[Perjalanan] Semeru, Perempuan, dan Gunung

7Apa tanda-tanda jika saya menyukaimu? tandanya adalah saya mau berbagi hal-hal favorit saya. Makanan, minuman, es krim kesukaan saya. Sama seperti postingan ini yang menceritakan saya yang berbagi petualangan dengan orang terdekat saya.

Meskipun saya memiliki banyak teman dan tergabung dalam banyak kelompok, hanya sedikit orang-orang yang dekat dengan saya. Saya memutuskan untuk liburan mengunjungi Gunung Semeru, Gunung tertinggi di Pulau Jawa, bersama sahabat saya yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, Shallyna. Ia seorang sahabat saya sejak di sekolah menengah atas. Ia telah memperkenalkan banyak hal kepada saya, dan kami telah mencobai banyak hal baru bersama. Saya pun ingin ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Selain itu, saya mudah bosan dan sering berganti-ganti suasana. Saya bukan tipe orang yang menghabiskan waktu di satu tempat atau satu kelompok saja. Itu pula sebabnya saya tidak mengajak teman-teman yang biasa mendaki gunung bersama saya. And we both knew if we do it, it is gonna be one of our best memories together in our lifeEspecially because of that is her first time.

Manusia takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya. Penentang yang paling bersikeras biasanya adalah orang yang tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu. Anak-anak muda Indonesia telah disuapi dogma mengenai pentingnya ijin orangtua sebelum mendaki gunung. Berbagai berita mengenai celakanya anak-anak muda yang mendaki gunung tanpa seijin orang tuanya marak beredar dari mulut ke mulut, hingga di media sosial. Mulai dari yang hilang karena tersesat akibat kabut tebal menghadang, jatuh ke jurang, hingga ‘disesatkan’ oleh makhluk astral. Berita-berita yang menarik banyak pembaca, namun menanamkan ketakutan massal tersebut juga menjangkiti orangtua kami. Dan benarlah, hambatan pertama datang dari orang yang paling kami cintai, yakni para Ibu kami. Ibu-ibu kami tidak pernah mengunjungi gunung.

Seorang Ibu akan melakukan apapun agar kita tidak pergi. Mereka saling bertelepon dan menyamakan pendapat. Mulai dari alasan yang logis seperti, berbahayanya hal tersebut karena Shally tidak pernah mendaki gunung sebelumnya dan ia akan merepotkan saya. Kemudian alasan yang mulai tidak logis seperti, berbahaya karena it is just two of us and we’re girls (and all of men we’ll find in the trip probably want to rape us). Hingga pernyataan final yang dipaksakan seperti perkataan seorang Ibu itu mengandung mukjizat, yang tanpanya kami tidak dapat kelancaran. Perkataan seorang Ibu itu dapat menjadi kenyataan, yang dengan sumpahnya kami tidak akan selamat.11Alhasil, karena mata kami hanya tertuju pada Semeru dan kebutuhan untuk bertualang di alam yang tak terbendung lagi, kami memutuskan untuk tetap pergi. Perasaan lega muncul ketika kami bertemu teman-teman baru di Jeep yang kami tumpangi dari Tumpang menuju Ranu Pane. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang dari kelompok inilah yang akan bersama kami selama beberapa hari kedepan. Kelompok kami berjumlah 11 orang, 6 orangnya dari Banyuwangi, dan 3 orang lainnya dari Jakarta. Kami tiba di basecamp Ranu Pane pada 4 Juli 2017. Kami baru mengetahui betapa Gunung ini menjadi sangat populer, akibat film 5 CM, hingga kuota pendakian Gunung Semeru dibatasi ‘hanya’ 500 orang saja perharinya. Kami tiba terlalu malam, sehingga tidak sempat me-booking dengan menaruh KTP kelompok di loket taman nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sehingga kami harus menunggu satu malam lagi. Dua malam tersebut merupakan malam terpanjang bagi kami, karena udara di Ranu Pane saat itu begitu dingin yang tidak memungkinkan kami untuk tidur nyenyak.

 

Berbeda lagi dengan siangnya, sebuah drama menyebabkan saya merasa tidak tahan melewatkan hari itu lebih lama lagi. Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar Desa Ranu Pane. Selesai mengunjungi sebuah danau, Ranu Regulo, kami melihat sebuah gapura dan arca yang cantik. Ternyata setelah didekati, tempat itu adalah sebuah pura. Pura Ulun Danu di Ranu Pane. Setelah menanyakan kepada seorang Bapak berkopiah, ia membolehkan kami untuk masuk kesana. Shally memasuki pura tersebut, sementara saya membaca tulisan tata tertib pura yang letaknya agak tersembunyi. Belum sempat saya mengobrol dengan teman saya mengenai isi dari tata tertib tersebut, seorang tua yang memakai iket udeng melesat cepat ke dalam pura. Ia menginterogasi dan memarahi teman saya. Terdengar bentakan-bentakan dari mulutnya, tubuhnya yang tua bergetar. Si tua penjaga pura ini mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Nampaknya ia merasa terhina karena tempat berdoanya ternodai oleh seorang muda yang masuk tanpa berpakaian rapi. Di situlah drama itu dimulai. Shallyna terus-menerus mengutarakan ketakutannya akan kesialan yang bisa datang. “Kejadian tadi siang itu merupakan sebuah tanda,” katanya bersikeras. Saya nampak tidak mau mendengarkannya. “Hal-hal yang unik seperti ini yang harus kita perhatikan,” ia mengulangi saran seorang gadis yang telah mengikuti Open Trip ke Semeru. Jelas lah si gadis berkata demikian, karena saya mengetahui dalam sebuah Open Trip selalu ada seorang guide yang menginformasikan mitos-mitos setempat. Dan saya tidak percaya mitos. Saya telah mendengar curahan hati Shally mengenai ketakutannya akan kesialan yang akan menimpa karena tidak memiliki restu Ibunya saat perjalanan di kereta. Dan sekarang saya harus mendengarkan spekulasi-spekulasinya mengenai bencana yang akan menimpa kami. Hal ini merupakan energi negatif dan buruk bagi saya. “Biasa lah Shel, orang tua tadi tuh cuma mengabdi sama agama, jadi tingkahnya begitu. Gampang tersinggung,” hibur saya. “Kalo ada apa-apa sama gue emang Lo mau tanggung jawab? Nggak kan?” WTF. Ia mulai bertingkah seperti mamanya dan Ibu saya. Menimpakan hal ini kepada saya, seakan saya satu-satunya yang harus bertanggung jawab jika nanti terjadi apa-apa padanya. “Yaudah, kita lihat saja. Kalau di perjalanan Lo sial, kita pulang saja” Tentu saja saya tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Pulang setelah perjalanan 17 jam di kereta? No way. Kemudian ia merajuk, “PULANG? Itu saja yang bakal Lo lakukan?” That was really hitted my nerve. “Mut, ya emang bener kan, kalau di tempat-tempat kayak gini tuh harus perhatiin hal-hal kayak tadi. Karena memang masyarakat sini masih percaya banget sama hal-hal kayak gitu”. Saya hanya dapat berkata dalam hati karena malas berdebat saat itu, “Tetapi itu bukan kepercayaan saya. Itu kepercayaan mereka. So, it has nothing to do with me.”

Setiap gunung di Indonesia memiliki mitos-mitos. Warga lokal akan melarangmu ini dan itu, menceritakanmu tentang hantu yang ini dan yang itu. Saya menghormati kepercayaan mereka yang mengandung kemistisan itu, tentu saja, tetapi itu bukan kepercayaan saya. If you become upset about what they say, you wouldn’t get anywhere. Lagipula, kesialan dapat diantisipasi dengan persiapan yang baik dan sikap hati-hati.

Suasana tegang diakhiri dengan ngobrolin soal ‘tenda goyang’, yang mungkin merupakan salah satu yang dapat kami tangkap dari dari ucapan teman-teman dari Banyuwangi. Mereka berbicara Bahasa Jawa dan kami tidak mengerti. Meskipun begitu, kami cukup puas dengan mereka berusaha menerjemahkan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Kembali lagi ke tenda goyang, saya dan Shally sama-sama ingin melakukannya suatu hari nanti. I have been wanting that since a long time ago, actually. “Tapi nggak di gunung di Indonesia. Mistis, sih,” kataku. “Iya, katanya hantu tuh nggak suka wilayahnya dinodai sama sex”. Meskipun saya tidak suka memercayai hal semacam itu, saya tetap saja tidak mau dijailin dengan tidak dapat dilepasnya penis siapapun itu dari kemaluan saya!

Saya kira perjalanan ini tidak mengecewakan, Semeru memang seindah yang ada di foto-foto yang ada di penelusuran google (google image). Tiket kereta yang tiga kali lipat lebih mahal karena kami kehabisan tiket, sungguh terbayar. Kami mulai mendaki pada tanggal 6 Juli dan selama 3 hari kedepan, kami sungguh beruntung mendapatkan cuaca sangat cerah. Kami tiba di Ranu Kumbolo pada saat paling indahnya, yaitu saat sore hari. Padang ilalang di sekitar Ranum menjadi padang berwarna keemasan, dan pancaran biru gelap air danau tampak begitu meneduhkan. Tentu saja, kami menyempatkan langsung mengabadikannya dalam foto. Tidak hanya Ranu Kumbolo, sepanjang jalur dari entry point Desa Ranu Pane menuju Mahameru sangat indah! Tentu saja, karena tidak berkabut. KAMI SANGAT BERUNTUNG. Mulai dari bukit dan tebing karst dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo, kemudian padang rumput dan bunga lavender di Oro-oro Ombo, pohon-pohon cemara di Cemoro Kandang, padang bunga edelweiss di Jambangan, berkemah dengan view Gunung Semeru di Kalimati, hingga pemandangan yang dapat terlihat di.jalur summit Puncak Semeru yang luar biasa indah.

2

8

9

Setelah Shally dan rombongan dari Banyuwangi mengantarkan saya dan ketiga orang dari Jakarta Timur, kami pamit di bawah rindang pohon-pohon cemara, di perbatasan antara Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo. Shally memutuskan untuk tidak summit karena mengejar kereta yang telah ia beli tiketnya. Ia hanya memiliki 1 hari lagi yang akan dihabiskan untuk mengunjungi Bromo.

Saya tidak akan menceritakanmu mengenai summit ke Mahameru. Biar itu menjadi kejutan buatmu juga. Yang akan saya ceritakan disini ialah saat saya hendak sampai di puncak, yang saya tempuh 7 jam lamanya, sehingga saya memandang sunrise ketika masih di kemiringan. Eric, teman jalan saya yang juga dari Jakarta, menjabat seorang tua yang adalah kenalannya. Bapak-bapak itu juga menjabat tangan saya. “Berapa lama, Bang, summit-nya?” Dengan malu-malu kucing ia menjawab, “Empat atau lima jam, gitu”. Saya dan teman-teman takjub mendengarnya. Seorang tua ini mestilah seorang ahli dalam mendaki gunung. Eric menjawab merendah, “Wah, kita yang muda-muda aja tujuh jam, Bang”. Seorang tua ini kemudian melirik saya sambil tersenyum, “Maklum lah tujuh jam, bawa wanita soalnya”. Mata saya menyipit mendengarnya, memandanginya lekat-lekat. Dasar orang tua seksis.

12

13

Memang saya tidak ikut bergantian membawa satu carrier kecil yang dibawa kelompok kecil saya, namun saya sama sekali tidak membebani tim dan membawa air minum  summit saya sendiri. Malah, saya berjalan di paling depan. Jika saat itu saya tidak berjalan sendirian alias mendaki bersama lingkaran kawan naik gunung saya, saya tidak akan mengetahui tentang hal ini. Saya tidak menyalahkan Si Tua itu juga, karena memang inilah yang terjadi di kalangan pendaki-pendaki di Indonesia, di luar kepecinta-alaman. Mereka menganggap mendaki gunung adalah olahraga laki-laki. Karena itulah rombongan dari Banyuwangi tidak mengajak pacar-pacarnya. “Takut nggak kuat, Mbak” jelas Yordan, salah seorang anak rombongan dari Banyuwangi, lelaki yang supel dan menyenangkan. “Ama itu, takut kena penyakit kedinginan itu…”. “Hipotermia,” imbuhku. Eric juga tidak mengajak pacarnya. “Wah, bahaya!” sahutnya. “Takut nagih, ya?” tanya Bongki, juga teman jalan kami. “Pasti nagih, nanti jarang di rumah,” Eric menambahkan. Bukan hanya itu, dalam sebuah angkot di perjalanan pulang di terminal Bekasi-Pulogadung, saya juga ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain. Katanya, mereka direpotkan dengan membawakan carrier teman-temannya yang perempuan. Seorang lelaki yang mengambilkan beberapa botol air Ranu Kumbolo untuk Shally juga bercerita yang serupa. Alhasil, mereka semua jadi kapok mengajak teman-teman perempuannya lagi.

Saya tidak berbicara mengenai kemampuan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan seharusnya berhenti melemahkan diri, atau mengambil kesempatan dari enaknya jadi perempuan (meskipun saya juga terkadang melakukan itu) untuk dapat mencapai kesetaraan. Mempersiapkan diri sebelum pendakian dengan jogging dan latihan fisik menjamin tidak akan merepotkan selama perjalanan. Kemudian, jangan pernah mengiyakan keterbatasan-keterbatasan karena lahir dalam tubuh perempuan. Contohnya, mamamu melarangmu naik gunung karena kamu seorang perempuan. Memangnya semua laki-laki ingin memperkosa? Atau, mamamu melarangmu naik gunung karena jika kamu dapat naik gunung, tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu karena kamu adalah perempuan yang kuat. Well, if  he does not like you, he is simply not your type.

Terakhir, saya senang telah mengajaknya naik gunung untuk pertama kali. Mengapa? Dulu, saya pernah berpikir bahwa saya akan capek jika harus mengikuti gaya hidupnya di masa depan. Shally adalah orang yang cenderung suka hedon. Contohnya makan di restoran fancy dan membeli tas-tas branded. Dan ia akan menjadi seorang dokter. Kami sahabat sejiwa dan tahu hanya maut yang memisahkan kami. Saya senang nantinya kami tetap bisa melakukan hal yang cocok untuk dilakukan berdua. Kini, sepertinya ia lebih berkeinginan menghabiskan uangnya untuk naik gunung daripada untuk hobinya yang lalu.

10

 

 

Advertisements

Berarung Jeram di Cisadane, Solusi Liburan Singkat yang Menantang

Pada hari Sabtu, 1 April 2017 kemarin, saya dan teman-teman caang (calon anggota) dalam rangka magang BKP MAPALA UI baru saja mengarungi Cisadane. Berbagai latihan sebelumnya telah kami jalani di Danau UI, kini kami tinggal mengaplikasikannya di sungai sungguhan ini. Pagi yang cerah itu, di bawah jembatan, kami awali dengan berenang aktif menyeberangi salah satu titik arus utama sungai. Jika saat latihan di Danau UI kami tiba di titik  seberang sesuai keinginan kami, maka di sungai, meski telah mengantisipasi dengan berenang 45 derajat menuju ke arah berlawanan dengan arus, tetap saja kami terseret beberapa meter! Latihan mendayung dan menggerakkan perahu membelah arus sungai juga tidak semudah yang dibayangkan. Meski telah mendayung kuat-kuat, perahu kami rasanya seperti hanya berjalan di tempat saja, tak kunjung berpindah tempat! Pada detik itu juga saya mengetahui bahwa kami tidak bakal hanya tinggal mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan. Sungai sama sekali berbeda dengan danau. Terdapat jeram-jeram yang menantang untuk dilewati dengan tetap menjaga perahu tidak oleng, juga pemandangan ‘liar’ Cisadane yang siap untuk dinikmati.

18740206_1931682867111799_8928991406153568078_n

Sebelum mengarungi jeram terbesar di sungai ini, kami semua turun dari perahu untuk menyusun strategi terlebih dahulu. Pertama, kami menentukan sungai bagian mana yang akan kami lewati, pergerakan apa yang akan kami lakukan dengan jalur sungai yang kami pilih, dan menentukan titik pelempar tali untuk berjaga-jaga jika ada orang yang terjatuh dari perahu saat mengarungi jeram ini.

18740451_1931682580445161_7183051321566364286_n

Dayung diangkat ke atas oleh orang yang berada di daratan, pertanda dokumenter dan pelempar tali telah siap dan tanda untuk tim perahu agar mulai mengarung. Perahu karet Aire merah merayap perlahan dari bibir sungai. Semakin mendekati jeram, awak perahu mendayung makin cepat nan kuat. “Pancung kiri!!!” komando kapten perahu, menyuruh awak perahu terdepan kiri untuk membelokkan perahu ke kanan. Pancung terlambat dilakukan dan perahu menabrak batu besar. Perahu oleng dan benar saja, jeram ini cukup kuat hingga berhasil menjatuhkan dua orang kapten perahu dan seorang awak perahu! Lemparan tali yang dilemparkan dari daratan tidak bisa menggapai awak yang terseret arus. Setelah berada di arus yang lebih tenang, seorang kapten perahu melakukan penyelamatan diri dengan berpegangan pada tali perahu dan mengangkat dirinya ke atas perahu. Setelah itu, satu persatu awak yang jatuh ditarik naik kembali ke perahu.

DSCF9080

Sinar matahari memantulkan kilau-kilau pada permukaan air sungai. Ketika matahari telah berada di atas kepala dan jeram-jeram besar sudah mulai habis, kami menikmati pemandangan Cisadane yang liar tak terawat. Sesekali berteduh di bawah dahan-dahan pohon yang memayungi pinggir sungai. Permukaan air tenang, dayung menyelam rendah dan perahu bergerak lambat. Sejauh mata memandang, terlihat muka sungai dan langit yang luas di atas tebing dan rimbunan pohon. Secara alami, rimbunnya pohon-pohon dan tebing-tebing yang melingkupi sungai memperindah pemandangan.

Mengamati pemandangan Cisadane beserta aktifitas warga lokal di sekitar sungai bisa menjadi hal yang mengasyikkan. Sering terlihat beberapa orang warga lokal yang sedang beraktifitas memanfaatkan sungai. Beberapa orang memancing, beberapa lainnya mandi dan mencuci. Perahu harus bergerak lihai menghindari tali-tali pancing yang tersebar di atas permukaan air sungai. Ada juga warga yang lalu lalang dengan kayu bakar sebagai pelampungnya. Ngarung dan menikmati pemandangan akan lebih asyik lagi jika seandainya sungai Cisadane ini bersih. Sayangnya, pada beberapa titik, terutama di titik yang terdapat pemukiman penduduk, terlihat sampah-sampah mengambang di permukaan sungai dan berserakan di bibir sungai.

Sungai Cisadane memang cocok untuk diarungi oleh para pemula. Sungai yang memiliki tipe pull and drop, yaitu jenis sungai dengan arus relatif tenang dengan jeram di beberapa titik. Berarung jeram di Cisadane tidak hanya menawarkan asyiknya terlompat di atas perahu karet, tetapi juga pemandangan yang menarik. Entry point sungai untuk berarung jeram berada di bawah jembatan Ciampea dan berakhir di Kampung Pasir sebagai exit point-nya. Kamu dapat mengarungi 9 km dari sungai ini selama 2 jam. Lokasi sungai ini tak jauh dari pusat kota. Sungai ini dapat ditempuh hanya beberapa jam dari Jakarta, sehingga berarung jeram di sungai ini sangat pas untuk menjadi pilihan kegiatan pengisi akhir pekanmu.

“Mengarungi tenangnya Cisadane ditemani liarnya pemandangan Cisadane. Seliar para Abah yang hanya pakai kancut mancing di bibir sungai, dan perahu kami harus meliuk lincah menghindari tali-tali kail pancingan di atas permukaan sungai. Seliar perempuan dengan tetek bergelantungan karena BH-nya tersangkut di ranting-ranting pohon, memayungi perahu kami yang berteduh sejenak.”

Fitri Muthi’ah Hanum, CAM 029

[Perjalanan] Lega dan Resah dalam Penantian

Saya mempercepat langkah saya hingga kecepatan maksimal, sesekali berlari-lari kecil. Apapun yang ditemui oleh kaki saya di dalam sepatu yang basah, baik batu maupun lumpur di sungai ini, saya terjang. Sumpah serapah terucap karena kaki saya terantuk batu-batu kali akibat licinnya batu yang dialiri arus sungai. Erangan kecil kekesalan muncul saat saya berusaha melepaskan diri dari lumpur yang mencengkeram hingga sedalam lutut, menghambat pergerakan saya. Batin saya mengutuk kerikil-kerikil sungai yang masuk ke dalam sepatu, menyiksa telapak kaki saya di tengah pengejaran yang saya lakukan ini. Saya tidak peduli lagi. Saya harus bertemu kembali dengan Tim Bikun secepatnya. Handy talky (HT) ada di tangan saya, sementara Tim Bikun 4, Tim Bikun yang sedang bertugas, berada jauh di depan. Ya, saya tertinggal tim saya. Sebuah tim tanpa memegang alat komunikasi yang menghubungkan antara tim satu dengan tim lainnya dapat berakibat fatal.

1496148106329

Hari ini adalah hari Selasa, 31 Januari 2017. Hari ini saya bertugas sebagai pemegang komunikasi dalam Tim Bikun. Tim Bikun adalah call sign dari sebuah tim kecil yang melakukan blitz dan orientasi medan. Blitz dilakukan oleh tim kecil yang terdiri dari navigator, bacoker atau seseorang yang membabat vegetasi penghalang jalan dengan tramontina, step counter, dan komunikator untuk mencari membuka jalan lebih dulu di depan Tim Besar, bertujuan agar mempercepat pergerakan Tim Besar nantinya. Sementara itu, orientasi medan adalah memastikan secara langsung medan atau alam yang sebenarnya dengan yang tergambar pada peta topografi. Tugas Tim Bikun pagi ini adalah menyusuri sungai yang sesuai dengan yang tertera di peta, kemudian mencari punggungan naik menuju emergency exit point (EEP). EEP adalah jalan yang telah di-plotting menuju desa terdekat dari tempat kami berada. EEP tujuan kami adalah dusun Jampit di Desa Mlaten.

“Ioo!” Suara saya bergema, berloncatan dari satu sisi tebing ke sisi tebing lainnya di atas sana, kemudian teredam oleh suara arus sungai. “Iooo!!!” teriak saya sekencang-kencangnya. Tidak ada jawaban. Suara saya tak dapat mengalahkan suara arus sungai ini. Alhasil, saya berlari secepat yang saya bisa, terus menyusuri sungai. Sekelebat pikiran mengenai sebab mengapa saya terpisah dari tim saya hilang – muncul, entah akibat tugas ganda yang saya lakukan sebagai komunikator dan step counter, atau karena menunggu pemasangan safety line oleh salah seorang teman yang bertugas sebagai rescuer… hingga akhirnya, lega rasanya, ketika saya bertemu dengan navigator dari Tim Bikun 4.

Kepadanya saya mengabarkan keberadaan tim bikun selanjutnya yang akan menggantikan kami, mengingat sudah hampir satu kilometer kami berada jauh meninggalkan Tim Besar. Saya bilang pada Nano, call sign bagi PJ Navigasi tersebut, bahwa Tim rolling telah bergerak menuju kesini. Melalui HT, saya kemudian menyuruh Tim rolling untuk mempercepat pergerakan. Tak lama, teriakan khas MAPALA UI samar-samar terdengar. Sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang mendengarnya untuk menjawab. “Ioo!” balas kami.

Terlihat lah batang-batang hidung dari Tim Bikun 1 atau tim yang akan menggantikan kami bertugas blitz pada pagi menjelang siang hari ini. Namun saat ini bukan lah waktu istirahat bagi kami, Tim Blitz 4, karena kami masih harus mengambil carrier kami yang kami tinggalkan di belakang. Kami meninggalkan carrier kami di bawah turunan curam, di dekat pertigaan sungai pertama, di samping padang jelatang. Tim yang bertugas sebagai tim blitz seringkali sengaja melepaskan carrier masing-masing agar pergerakan lebih cepat dan lebih maksimal dalam membuka jalan di daerah yang belum terjangkau sebelumnya. Saya mendesah. Mengambil kembali carrier berarti harus kembali bergerak ke belakang dan kembali lagi ke depan. Itu berarti harus melewati sebanyak dua kali hal-hal menjengkelkan berikut ini: Menyusuri sungai beserta isinya yang menyandung dan memerangkap kaki, masuk ke dalam dan keluar dari sungai kemudian melewati tanah licin karena terdapat batu kali besar atau jeram kecil yang tidak bisa dilewati, dan harus melewati sisa-sisa padang jelatang, yang, meskipun telah kami tebas sebelumnya, masih dapat menusuk kulit di balik pakaian kami dan menjadikannya terasa panas dan gatal.

1496148102576

Jika saja saya tak harus terburu-buru saat ini karena harus menyusul Tim Besar yang telah berada di belakang Tim Blitz 1 di depan sana, tentu saya akan jalan perlahan. Jika saya tidak perlu menyusul tim besar, saya lebih memilih untuk menikmati lembah perawan ini. Lembahan ini tidak berbau busuk pemakaman seperti tubuh dan carrier kami yang berselimut tanah, tetapi bau segar air sungai. Pohon dengan dahan-dahannya yang ramping memayungi sungai ini. Sinar matahari terselip di antaranya. Tebing-tebing menjulang tinggi berdiri kokoh di kedua sisi lembahan ini seperti prajurit pribadi kerajaan…

Akhirnya, pada pukul 12.30, saya dan Tim Bikun 4 sampai di tempat Tim Besar berada, dengan carrier di atas bahu kami. Saat itu, Tim Besar sedang beristirahat. Di sisi sebuah sungai antara dua tebing yang menjulang tinggi di dalam lembah ini, saya ikut beristirahat untuk makan siang bersama Tim Besar. Menu makan siang itu hanya oatmeal dengan susu, namun suasana lokasi di mana kami beristirahat saat itu menambah nafsu santap siang kami. Rumput hijau adalah tempat kami duduk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil kami masing-masing. Lumut hijau terang menghiasi dinding tebing. Suara kami mengobrol sambil mengunyah makanan dalam mulut kami beradu dengan suara gemericik aliran sungai. Suara burung samar-samar menyahut, berbisik-bisik, dari atas sana, mengintip rombongan asing yang makan dengan kalap.

Hari itu merupakan hari kesembilan kami berada di dalam hutan. Setelah tadi malam Tim Besar sudah satu suara bahwa rute Emergency Exit Point menjadi target pergerakan kami selanjutnya, jujur saja, kini mulai terbit lagi semangat saya dan beberapa Caang (calon anggota) untuk kembali melanjutkan perjalanan. Bagaimana tidak, kami telah melewatkan tiga hari tersesat mencari punggungan turun checkpoint kelima yang cukup membuat frustrasi!

Tidak banyak waktu istirahat yang dimiliki jika kamu sedang bertugas sebagai tim yang melakukan blitz. Waktu istirahat Tim Bikun lebih cepat lima hingga sepuluh menit daripada Tim Besar yang biasanya memiliki waktu istirahat selama setengah jam. Rasanya baru saja saya tiba dan mengeluarkan peralatan masak kelompok kecil. Saya benci ketika orang-orang sudah bersiap lengkap dengan carrier mereka yang telah dibopong di punggung, buckle yang telah di-adjust serta strap belt yang telah mereka pasang, sementara saya masih memasukkan kembali sendok, garpu, kompor, gas, dan trangia kembali ke dalam carrier dengan terburu-buru. Apalagi, pada waktu yang lain, saya beberapa kali menjadi orang yang in charge menjadi Alpha dalam komunikasi pada skenario jalan Tim Besar. Alpha merupakan salah satu orang yang membawa HT, menjadi orang yang paling depan dari Tim Besar, dengan posisi jalan tepat di belakang Tim Bikun.

Keterlambatan tersebut karena tidak adanya kesepakatan mengenai pembersihan kembali alat-alat makan kelompok seperti sendok, garpu, dan trangia. Tanpa adanya kesepakatan bahwa masing-masing orang dalam kelompok kecil harus membersihkan alat makannya masing-masing, hal tersebut menjadi dibebankan kepada pembawa barang tersebut, yaitu saya. Hal itu terjadi juga karena wadah makan kami menggunakan trangia yang merupakan barang bawaan kelompok, bukan tempat bekal masing-masing. Jika saja kami makan menggunakan tempat bekal pribadi, para anggota kelompok saya akan membersihkan wadah makannya sendiri karena akan di-packing kembali ke dalam carrier mereka masing-masing. Kedepannya, saya harus membuat aturan mengenai hal-hal sepele macam itu.

Akhirnya, dengan rasa lelah yang masih tersisa dari blitz tadi, bahkan tak sempat mengeluarkan kerikil-kerikil dari dalam sepatu, saya menyusul Tim Bikun yang telah bergerak. Hujan turun ketika saya bergabung kembali dengan Tim Bikun 4. Alhasil, hanya lima orang saja yang ditunjuk oleh seorang Caang yang merupakan penanggung jawab (PJ) teknis untuk orientasi medan, memastikan bahwa punggungan yang dipilih oleh Nano Kecil, penanggung jawab navigasi harian, menuju desa EEP atau tidak. Saya tidak termasuk di dalamnya. Penunjukkan lima orang saja ini didasarkan oleh sangat terjalnya kemiringan punggungan yang akan Tim Besar naiki tersebut, sehingga harus dipasang sistem safety line oleh Tim Rescue caang. Melalui saya dan saya lanjutkan pesannya terhadap Alpha yang berada dalam Tim Besar dengan HT, PJ Teknis memerintahkan Tim Besar untuk membangun flysheet untuk berlindung dari hujan. Punggungan yang diperkirakan sebagai punggungan EEP tersebut terletak pada deretan tebing. Hujan deras juga membuat tanah semakin licin hingga memperbesar resiko terjatuh. Sistem safety line merupakan sistem yang terdiri dari beberapa webbing yang telah disambung-sambungkan ujungnya dan dikaitkan atau dibuat anchor pada sebuah pohon yang kuat, kemudian dibuat loop pada jarak yang konsisten sejauh raihan tangan sebagai stopper atau pegangan dari pengguna safety line tersebut. Singkatnya, safety line adalah rangkaian tali pengaman dari webbing untuk pegangan para pendaki di tebing atau punggungan terjal.

Saya pun kembali ke tempat Tim Besar berada, setelah sebelumnya, tentu saja,  mengeluarkan kerikil-kerikil dalam sepatu. Di sana, yang mana masih di tempat kami makan siang tadi, Tim Besar sedang duduk berlindung di bawah flysheet. Dengan minuman hangat yang digilir, kami bernyanyi tentang rindu dan cinta. Cukup lama saya dan Tim Besar duduk kedinginan sambil bernyanyi, menunggu kelima Caang tangguh yang sedang berjuang di sana. Dari komunikasi kami dengan tim yang sedang melakukan orientasi medan dan memasang safety line, saya mengetahui bahwa ada dua HT yang baterainya habis. HT yang dipegang saya dan HT yang dipegang oleh Charlie, call sign dari seseorang pemegang alat komunikasi dengan posisi jalan paling belakang dari Tim Besar. Habisnya baterai HT kami itu saya ketahui dari waktu transmit yang hanya bertahan selama 2 detik. Setelah saya mencoba membetulkannya dengan mengganti baterainya, salah satu HT menjadi korslet akibat masuknya bulir-bulir air ke dalam HT. Memang, HT tidak bisa bertahan akan basah sedikit apapun. Saya tidak bisa mengganti baterai HT lainnya karena hanya memegang satu set baterai cadangan.

Hal yang baik dengan datangnya hujan lebat ini adalah melegakan rasanya, saya dapat mengeluarkan kerikil yang sejak tadi mengganggu pergerakan saya. Hal buruknya adalah kekhawatiran akan perpanjangan  hari kami berada di gunung yang muncul, mengingat kami bisa saja tersesat lagi atau tidak menemukan punggungan EEP dalam waktu yang lama. Ekstensi hari, hal tersebut merupakan ketakutan terbesar saya saat itu. Sekelebat tentang momen-momen perjalanan panjang ini sejak hari pertama terulang kembali. 0% kenyamanan, itulah gelar yang disandang oleh perjalanan ini menurut saya. Bukan karena kami tidak sempat mandi selama berada di gunung, melainkan hujan deras yang mengguyur setiap harinya membuat udara berkali lipat lebih dingin. Kami harus memakai kembali baju trekking yang basah akibat hujan hari kemarin setiap pagi. Gigitan serangga agas, serangga yang muncul di tempat lembab, memiliki bentuk serupa nyamuk dengan ukuran lebih kecil, namun dengan efek gigitan yang lebih parah, mengakibatkan bentol dengan rasa gatal dan perih yang luar biasa pada kulit kami. Beberapa caang yang tidak rajin mengganti sepatu yang basah dengan sandal supaya kering serta tidak membersihkan kaki saat di tempat berkemah juga terserang penyakit kutu air. Selama kami masih berada di gunung, kami hidup was-was dengan bayang-bayang penyakit kutu air yang terus menghantui karena mudah menularnya penyakit tersebut.

1496148100254

Momen-momen ketidaknyamanan tadi membuat saya rindu Ibu saya. Mungkin karena Ibu lah yang selama ini menyediakan kenyamanan bagi saya, baik secara materi maupun imateril. Ada juga dari sekelebat kilas balik tadi yang membuat saya tertawa kecil ketika mengingatnya. Tentang tangan-tangan kami yang menengadah ke langit ketika secuil sinar mentari muncul. “Di Depok, matahari dikutuk, di sini matahari di sembah,” begitu celetuk salah seorang Caang yang saya ingat.

HTKira-kira pada pukul 15.30, Tango, call sign untuk PJ Teknis berujar, “Safety line telah selesai dipasang. Tim Bikun 4 tolong segera kesini untuk orientasi medan lagi di atas sana”. Itu merupakan panggilan untuk saya juga. Pekerjaan masih banyak. Nanti malam, HT-HT yang rusak harus kembali dibetulkan dengan cara dikeringkan. Terbayang betapa terjalnya punggungan yang akan kami lewati, dilihat dari waktu pemasangan safety line yang lama. Punggungan EEP juga masih belum ditemukan. Tetapi setidaknya, kerikil sudah dikeluarkan. “Often, it isn’t the mountains ahead that wear you out, it’s the little pebble in your shoe.” – Muhammad Ali.

Tulisan ini dimuat dalam buku kumpulan feature Perjalanan Panjang BKP Mapala UI 2016, “Pengembaraan: 11 Hari Hidup di Belantara”. Buku tersebut berisi 19 buah feature yang disusun berdasawarkan waktu terjadinya peristiwa. Membacanya dari awal seperti menyusun puzzle mengenai perjalanan kami.

Link Buku feature: https://drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnczJsVFFlZnljbDQ/view

Link Gallery Book Perjalanan Panjang: https://www.drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnbnc2Z1h5X0JwU28/view

[Perjalanan] Walah, Navigasi!

Rombongan caang (calon anggota) Mapala UI beserta panitia BKP (Badan Kepengurusan Pelantikan) 2016 disambut oleh udara dingin setibanya di Agrowisata Gunungmas. Saat itu hari sudah gelap, sorot headlamp satu-persatu nampak berpendar. Navigasi dan komunikasi merupakan materi yang akan kami pelajari dalam perjalanan kedua kami dalam BKP 2016 ini.

Sejujurnya, perjalanan kedua ini cukup membuat saya berdebar bahkan sebelum dimulai. Pasalnya, saya bodoh dalam matematika dan asing dengan derajat, koordinat, azimut, dan kawan-kawannya. Memang saya hadir dalam materi navigasi, namun rasa kantuk pada malam penyampaian materi itu menghalau materi tersebut untuk nyantol di kepala saya. Dan memang, mentor saya, Irvan, M-952-UI, telah mengajari kami sebelum perjalanan ini dimulai, namun semua materi yang diberikan tersebut seperti mengawang di udara.

1480346056489.jpg
Dag dig dug.. jderrr!!

Sebelum kami, para caang, mendirikan tenda di kawasan agrowisata, seluruh handphone kami dikumpulkan. Panitia tentu telah memperkirakan bahwa akan ada caang yang tricky dengan bernavigasi secara otomatis lewat  gadget miliknya. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi saya semenjak saya asing dengan perpetaan, menggunakan google maps saja sangat jarang. Saya lebih suka merepotkan orang di sepanjang jalan dengan bertanya dimana letak tempat tujuan ketika bepergian. Jadi, dengan enteng saya serahkan handphone milik saya.

Kali ini, bukan lambung nyaman Big Dome lagi tempat saya terlelap. Kini, saya dan kelompok enam perjalanan dua saya yang terdiri dari Apoy, Ben, Fauzan, Putri, Verdy, dan saya sendiri tidur di dalam Java four. Tiada yang mempercayai Apoy yang telah berusaha meyakinkan bahwa tenda tersebut mempunyai kapasitas maksimal untuk enam orang. Kenyataan bahwa Apoy telah tidur bersama enam orang lainnya yang berbadan lebih besar dari kami semua pada perjalanan satu kemarin juga sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, dua orang dari kami lebih memilih tidur di teras daripada berjejalan dalam tenda ini pada malam yang berbeda.

Sebagai orang yang bangun paling awal pada pagi pertama, saya langsung menyiapkan peralatan masak sambil kepala menengadah langit. Hamparan bintang terang dalam kegelapan seakan memayungi barisan tenda kami, visual indah tersebut terekam dalam benak saya. Hamparan langit luas tanpa apapun yang menghalangi, itulah salah satu hal favorit saya saat naik gunung. Tidak lama kemudian, ketika saya ingin berbagi pemandangan indah tersebut kepada manusia-manusia di dalam tenda yang sudah mulai grasak-grusuk, tiba-tiba awan dengan cepat menelan seluruh hamparan bintang di langit. Di langit, gemerlap payung bintang tergantikan dengan kabut abu-abu kuburan. Dahi yang mengernyit bukan pertanda saya telah meramal bahwa hari itu akan menjadi hari dimana, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berdaya.

Dalam perjalanan dua ini, kami bertugas untuk mencari dan menemukan checkpointcheckpoint yang tersedia di sepanjang jalur menuju puncak Gegerbentang. Cp-cp tersebut tentu saja hanya diberi tahu koordinatnya. Banyaknya ada enam checkpoint, itu berarti ada enam kertas tersembunyi di setiap checkpoint yang harus ditemukan sebagai bukti kami telah melewati tempat itu. Jika pada perjalanan satu BKP 2016 dua minggu yang lalu kami hanya mengikuti jalur yang tersedia, kali ini kami membuka jalur di beberapa titik. Caang telah dibagi kepada dua kelompok besar dengan jalur yang berbeda. Jalur Joglok dan Jalur Gedogan. Tim yang lebih dulu sampai ke checkpoint terakhir, yang mana berada di Puncak Gegerbentong lah yang menjadi pemenang.

Saya geli jika teringat bagaimana saya mencari checkpoint pertama. Di peta jalur kami yang telah di-highlight, sudah jelas bahwa letak Cp 1 belum menaiki punggunggan. Namun, saya dan beberapa teman ikut naik punggungan dan tentu saja tidak menemukan apa-apa. Setelah lebih dari satu setengah jam mencari, waktu habis dan kami langsung melanjutkan mencari Cp berikutnya. Belakangan saya mengetahui bahwa Cp1 masih terletak di kawasan wisata Gunungmas, tepatnya berada di mulut punggunggan sebagai entry point punggunggan, gerbang gunung yang seharusnya dari sana kami masuk. Setelah menemukan beberapa Cp berikutnya, kami menyadari bahwa Cp-cp yang kami cari tersebar di titik-titik ekstrem: di punggungan, di lembahan, di saddle, di pendilan, dan di puncak.

Dari yang tidak tahu-menahu apa-apa; apa yang harus saya lakukan dalam orientasi medan? mengapa saya harus naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukannya? Kemana saya harus pergi selanjutnya? Saya jadi tahu. Layaknya pembuatan alat musik gamelan, otak saya yang bekerja sangat lambat dalam navigasi ini perlu waktu dan dalam penempaannya menghasilkan kemajuan (yang sangat) sedikit demi sedikit (sekali).

1480346122957
“Dimana checkpoints beradaa?”  kiri-kanan: Selli, Ichaw, Ghozi, Tita, Putri, saya, Ojan, Ben, Apoy.

Dalam pencarian checkpoint kedua hingga keempat, saya masih meraba-raba untuk dapat memutuskan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ketika itu rasanya saya masih mengekor saja di antara teman-teman caang lainnya, sekeras apapun saya berusaha untuk aktif. Bukannya tidak antusias dan lantas menyerahkan peran bernavigasi kepada anak-anak Adam semata, melainkan rasanya saya belum bisa mengimbangi ritme pergerakan navigasi teman-teman yang lain. Ketika Apoy dan Ben, dua orang paling berjasa dalam perjalanan navigasi jalur Gedogan ini (yang juga anggota  kelompok saya), telah memperdebatkan suatu hasil yang mereka peroleh, saya masih menanyakan kepada mereka cara mereka memperoleh hasil itu.

Mentor kelompok kami, Irvan, terus mendorong saya dan Putri, perempuan dalam kelompok enam untuk turut aktif bernavigasi. Malah, Irvan meneriaki saya untuk mengeluarkan pendapat saya. “Muti, ayo keluarkan pendapatmu!” ujarnya spontan. “Yah, kalau bisa…” jawab saya seadanya, pahit. Sebagai seorang feminis, saya benci merasa tidak berdaya.

Baru pada hari pencarian dua Cp terakhir, hari dimana para mentor membuat ladies day demi meningkatkan peran para caang perempuan dalam perjalanan dua ini, saya mulai tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Saya senang caang perempuan  dapat membuka jalur dan marking dengan tramontina, juga melakukan blitz untuk orientasi medan. Setelah itu, istilah-istilah dalam bernavigasi rasanya tidak lagi seperti alien lagi bagi saya. Learning by doing, kalimat klise dan simpel yang diucapkan mentor kami kini terdengar relevan.

Saya memercayai ruh yang sama ditiupkan kepada wanita dan pria, yang membedakan adalah tubuh biologis. Karena itulah posisi push-up kami berbeda, tetapi kemampuan kami bisa menjadi sama. Namun, dengan nilai-nilai dalam masyarakat yang tidak benar dan tidak adil, juga konstruksi sosial yang bias gender, rangkul kami, berikan kami peran untuk dapat menjadi setara. Karena itu, inisiatif mentor kami sudah tepat dengan mengadakan ladies day, karena kami, caang perempuan, kurang mendapatkan peran dalam kelompok kami. Setelah dipikir-pikir, tidak benar jika mengkambinghitamkan kemampuan saya yang masih tertinggal, sebab seharusnya saya bisa mengejarnya dengan terus bertanya lebih keras.
Tidak bermaksud menyalahkan caang laki-laki yang kurang sabar dalam mengikutsertakan sebagian dari kami yang sedikit lebih lamban, sebab saya mengerti caang laki-laki merasa tertuntut dan merasa memiliki beban di pundaknya atas ketepatan waktu selesainya kegiatan navigasi tersebut. Sebab laki-laki selalu dituntut lebih hebat dari wanita dalam masyarakat kami. Sebab wanita harus selalu merendahkan diri demi menjaga ego laki-lakinya.

Kami kembali ke Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) di kampus sekitar pukul setengah satu dini hari. Salah seorang mentor dari jalur Joglok yang pernah mengajari saya navigasi, bernama Manak, mencoba mengetes saya dengan menanyakan bentukan medan pada suatu titik koordinat kepada saya. Saya berusaha terdengar sudah yakin ketika menjawab pertanyaannya, meskipun saya tidak. Jawaban saya salah, ternyata saya terbalik membaca urutan garis di samping peta (saya lupa nama garisnya)! Nampaknya saya akan kembali meneror mentor saya untuk kembali belajar navigasi dengannya, meski saya tahu perjalanan dua sudah berakhir dan hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Ck, navigasi, navigasi! Saya menantikan waktu ketika saya bisa menguasainya…

1480346205373
“Muka longsor kini sumringah”. Caang BKP MAPALA UI 2016 s.d. Perjalanan 2.

P.S. Saya tahu, tulisan ini lebih terasa seperti sebuah ‘press release’ atau curhat daripada apapun.
Ditulis 1 Desember 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.

[Perjalanan] Suka Duka dengan Si Kubah Hijau Besar

 

Saya tidak menyangka bahwa benda yang dianggap biasa oleh semua orang yang berkemah menjadi bintang dalam tulisan saya ini. Bagaimana tidak, benda tersebut membuat saya menikmati perjalanan pertama saya pada BKP Mapala UI 2016. Pada suatu malam yang sunyi dengan bau anyir, mungkin benda itu akan menjelma menjadi salah satu ksatria Pandhawa yang kuat. Pada awalnya saya ragu, tangan saya meraba, memastikan tubuhnya tidak akan terembes hujan dingin beserta angin kencang di lembah Surya Kencana. Jari-jari tangan menelusuri lapisan transparannya yang memperlihatkan bulir-bulir air di permukaan seberang yang lain. Waterproof. Saya teringat menatap langit-langitnya pada pagi dini hari yang dingin dengan terjangan hujan. Tumbuh perasaan aman tubuh saya dalam lambungnya, seperti lindungan perut busuk paus terhadap nabi Nuh dari lautan yang sedang badai. Rasanya mukjizat Sang Nabi diberikan kepada kami, kelompok empat yang bukan siapa-siapa ini, melalui Big Dome hijau ini.

15036376_1830331837246903_9042776322582227485_n
Kami senang dengan tenda sewaan kami!

Kami, kelompok empat, senang dengan tenda sewaan kami. Kelompok kami terdiri dari enam orang: Saya, Kawkab, Dea, Luthfi, Ratu, dan Jazmi. Kami mendirikan tenda dekat dengan jalan di lembah Surya Kencana. Setelah saya bersikeras menginginkan pintu tenda menghadap jalan, saya dapat bersantai dengan pemandangan indah padang rumput yang dipercantik dengan beberapa tanaman edelweiss, para pendaki yang lewat, dan Gunung Gemuruh dari pintu risleting tenda yang dibuka! Tenda yang lumayan luas memungkinkan kami berenam untuk difoto di dalamnya, karena ada cukup ruang untuk orang lainnya yang mengambil gambar kami dengan kamera. Selain itu, di tenda itu juga lah kami berlatih puisi teatrikal kami yang absurd dengan cahaya temaram headlamp. Yah, meskipun kami agak kecewa karena penampilan kami pada acara persembahan penampilan calon anggota (caang) berakhir dengan kegagalan karena kami  lupa pertengahan hingga akhir naskahnya.

15036402_1830356273911126_5154190409499275809_n
Ketika pintu dibuka..

Penampilan tenda kami yang ramah meski tanpa susuk, seakan mengundang beberapa raga yang kedinginan untuk turut berteduh. Berdiri kokoh dengan konsumsi lapak yang terbesar diantara tenda-tenda kecil lainnya, pastilah orang-orang yang melihat telah membayangkan ‘posisi wenak’ dengan tidur-tidur di dalamnya. Beberapa mentor BKP Mapala yang lewat,  mampir untuk menghangatkan diri di dalam. Termasuk mentor kelompok kami pada perjalanan satu ini, Chey M-963-UI, dan  mentor kelompok lainnya, Irvan. Beberapa dari mereka berdecak takjub mengungkapkan rasa setuju  mengenai betapa nyamannya tenda tersebut, beberapa lainnya ingin ikut tidur di tenda yang luas ini, dan seorang lainnya menyuruh dua orang tetangga di tenda sebelah yang mana mereka berdua memiliki kelamin berbeda untuk bergabung bersama kami. Tentu saja kami menolak, kami tidak sudi berbagi! Hal menggelitik lain adalah ketika beberapa mentor kelompok lain, Bagea dan Firman ngguyon dengan menyarankan kami untuk membuka lapak tempat salat alias musala di tenda kami dengan menarik iuran. Hasil dari musala berbayar tersebut pastilah akan lumayan, katanya.

Namun, tidak semua orang memuji, satu-dua lainnya melepaskan ‘hewan-hewan kurungan’ ketika pertama kali melihat tenda kami. Saya teringat pada suatu pagi dini hari, pertama kalinya kami semua berkemah dalam perjalanan satu itu di tanah area perkebunan jalur masuk Gunung Putri. Pagi itu bukan kukuruyuk ayam jantan yang membuat kami terbangun, melainkan teriakan berikut, “An****, gede banget ni tenda!” Ya, terlebih area kosong di perkebunan tersebut tidaklah luas, sehingga tenda kami sangat terlihat mencolok berdiri di tengah tenda-tenda kecil lainnya.

Lihat perbandingannya, begitulah besarnya.

Bukan maksud hati untuk memajang tenda yang dari sananya sudah besar ini di tengah-tengah tanah kemah yang sempit di area perkebunan. Bukan maksud kami untuk menjejalkan tenda besar kami untuk berdesakan dengan tenda kecil lainnya, melainkan nasib bagi kami yang memiliki tenda besar yang mana membutuhkan lapak yang lebih besar pula. Kami terusir dari satu tempat ke tempat lainnya ketika hendak mendirikan tenda di tanah sempit tersebut karena ukuran tenda yang besar memakan lapak milik kelompok lain. Semua sudut area telah terisi tenda, jadilah kami memasang tenda di lapak yang tersisa, di tengah-tengah. Di Surya Kencana, ketika kelompok lain mengangkat tenda mereka yang sudah terpasang dengan mudah untuk berpindah lokasi, kami tidak bisa melakukan hal yang sama karena tenda besar kami terlalu berat. Alhasil, kami harus membongkar dan memasang ulang tenda tersebut. Yah, nampaknya Big Dome hijau ini tidak pantas disandingkan dengan paus meski sama-sama berwarna hijau dan bertubuh besar, juga bukanlah mukjizat dari Tuhan, melainkan sesimpel kami kehabisan tenda ukuran secukupnya di tempat penyewaan barang-barang kegiatan outdoor.

P.S. saya memberi judul ‘Kubah Hijau Besar’ tak lain merupakan terjemah English – Indonesia dari Big Dome.

Ditulis 15 November 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.