[Perjalanan] Walah, Navigasi!

Rombongan caang (calon anggota) Mapala UI beserta panitia BKP (Badan Kepengurusan Pelantikan) 2016 disambut oleh udara dingin setibanya di Agrowisata Gunungmas. Saat itu hari sudah gelap, sorot headlamp satu-persatu nampak berpendar. Navigasi dan komunikasi merupakan materi yang akan kami pelajari dalam perjalanan kedua kami dalam BKP 2016 ini.

Sejujurnya, perjalanan kedua ini cukup membuat saya berdebar bahkan sebelum dimulai. Pasalnya, saya bodoh dalam matematika dan asing dengan derajat, koordinat, azimut, dan kawan-kawannya. Memang saya hadir dalam materi navigasi, namun rasa kantuk pada malam penyampaian materi itu menghalau materi tersebut untuk nyantol di kepala saya. Dan memang, mentor saya, Irvan, M-952-UI, telah mengajari kami sebelum perjalanan ini dimulai, namun semua materi yang diberikan tersebut seperti mengawang di udara.

1480346056489.jpg
Dag dig dug.. jderrr!!

Sebelum kami, para caang, mendirikan tenda di kawasan agrowisata, seluruh handphone kami dikumpulkan. Panitia tentu telah memperkirakan bahwa akan ada caang yang tricky dengan bernavigasi secara otomatis lewat  gadget miliknya. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi saya semenjak saya asing dengan perpetaan, menggunakan google maps saja sangat jarang. Saya lebih suka merepotkan orang di sepanjang jalan dengan bertanya dimana letak tempat tujuan ketika bepergian. Jadi, dengan enteng saya serahkan handphone milik saya.

Kali ini, bukan lambung nyaman Big Dome lagi tempat saya terlelap. Kini, saya dan kelompok enam perjalanan dua saya yang terdiri dari Apoy, Ben, Fauzan, Putri, Verdy, dan saya sendiri tidur di dalam Java four. Tiada yang mempercayai Apoy yang telah berusaha meyakinkan bahwa tenda tersebut mempunyai kapasitas maksimal untuk enam orang. Kenyataan bahwa Apoy telah tidur bersama enam orang lainnya yang berbadan lebih besar dari kami semua pada perjalanan satu kemarin juga sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, dua orang dari kami lebih memilih tidur di teras daripada berjejalan dalam tenda ini pada malam yang berbeda.

Sebagai orang yang bangun paling awal pada pagi pertama, saya langsung menyiapkan peralatan masak sambil kepala menengadah langit. Hamparan bintang terang dalam kegelapan seakan memayungi barisan tenda kami, visual indah tersebut terekam dalam benak saya. Hamparan langit luas tanpa apapun yang menghalangi, itulah salah satu hal favorit saya saat naik gunung. Tidak lama kemudian, ketika saya ingin berbagi pemandangan indah tersebut kepada manusia-manusia di dalam tenda yang sudah mulai grasak-grusuk, tiba-tiba awan dengan cepat menelan seluruh hamparan bintang di langit. Di langit, gemerlap payung bintang tergantikan dengan kabut abu-abu kuburan. Dahi yang mengernyit bukan pertanda saya telah meramal bahwa hari itu akan menjadi hari dimana, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berdaya.

Dalam perjalanan dua ini, kami bertugas untuk mencari dan menemukan checkpointcheckpoint yang tersedia di sepanjang jalur menuju puncak Gegerbentang. Cp-cp tersebut tentu saja hanya diberi tahu koordinatnya. Banyaknya ada enam checkpoint, itu berarti ada enam kertas tersembunyi di setiap checkpoint yang harus ditemukan sebagai bukti kami telah melewati tempat itu. Jika pada perjalanan satu BKP 2016 dua minggu yang lalu kami hanya mengikuti jalur yang tersedia, kali ini kami membuka jalur di beberapa titik. Caang telah dibagi kepada dua kelompok besar dengan jalur yang berbeda. Jalur Joglok dan Jalur Gedogan. Tim yang lebih dulu sampai ke checkpoint terakhir, yang mana berada di Puncak Gegerbentong lah yang menjadi pemenang.

Saya geli jika teringat bagaimana saya mencari checkpoint pertama. Di peta jalur kami yang telah di-highlight, sudah jelas bahwa letak Cp 1 belum menaiki punggunggan. Namun, saya dan beberapa teman ikut naik punggungan dan tentu saja tidak menemukan apa-apa. Setelah lebih dari satu setengah jam mencari, waktu habis dan kami langsung melanjutkan mencari Cp berikutnya. Belakangan saya mengetahui bahwa Cp1 masih terletak di kawasan wisata Gunungmas, tepatnya berada di mulut punggunggan sebagai entry point punggunggan, gerbang gunung yang seharusnya dari sana kami masuk. Setelah menemukan beberapa Cp berikutnya, kami menyadari bahwa Cp-cp yang kami cari tersebar di titik-titik ekstrem: di punggungan, di lembahan, di saddle, di pendilan, dan di puncak.

Dari yang tidak tahu-menahu apa-apa; apa yang harus saya lakukan dalam orientasi medan? mengapa saya harus naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukannya? Kemana saya harus pergi selanjutnya? Saya jadi tahu. Layaknya pembuatan alat musik gamelan, otak saya yang bekerja sangat lambat dalam navigasi ini perlu waktu dan dalam penempaannya menghasilkan kemajuan (yang sangat) sedikit demi sedikit (sekali).

1480346122957
“Dimana checkpoints beradaa?”  kiri-kanan: Selli, Ichaw, Ghozi, Tita, Putri, saya, Ojan, Ben, Apoy.

Dalam pencarian checkpoint kedua hingga keempat, saya masih meraba-raba untuk dapat memutuskan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ketika itu rasanya saya masih mengekor saja di antara teman-teman caang lainnya, sekeras apapun saya berusaha untuk aktif. Bukannya tidak antusias dan lantas menyerahkan peran bernavigasi kepada anak-anak Adam semata, melainkan rasanya saya belum bisa mengimbangi ritme pergerakan navigasi teman-teman yang lain. Ketika Apoy dan Ben, dua orang paling berjasa dalam perjalanan navigasi jalur Gedogan ini (yang juga anggota  kelompok saya), telah memperdebatkan suatu hasil yang mereka peroleh, saya masih menanyakan kepada mereka cara mereka memperoleh hasil itu.

Mentor kelompok kami, Irvan, terus mendorong saya dan Putri, perempuan dalam kelompok enam untuk turut aktif bernavigasi. Malah, Irvan meneriaki saya untuk mengeluarkan pendapat saya. “Muti, ayo keluarkan pendapatmu!” ujarnya spontan. “Yah, kalau bisa…” jawab saya seadanya, pahit. Sebagai seorang feminis, saya benci merasa tidak berdaya.

Baru pada hari pencarian dua Cp terakhir, hari dimana para mentor membuat ladies day demi meningkatkan peran para caang perempuan dalam perjalanan dua ini, saya mulai tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Saya senang caang perempuan  dapat membuka jalur dan marking dengan tramontina, juga melakukan blitz untuk orientasi medan. Setelah itu, istilah-istilah dalam bernavigasi rasanya tidak lagi seperti alien lagi bagi saya. Learning by doing, kalimat klise dan simpel yang diucapkan mentor kami kini terdengar relevan.

Saya memercayai ruh yang sama ditiupkan kepada wanita dan pria, yang membedakan adalah tubuh biologis. Karena itulah posisi push-up kami berbeda, tetapi kemampuan kami bisa menjadi sama. Namun, dengan nilai-nilai dalam masyarakat yang tidak benar dan tidak adil, juga konstruksi sosial yang bias gender, rangkul kami, berikan kami peran untuk dapat menjadi setara. Karena itu, inisiatif mentor kami sudah tepat dengan mengadakan ladies day, karena kami, caang perempuan, kurang mendapatkan peran dalam kelompok kami. Setelah dipikir-pikir, tidak benar jika mengkambinghitamkan kemampuan saya yang masih tertinggal, sebab seharusnya saya bisa mengejarnya dengan terus bertanya lebih keras.
Tidak bermaksud menyalahkan caang laki-laki yang kurang sabar dalam mengikutsertakan sebagian dari kami yang sedikit lebih lamban, sebab saya mengerti caang laki-laki merasa tertuntut dan merasa memiliki beban di pundaknya atas ketepatan waktu selesainya kegiatan navigasi tersebut. Sebab laki-laki selalu dituntut lebih hebat dari wanita dalam masyarakat kami. Sebab wanita harus selalu merendahkan diri demi menjaga ego laki-lakinya.

Kami kembali ke Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) di kampus sekitar pukul setengah satu dini hari. Salah seorang mentor dari jalur Joglok yang pernah mengajari saya navigasi, bernama Manak, mencoba mengetes saya dengan menanyakan bentukan medan pada suatu titik koordinat kepada saya. Saya berusaha terdengar sudah yakin ketika menjawab pertanyaannya, meskipun saya tidak. Jawaban saya salah, ternyata saya terbalik membaca urutan garis di samping peta (saya lupa nama garisnya)! Nampaknya saya akan kembali meneror mentor saya untuk kembali belajar navigasi dengannya, meski saya tahu perjalanan dua sudah berakhir dan hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Ck, navigasi, navigasi! Saya menantikan waktu ketika saya bisa menguasainya…

1480346205373
“Muka longsor kini sumringah”. Caang BKP MAPALA UI 2016 s.d. Perjalanan 2.

P.S. Saya tahu, tulisan ini lebih terasa seperti sebuah ‘press release’ atau curhat daripada apapun.
Ditulis 1 Desember 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s