Kelak, di Masa Depan…

Tulisan ini dibuat pada 2016 lalu.

Betapa sesuatu yang dulu dianggap gila, adalah hal yang normal kini. Masa lalu penuh dengan kebodohan-kebodohan. Masa kini kelak akan menjadi masa lalu di masa depan. Dan kebenaran berpihak pada posisi dimana kita berpijak dan melihat.

Yah, mungkin postingan ini dapat dibilang “terlambat”, karena momentum hebohnya LGBT sudah lewat, tetapi, postingan ini hanya menjadi pengingat bagi saya. Tahun 2016 menjadi tahun yang patut diingat (terlebih bagi saya pribadi), karena tahun ini teman-teman (LGBT) yang mungkin telah lama bersembunyi, mulai terlihat. UI hampir bubar (bercanda) karena komunitas yang tidak dianggap menampakkan dirinya. Negara saya sempat heboh dengan adanya berita-berita dari media Repu***** yang tanpa ijin menggunakan foto seorang mahasiswa kampus yang gay dengan judul semena-mena (hal tersebut dilakukan tanpa konfirmasi, saya mengetahuinya karena berada di group chat SGRC). Dari media sosial dan chatting pribadi, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat, menteri-menteri hingga presiden memberi tanggapan beragam.

Saya jadi teringat film gerakan favorit saya, yaitu The Normal Heart (2014). Film ini menceritakan tentang saat wabah HIV AIDS melanda New York pada 1981-1984, dilihat dari kacamata seorang penulis dan aktivis gay Ned Weeks (Mark Ruffalo) yang juga pendiri organisasi advokasi HIV yang bernama Gay Men’s Health Crisis. Organisasi tersebut mengumpulkan dana untuk penelitian mengenai penyakit yang kini disebut AIDS (saat itu dianggap penyakit gay, belum ada istilah dalam kedokteran). Ned  yang memperjuangkan penyakit tersebut agar diakui keberadaannya dan dijadikan prioritas oleh negara meminta Felix Turner (Matt Bomer), seorang New York Times reporter untuk lebih banyak mempublikasikan mengenai wabah penyakit misterius yang belum terusut tersebut. Ned dan Felix kemudian mulai menjalin cinta.

Berikut ini adalah scene favorit saya, scene yang menyentuh titik empati saya. Ketika kekasih, teman, dan saudara satu sama lain mulai hilang bentuk  dan sekarat karena AIDS, dalam persembunyian di sebuah pesta komunitas gay, mereka berdansa…

(Di sini nggak bisa diputar videonya. Tonton di sini: The Normal Heart 2014 )

Setelah browsing sedikit mengenai Prof. Musdah Mulia, sosok peneliti Departemen Agama RI yang memberi opini berani mengenai legalnya pernikahan LGBT, saya jadi paham mengenai teka-teki tulisan berjudul “Gender” yang ditulis oleh Hendri Yulius pada Tempo edisi 18-24 April 2016.

Pertama-tama, saya beberkan terlebih dahulu opini Prof. Musdah mengenai legalitas pernikahan sesama jenis: LGBT itu dibolehkan oleh Islam karena yang dilarang adalah pernikahan sesama jenis yang merujuk pada ‘same sex’ atau sesama jenis kelamin. Sementara itu, LGBT merujuk pada ‘gender’ atau konstruksi sosial terhadap jenis kelamin seseorang. Jadi, menurut tokoh agama progresif, LGBT tidak haram karena meskipun jenis kelamin pasangan tersebut sama, namun gender-nya berbeda.

Jika dipikir-pikir, apa yang dahulu dianggap ‘terlarang’, apa yang dulu diperjuangkan, kini satu-persatu dapat kita nikmati. Jika bernostalgia, dulu, para feminis memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dulu, para tokoh anti aparteid berjuang untuk menghapus perbudakan dan aniaya terhadap ras tertentu  yang dulu dilegalkan. Kini, kita dapat menikmati kesetaraan itu.

Sejarah kelam yang paling terlihat di negara kita adalah, dulu, seorang jenderal polisi yang terkenal baik dengan karir yang sangat memuaskan, menjadi jatuh terpuruk hanya karena ia  berupaya menghimbau masyarakat untuk memakai penutup kepala yang kini kita sebut sebagai ‘helm’. Saat itu, safety belum diutamakan dan kecelakaan adalah hal yang biasa. Jenderal itu melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Masyarakat menganggap penutup kepala itu gila. Karirnya jatuh dan dirinya dipenjarakan. Jenderal tersebut benar-benar berpikir melebihi masanya.

“Beruntunglah orang-orang yang merasa terasing (teralienasi)” – K.H. Husein Muhammad.

 

 

Bagaimana jika Surga… a. Ada b. Tidak ada

Postingan ini adalah percakapan pendek di salah satu kajian filsafat dan feminisme yang saya hadiri. Saat itu adalah hari terakhir KAFFE 1. Yang menjadi pembicara saat itu adalah Dr. Haryatmoko. Kelas yang diampu oleh pria yang biasa dipanggil Romo ini asyik, karena ia suka memberikan contoh berupa cerita-cerita dalam keseharian yang segar.

Pada pertemuan sebelumnya, Romo telah memberikan materi tentang distinctiveDistinctive adalah sebutan ketika seseorang berbicara dengan bahasa yang terkesan biasa saja, namun terkandung makna memisahkan diri karena lebih unggul. Mari gamblang-kan saja, distinctive berarti memisahkan diri dengan cara yang halus dari yang lainnya karena merasa lebih unggul.

Pada hari itu, Romo baru saja menjelaskan mengenai “Empat Fase Citra”. Di sini saya hanya menyebutkannya saja. Citra ada yang disebut representasi, yaitu citra suatu hal yang menjadi cermin suatu realitas. Yang kedua ada ideologi, di mana citra menyembunyikan diri dan memberi gambaran baru akan realitas. Yang ketiga saya lupa. Yang terakhir yaitu hiperrealitas, ketika yang tidak nyata menjadi realita, seperti bayangan akan surga yang tidak kasat mata dapat mengatur perbuatan manusia di dunia. 

“Kalau mau bahagia, ciptakan realita sendiri. Jangan ikut didikte realita orang lain,” terang sosok yang supel ini. Kepalanya menengadah seperti teringat sesuatu, “Saya juga punya realita bikinan sendiri, yaitu surga di akhir nanti.” Ia tersenyum. Begitu pun saya. Saya kira beberapa orang di ruangan ini juga tersenyum.

Ia menyapu seisi ruangan. Nampak seperti ingin mengoreksi, “Tetapi tentu saya mikir juga, sih. Bagaimana kalau ternyata Tuhan dan surga itu tidak ada?” ia menepok jidatnya. “Wuaduh!” Ya, jika ternyata Tuhan dan surga tak pernah ada di alam lain sana, Romo Haryatmoko melewatkan semua kesenangan dunia ini.

“Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya rugi karena berbuat kebaikan untuk sesama di dunia.” Nampak senyumnya yang paling lebar.

Seisi kelas menyahut, “Distinktif!!!”