[PUISI] Seperti Layaknya Kita

Biarkanlah aku pergi jauh.

Tanpa memikirkan dirimu, dirinya, untuk kembali.

Tanpa harus memenuhi diriku,

untuk tumbuh sesuai keinginanmu.

Kelak, aku akan pergi jua.

Kini dan nanti, tak ada bedanya.

Jangan lah takut.

Kelak pasti aku kan kembali.

Setelah kuraih mimpi-mimpiku.

Setelah kutembus larangan-laranganmu.

Setelah kujawab semua ketakutan-ketakutanmu.

 

Aku melihat yang tak kau lihat,

Tidakkah kau lihat itu?

Aku berpikir apa yang tak terpikir oleh pikirmu,

Tidakkah terlintas di benakmu?

 

Oh, Ibu.

Impianku adalah terlarang bagimu, dan

aku akan tetap pergi.

Karena aku tidak hidup di masamu, Bu.

Karena aku tidak hidup dalam ketakutanmu, Bu.

Kau bilang, “Merasa puas lah,” tetapi

bahagiamu bukan lah bahagiaku.

Aku akan tetap menembus batas-batasku yang kau ciptakan.

Batas-batas tak terlihat, terbuat dari ketakutan.

Engkau takut akan sesuatu yang belum pernah kau rasakan,

aku tidak.

 

Oh, Ayah.

Mengingatmu adalah yang paling menyakitkan.

Kita berbeda dalam semua,

kecuali dalam spiritual.

Spiritualmu adalah keyakinan yang lurus,

punyaku adalah logika dan kemanusiaan.

 

Kumohon jangan,

kau suruh aku ini dan itu, kau larang aku ini dan itu.

Karena aku tidak berpikir sepertimu.

Karena semua perkataanmu tak sampai menembus kepalaku,

terlebih sampai di hatiku.

Bagiku, nasehat-nasehatmu adalah kegilaan.

Bagimu, kesukaanku adalah kesesatan.

Indah bagiku, setan bagimu.

Indah bagimu, buta bagiku.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri-negeri mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

setan-setan itu dengan mataku sendiri,

mengagungkan ritualnya seperti layaknya kita.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri mimpi-mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

pikiran orang-orang sesat yang telah kuselami itu,

merasa benar layaknya kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

[PUISI] ‘Ini’ – ‘Itu’

Ini-itu

Oh, kelezatan apa ini, ‘ini’?

Aku tidak bisa berhenti.

Ekstase memabukkan, ini surga dunia.

Dulu aku berpikir, karena adanya ‘ini’, wanita bisa jadi tak perlu menikah.

Setruman mengalir di darahku, dari bawah ke kepalaku.

Aku melepaskan semuanya biarkan otot kendur.

Seketika aku seperti merasakan terangkat ke udara.

Dengan bunga-bunga dan muka lembut bumi dibawahku.

Lalu aku mengulat, kemudian tidur.

 

Jika ini saja sudah enak,

Aku tak bisa membayangkan yang lebih lagi, ‘itu’.

 

Oh, ‘ini’ melekat di otakku.

Tak ada satu waktu pun hal ‘ini’ berada di luar aktif pikirku.

Tak sabar hatiku bertemu denganmu lagi, ‘ini’.

Aku tak pernah jauh-jauh dari ‘ini’.

Seperti anak muda yang merindukan datangnya waktu masturbasi –Ayu Utami.

Puisi ini ditulis pada tahun 2014 lalu.

[PUISI] Kayuh

Roda di bawah,

ku tangis ditindas.

Roda di atas,

ku tuntut diri sesak nafas.

 

Kutembus ruang dan waktu,

tidak terasa.

Tidak terasa,

berulang-ulang, menderu-deru.

 

Aku tahu, tanpa tahu

Apa yang ku tahu aku tuju

Aku tuju tanpa tahu

Ku tahu ku henti, lagi ku tuju.

 

Kira aku sudah lupa tentang,

drama-drama dan kelembutan

Tubuh makin matang,

pikiran makin awut-awutan.

Tiada lagi langit membentang,

Yang ada kait-mengait akar hutan.

 

Mengecap pengetahuan,

sekelebat lalu tak termaafkan.