Berarung Jeram di Cisadane, Solusi Liburan Singkat yang Menantang

Pada hari Sabtu, 1 April 2017 kemarin, saya dan teman-teman caang (calon anggota) dalam rangka magang BKP MAPALA UI baru saja mengarungi Cisadane. Berbagai latihan sebelumnya telah kami jalani di Danau UI, kini kami tinggal mengaplikasikannya di sungai sungguhan ini. Pagi yang cerah itu, di bawah jembatan, kami awali dengan berenang aktif menyeberangi salah satu titik arus utama sungai. Jika saat latihan di Danau UI kami tiba di titik  seberang sesuai keinginan kami, maka di sungai, meski telah mengantisipasi dengan berenang 45 derajat menuju ke arah berlawanan dengan arus, tetap saja kami terseret beberapa meter! Latihan mendayung dan menggerakkan perahu membelah arus sungai juga tidak semudah yang dibayangkan. Meski telah mendayung kuat-kuat, perahu kami rasanya seperti hanya berjalan di tempat saja, tak kunjung berpindah tempat! Pada detik itu juga saya mengetahui bahwa kami tidak bakal hanya tinggal mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan. Sungai sama sekali berbeda dengan danau. Terdapat jeram-jeram yang menantang untuk dilewati dengan tetap menjaga perahu tidak oleng, juga pemandangan ‘liar’ Cisadane yang siap untuk dinikmati.

18740206_1931682867111799_8928991406153568078_n

Sebelum mengarungi jeram terbesar di sungai ini, kami semua turun dari perahu untuk menyusun strategi terlebih dahulu. Pertama, kami menentukan sungai bagian mana yang akan kami lewati, pergerakan apa yang akan kami lakukan dengan jalur sungai yang kami pilih, dan menentukan titik pelempar tali untuk berjaga-jaga jika ada orang yang terjatuh dari perahu saat mengarungi jeram ini.

18740451_1931682580445161_7183051321566364286_n

Dayung diangkat ke atas oleh orang yang berada di daratan, pertanda dokumenter dan pelempar tali telah siap dan tanda untuk tim perahu agar mulai mengarung. Perahu karet Aire merah merayap perlahan dari bibir sungai. Semakin mendekati jeram, awak perahu mendayung makin cepat nan kuat. “Pancung kiri!!!” komando kapten perahu, menyuruh awak perahu terdepan kiri untuk membelokkan perahu ke kanan. Pancung terlambat dilakukan dan perahu menabrak batu besar. Perahu oleng dan benar saja, jeram ini cukup kuat hingga berhasil menjatuhkan dua orang kapten perahu dan seorang awak perahu! Lemparan tali yang dilemparkan dari daratan tidak bisa menggapai awak yang terseret arus. Setelah berada di arus yang lebih tenang, seorang kapten perahu melakukan penyelamatan diri dengan berpegangan pada tali perahu dan mengangkat dirinya ke atas perahu. Setelah itu, satu persatu awak yang jatuh ditarik naik kembali ke perahu.

DSCF9080

Sinar matahari memantulkan kilau-kilau pada permukaan air sungai. Ketika matahari telah berada di atas kepala dan jeram-jeram besar sudah mulai habis, kami menikmati pemandangan Cisadane yang liar tak terawat. Sesekali berteduh di bawah dahan-dahan pohon yang memayungi pinggir sungai. Permukaan air tenang, dayung menyelam rendah dan perahu bergerak lambat. Sejauh mata memandang, terlihat muka sungai dan langit yang luas di atas tebing dan rimbunan pohon. Secara alami, rimbunnya pohon-pohon dan tebing-tebing yang melingkupi sungai memperindah pemandangan.

Mengamati pemandangan Cisadane beserta aktifitas warga lokal di sekitar sungai bisa menjadi hal yang mengasyikkan. Sering terlihat beberapa orang warga lokal yang sedang beraktifitas memanfaatkan sungai. Beberapa orang memancing, beberapa lainnya mandi dan mencuci. Perahu harus bergerak lihai menghindari tali-tali pancing yang tersebar di atas permukaan air sungai. Ada juga warga yang lalu lalang dengan kayu bakar sebagai pelampungnya. Ngarung dan menikmati pemandangan akan lebih asyik lagi jika seandainya sungai Cisadane ini bersih. Sayangnya, pada beberapa titik, terutama di titik yang terdapat pemukiman penduduk, terlihat sampah-sampah mengambang di permukaan sungai dan berserakan di bibir sungai.

Sungai Cisadane memang cocok untuk diarungi oleh para pemula. Sungai yang memiliki tipe pull and drop, yaitu jenis sungai dengan arus relatif tenang dengan jeram di beberapa titik. Berarung jeram di Cisadane tidak hanya menawarkan asyiknya terlompat di atas perahu karet, tetapi juga pemandangan yang menarik. Entry point sungai untuk berarung jeram berada di bawah jembatan Ciampea dan berakhir di Kampung Pasir sebagai exit point-nya. Kamu dapat mengarungi 9 km dari sungai ini selama 2 jam. Lokasi sungai ini tak jauh dari pusat kota. Sungai ini dapat ditempuh hanya beberapa jam dari Jakarta, sehingga berarung jeram di sungai ini sangat pas untuk menjadi pilihan kegiatan pengisi akhir pekanmu.

“Mengarungi tenangnya Cisadane ditemani liarnya pemandangan Cisadane. Seliar para Abah yang hanya pakai kancut mancing di bibir sungai, dan perahu kami harus meliuk lincah menghindari tali-tali kail pancingan di atas permukaan sungai. Seliar perempuan dengan tetek bergelantungan karena BH-nya tersangkut di ranting-ranting pohon, memayungi perahu kami yang berteduh sejenak.”

Fitri Muthi’ah Hanum, CAM 029

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s