-temurun. Jaman dulu, wanita memang dididik untuk menikah. Menikah, melahirkan anak, dan memberi makan semua orang (saya mendapatkan quote ini dari sebuah film My Big Fat Greek Wedding) adalah image dari wanita baik-baik. Jika tidak melakukan ketiga hal tersebut, tidak pantas disebut wanita baik-baik. But thanks to feminism, kini jaman telah berubah (meskipun dampaknya terasa di belahan bumi yang lain).

Lady-Chatterley

Saya curiga kalau orang-orang yang ingin menikah muda bukan menyukai pernikahan, tetapi menyukai “pesta pernikahan”. Dalam pesta pernikahan, bayang-bayangnya memang seperti gemerlapan. Menjadi pusat perhatian semua orang, melayani tamu-tamu yang datang, mendengar pujian bagaimana cantiknya dirimu dan kekasih dalam balutan gaun nikah yang seragam, selama beberapa jam duduk dan tersenyum terus melihat mereka semua menyantap hidangan yang enak. Oh, indahnya!

Sementara itu, dengan polosnya, kamu tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelahnya saat malam tiba. Kamu bahkan tidak menyukai hal itu (baca: having sex). “Mengerikan,” katamu. “Memangnya sakit, ya?” katamu. Padahal, justru itulah bagian terbaiknya!

Bagian yang kamu benci itu tetap kamu lakukan pada malam-malam berikutnya, demi menyenangkan suamimu. Tanpa kamu mengerti kenikmatan darinya. Tidak ada gairah saat melakukannya. Terlebih dapat mencobai berbagai gaya. Alhasil, keduanya tidak mendapat kepuasan. Kalau begitu, pantas saja kalau Islam menghalalkan poligami. (Meskipun saya pribadi tidak setuju dengan poligami).

Salah satu alasan mengapa tradisi menikah tetap berlangsung hingga kini adalah agar mempunyai anak. Anak yang lucu-lucu. Tetapi, tidak banyak orang tahu bahwa merawat anak tidak semudah yang terbayangkan. Semua orang mudah melakukannya. Tanpa mengetahui bahwa anak juga menyebabkan terkikisnya romantisme bahkan pertengkaran antara kamu dan suami, juga menghambat karirmu (jika kamu bekerja). Lucu bahwa pernikahan hanyalah untuk berkembang biak. Lihat saja kemana pun kamu pergi, anak-anak dimana-mana. Negara ini sudah penuh! tidak butuh banyak bayi lagi dari rahimmu, tapi butuh seorang anak yang bisa memperbaiki carut-marut negeri ini. Lebih baik merawat satu dari banyaknya anak terlantar yang ada daripada memproduksi banyak yang baru lagi.

tumblr_inline_mw6rfcuxdn1s93g6s
What your Dad says

Merawat anak membutuhkan kedewasaan. Kamu tidak bisa lagi bersikap egois. Saya mengatakan ini karena terbukti bahwa, ketika memiliki anak, seluruh uang hasil kerja kerasmu diberikan untuk kepentingan sang anak. Tidak bisa tidak. Untuk bahagiamu, hanya datang dari kebahagiaan anakmu. Kamu bahagia jika anakmu bahagia.

Yang paling menjengkelkan adalah kalimat “Menikah karena Allah”. Nah, yang mengatakan ini adalah wanita yang menawarkan diri menjadi budak setelah menikah. Padahal, seorang suami tidak terjamin aman dan dapat melindungi. Lagipula mengapa kamu butuh untuk dilindungi? Jalannya seperti ini: Menikah -> menjadi budak suami ( meniti jalan ke surga) -> Meninggal -> Surga. Kamu dengan senang hati melayani suamimu, hingga merelakan karirmu agar kamu tidak absen dalam menghidangkan masakan di meja makan. Kehidupanmu hanya seputar domestik dan keluar rumah hanya dengan ijin dari suami. Kamu menurut pada semua perkataan suamimu hingga menomorduakan kepentingan dirimu. Kamu memberi makan seluruh teman-teman yang suamimu bawa ke rumah. Sungguh menjenuhkan dan melelahkan!

Hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang bermakna. Saya sendiri ingin hidup saya bukan hanya sekedar menjalani “siklus hidup”.  Siklus hidup yang seperti ini: Belajar sungguh-sungguh saat kuliah -> lulus dengan Cum Laude -> kerja -> menikah -> punya anak -> berhenti kerja -> mengurus anak -> anak besar -> ditinggalkan anak menikah -> tua -> meninggal. Saya juga tidak ingin tiba-tiba saya, anak perempuan dari seorang Ibu, tiba-tiba sudah punya anak lagi. Saya tidak ingin hanya tubuh saya saya yang menua karena sibuk menjalani hidup, tanpa menjadi lebih dewasa.

The unexamined life is not worth living” -Socrates.

Pernahkah dirimu memikirkan hal yang lebih penting daripada sekadar menikah? Adakah cita yang kamu ingin wujudkan sebelum menikah? Seperti menjadi traveller yang keliling dunia, melihat dunia yang lebih besar dan baru bagimu. Atau menjadi aktivis, memperbaiki negerimu atau dunia ini, hidup untuk kemanusiaan dan keadilan.