[Perjalanan] Lega dan Resah dalam Penantian

Saya mempercepat langkah saya hingga kecepatan maksimal, sesekali berlari-lari kecil. Apapun yang ditemui oleh kaki saya di dalam sepatu yang basah, baik batu maupun lumpur di sungai ini, saya terjang. Sumpah serapah terucap karena kaki saya terantuk batu-batu kali akibat licinnya batu yang dialiri arus sungai. Erangan kecil kekesalan muncul saat saya berusaha melepaskan diri dari lumpur yang mencengkeram hingga sedalam lutut, menghambat pergerakan saya. Batin saya mengutuk kerikil-kerikil sungai yang masuk ke dalam sepatu, menyiksa telapak kaki saya di tengah pengejaran yang saya lakukan ini. Saya tidak peduli lagi. Saya harus bertemu kembali dengan Tim Bikun secepatnya. Handy talky (HT) ada di tangan saya, sementara Tim Bikun 4, Tim Bikun yang sedang bertugas, berada jauh di depan. Ya, saya tertinggal tim saya. Sebuah tim tanpa memegang alat komunikasi yang menghubungkan antara tim satu dengan tim lainnya dapat berakibat fatal.

1496148106329

Hari ini adalah hari Selasa, 31 Januari 2017. Hari ini saya bertugas sebagai pemegang komunikasi dalam Tim Bikun. Tim Bikun adalah call sign dari sebuah tim kecil yang melakukan blitz dan orientasi medan. Blitz dilakukan oleh tim kecil yang terdiri dari navigator, bacoker atau seseorang yang membabat vegetasi penghalang jalan dengan tramontina, step counter, dan komunikator untuk mencari membuka jalan lebih dulu di depan Tim Besar, bertujuan agar mempercepat pergerakan Tim Besar nantinya. Sementara itu, orientasi medan adalah memastikan secara langsung medan atau alam yang sebenarnya dengan yang tergambar pada peta topografi. Tugas Tim Bikun pagi ini adalah menyusuri sungai yang sesuai dengan yang tertera di peta, kemudian mencari punggungan naik menuju emergency exit point (EEP). EEP adalah jalan yang telah di-plotting menuju desa terdekat dari tempat kami berada. EEP tujuan kami adalah dusun Jampit di Desa Mlaten.

“Ioo!” Suara saya bergema, berloncatan dari satu sisi tebing ke sisi tebing lainnya di atas sana, kemudian teredam oleh suara arus sungai. “Iooo!!!” teriak saya sekencang-kencangnya. Tidak ada jawaban. Suara saya tak dapat mengalahkan suara arus sungai ini. Alhasil, saya berlari secepat yang saya bisa, terus menyusuri sungai. Sekelebat pikiran mengenai sebab mengapa saya terpisah dari tim saya hilang – muncul, entah akibat tugas ganda yang saya lakukan sebagai komunikator dan step counter, atau karena menunggu pemasangan safety line oleh salah seorang teman yang bertugas sebagai rescuer… hingga akhirnya, lega rasanya, ketika saya bertemu dengan navigator dari Tim Bikun 4.

Kepadanya saya mengabarkan keberadaan tim bikun selanjutnya yang akan menggantikan kami, mengingat sudah hampir satu kilometer kami berada jauh meninggalkan Tim Besar. Saya bilang pada Nano, call sign bagi PJ Navigasi tersebut, bahwa Tim rolling telah bergerak menuju kesini. Melalui HT, saya kemudian menyuruh Tim rolling untuk mempercepat pergerakan. Tak lama, teriakan khas MAPALA UI samar-samar terdengar. Sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang mendengarnya untuk menjawab. “Ioo!” balas kami.

Terlihat lah batang-batang hidung dari Tim Bikun 1 atau tim yang akan menggantikan kami bertugas blitz pada pagi menjelang siang hari ini. Namun saat ini bukan lah waktu istirahat bagi kami, Tim Blitz 4, karena kami masih harus mengambil carrier kami yang kami tinggalkan di belakang. Kami meninggalkan carrier kami di bawah turunan curam, di dekat pertigaan sungai pertama, di samping padang jelatang. Tim yang bertugas sebagai tim blitz seringkali sengaja melepaskan carrier masing-masing agar pergerakan lebih cepat dan lebih maksimal dalam membuka jalan di daerah yang belum terjangkau sebelumnya. Saya mendesah. Mengambil kembali carrier berarti harus kembali bergerak ke belakang dan kembali lagi ke depan. Itu berarti harus melewati sebanyak dua kali hal-hal menjengkelkan berikut ini: Menyusuri sungai beserta isinya yang menyandung dan memerangkap kaki, masuk ke dalam dan keluar dari sungai kemudian melewati tanah licin karena terdapat batu kali besar atau jeram kecil yang tidak bisa dilewati, dan harus melewati sisa-sisa padang jelatang, yang, meskipun telah kami tebas sebelumnya, masih dapat menusuk kulit di balik pakaian kami dan menjadikannya terasa panas dan gatal.

1496148102576

Jika saja saya tak harus terburu-buru saat ini karena harus menyusul Tim Besar yang telah berada di belakang Tim Blitz 1 di depan sana, tentu saya akan jalan perlahan. Jika saya tidak perlu menyusul tim besar, saya lebih memilih untuk menikmati lembah perawan ini. Lembahan ini tidak berbau busuk pemakaman seperti tubuh dan carrier kami yang berselimut tanah, tetapi bau segar air sungai. Pohon dengan dahan-dahannya yang ramping memayungi sungai ini. Sinar matahari terselip di antaranya. Tebing-tebing menjulang tinggi berdiri kokoh di kedua sisi lembahan ini seperti prajurit pribadi kerajaan…

Akhirnya, pada pukul 12.30, saya dan Tim Bikun 4 sampai di tempat Tim Besar berada, dengan carrier di atas bahu kami. Saat itu, Tim Besar sedang beristirahat. Di sisi sebuah sungai antara dua tebing yang menjulang tinggi di dalam lembah ini, saya ikut beristirahat untuk makan siang bersama Tim Besar. Menu makan siang itu hanya oatmeal dengan susu, namun suasana lokasi di mana kami beristirahat saat itu menambah nafsu santap siang kami. Rumput hijau adalah tempat kami duduk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil kami masing-masing. Lumut hijau terang menghiasi dinding tebing. Suara kami mengobrol sambil mengunyah makanan dalam mulut kami beradu dengan suara gemericik aliran sungai. Suara burung samar-samar menyahut, berbisik-bisik, dari atas sana, mengintip rombongan asing yang makan dengan kalap.

Hari itu merupakan hari kesembilan kami berada di dalam hutan. Setelah tadi malam Tim Besar sudah satu suara bahwa rute Emergency Exit Point menjadi target pergerakan kami selanjutnya, jujur saja, kini mulai terbit lagi semangat saya dan beberapa Caang (calon anggota) untuk kembali melanjutkan perjalanan. Bagaimana tidak, kami telah melewatkan tiga hari tersesat mencari punggungan turun checkpoint kelima yang cukup membuat frustrasi!

Tidak banyak waktu istirahat yang dimiliki jika kamu sedang bertugas sebagai tim yang melakukan blitz. Waktu istirahat Tim Bikun lebih cepat lima hingga sepuluh menit daripada Tim Besar yang biasanya memiliki waktu istirahat selama setengah jam. Rasanya baru saja saya tiba dan mengeluarkan peralatan masak kelompok kecil. Saya benci ketika orang-orang sudah bersiap lengkap dengan carrier mereka yang telah dibopong di punggung, buckle yang telah di-adjust serta strap belt yang telah mereka pasang, sementara saya masih memasukkan kembali sendok, garpu, kompor, gas, dan trangia kembali ke dalam carrier dengan terburu-buru. Apalagi, pada waktu yang lain, saya beberapa kali menjadi orang yang in charge menjadi Alpha dalam komunikasi pada skenario jalan Tim Besar. Alpha merupakan salah satu orang yang membawa HT, menjadi orang yang paling depan dari Tim Besar, dengan posisi jalan tepat di belakang Tim Bikun.

Keterlambatan tersebut karena tidak adanya kesepakatan mengenai pembersihan kembali alat-alat makan kelompok seperti sendok, garpu, dan trangia. Tanpa adanya kesepakatan bahwa masing-masing orang dalam kelompok kecil harus membersihkan alat makannya masing-masing, hal tersebut menjadi dibebankan kepada pembawa barang tersebut, yaitu saya. Hal itu terjadi juga karena wadah makan kami menggunakan trangia yang merupakan barang bawaan kelompok, bukan tempat bekal masing-masing. Jika saja kami makan menggunakan tempat bekal pribadi, para anggota kelompok saya akan membersihkan wadah makannya sendiri karena akan di-packing kembali ke dalam carrier mereka masing-masing. Kedepannya, saya harus membuat aturan mengenai hal-hal sepele macam itu.

Akhirnya, dengan rasa lelah yang masih tersisa dari blitz tadi, bahkan tak sempat mengeluarkan kerikil-kerikil dari dalam sepatu, saya menyusul Tim Bikun yang telah bergerak. Hujan turun ketika saya bergabung kembali dengan Tim Bikun 4. Alhasil, hanya lima orang saja yang ditunjuk oleh seorang Caang yang merupakan penanggung jawab (PJ) teknis untuk orientasi medan, memastikan bahwa punggungan yang dipilih oleh Nano Kecil, penanggung jawab navigasi harian, menuju desa EEP atau tidak. Saya tidak termasuk di dalamnya. Penunjukkan lima orang saja ini didasarkan oleh sangat terjalnya kemiringan punggungan yang akan Tim Besar naiki tersebut, sehingga harus dipasang sistem safety line oleh Tim Rescue caang. Melalui saya dan saya lanjutkan pesannya terhadap Alpha yang berada dalam Tim Besar dengan HT, PJ Teknis memerintahkan Tim Besar untuk membangun flysheet untuk berlindung dari hujan. Punggungan yang diperkirakan sebagai punggungan EEP tersebut terletak pada deretan tebing. Hujan deras juga membuat tanah semakin licin hingga memperbesar resiko terjatuh. Sistem safety line merupakan sistem yang terdiri dari beberapa webbing yang telah disambung-sambungkan ujungnya dan dikaitkan atau dibuat anchor pada sebuah pohon yang kuat, kemudian dibuat loop pada jarak yang konsisten sejauh raihan tangan sebagai stopper atau pegangan dari pengguna safety line tersebut. Singkatnya, safety line adalah rangkaian tali pengaman dari webbing untuk pegangan para pendaki di tebing atau punggungan terjal.

Saya pun kembali ke tempat Tim Besar berada, setelah sebelumnya, tentu saja,  mengeluarkan kerikil-kerikil dalam sepatu. Di sana, yang mana masih di tempat kami makan siang tadi, Tim Besar sedang duduk berlindung di bawah flysheet. Dengan minuman hangat yang digilir, kami bernyanyi tentang rindu dan cinta. Cukup lama saya dan Tim Besar duduk kedinginan sambil bernyanyi, menunggu kelima Caang tangguh yang sedang berjuang di sana. Dari komunikasi kami dengan tim yang sedang melakukan orientasi medan dan memasang safety line, saya mengetahui bahwa ada dua HT yang baterainya habis. HT yang dipegang saya dan HT yang dipegang oleh Charlie, call sign dari seseorang pemegang alat komunikasi dengan posisi jalan paling belakang dari Tim Besar. Habisnya baterai HT kami itu saya ketahui dari waktu transmit yang hanya bertahan selama 2 detik. Setelah saya mencoba membetulkannya dengan mengganti baterainya, salah satu HT menjadi korslet akibat masuknya bulir-bulir air ke dalam HT. Memang, HT tidak bisa bertahan akan basah sedikit apapun. Saya tidak bisa mengganti baterai HT lainnya karena hanya memegang satu set baterai cadangan.

Hal yang baik dengan datangnya hujan lebat ini adalah melegakan rasanya, saya dapat mengeluarkan kerikil yang sejak tadi mengganggu pergerakan saya. Hal buruknya adalah kekhawatiran akan perpanjangan  hari kami berada di gunung yang muncul, mengingat kami bisa saja tersesat lagi atau tidak menemukan punggungan EEP dalam waktu yang lama. Ekstensi hari, hal tersebut merupakan ketakutan terbesar saya saat itu. Sekelebat tentang momen-momen perjalanan panjang ini sejak hari pertama terulang kembali. 0% kenyamanan, itulah gelar yang disandang oleh perjalanan ini menurut saya. Bukan karena kami tidak sempat mandi selama berada di gunung, melainkan hujan deras yang mengguyur setiap harinya membuat udara berkali lipat lebih dingin. Kami harus memakai kembali baju trekking yang basah akibat hujan hari kemarin setiap pagi. Gigitan serangga agas, serangga yang muncul di tempat lembab, memiliki bentuk serupa nyamuk dengan ukuran lebih kecil, namun dengan efek gigitan yang lebih parah, mengakibatkan bentol dengan rasa gatal dan perih yang luar biasa pada kulit kami. Beberapa caang yang tidak rajin mengganti sepatu yang basah dengan sandal supaya kering serta tidak membersihkan kaki saat di tempat berkemah juga terserang penyakit kutu air. Selama kami masih berada di gunung, kami hidup was-was dengan bayang-bayang penyakit kutu air yang terus menghantui karena mudah menularnya penyakit tersebut.

1496148100254

Momen-momen ketidaknyamanan tadi membuat saya rindu Ibu saya. Mungkin karena Ibu lah yang selama ini menyediakan kenyamanan bagi saya, baik secara materi maupun imateril. Ada juga dari sekelebat kilas balik tadi yang membuat saya tertawa kecil ketika mengingatnya. Tentang tangan-tangan kami yang menengadah ke langit ketika secuil sinar mentari muncul. “Di Depok, matahari dikutuk, di sini matahari di sembah,” begitu celetuk salah seorang Caang yang saya ingat.

HTKira-kira pada pukul 15.30, Tango, call sign untuk PJ Teknis berujar, “Safety line telah selesai dipasang. Tim Bikun 4 tolong segera kesini untuk orientasi medan lagi di atas sana”. Itu merupakan panggilan untuk saya juga. Pekerjaan masih banyak. Nanti malam, HT-HT yang rusak harus kembali dibetulkan dengan cara dikeringkan. Terbayang betapa terjalnya punggungan yang akan kami lewati, dilihat dari waktu pemasangan safety line yang lama. Punggungan EEP juga masih belum ditemukan. Tetapi setidaknya, kerikil sudah dikeluarkan. “Often, it isn’t the mountains ahead that wear you out, it’s the little pebble in your shoe.” – Muhammad Ali.

Tulisan ini dimuat dalam buku kumpulan feature Perjalanan Panjang BKP Mapala UI 2016, “Pengembaraan: 11 Hari Hidup di Belantara”. Buku tersebut berisi 19 buah feature yang disusun berdasawarkan waktu terjadinya peristiwa. Membacanya dari awal seperti menyusun puzzle mengenai perjalanan kami.

Link Buku feature: https://drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnczJsVFFlZnljbDQ/view

Link Gallery Book Perjalanan Panjang: https://www.drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnbnc2Z1h5X0JwU28/view

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s