[Perjalanan] Suka Duka dengan Si Kubah Hijau Besar

 

Saya tidak menyangka bahwa benda yang dianggap biasa oleh semua orang yang berkemah menjadi bintang dalam tulisan saya ini. Bagaimana tidak, benda tersebut membuat saya menikmati perjalanan pertama saya pada BKP Mapala UI 2016. Pada suatu malam yang sunyi dengan bau anyir, mungkin benda itu akan menjelma menjadi salah satu ksatria Pandhawa yang kuat. Pada awalnya saya ragu, tangan saya meraba, memastikan tubuhnya tidak akan terembes hujan dingin beserta angin kencang di lembah Surya Kencana. Jari-jari tangan menelusuri lapisan transparannya yang memperlihatkan bulir-bulir air di permukaan seberang yang lain. Waterproof. Saya teringat menatap langit-langitnya pada pagi dini hari yang dingin dengan terjangan hujan. Tumbuh perasaan aman tubuh saya dalam lambungnya, seperti lindungan perut busuk paus terhadap nabi Nuh dari lautan yang sedang badai. Rasanya mukjizat Sang Nabi diberikan kepada kami, kelompok empat yang bukan siapa-siapa ini, melalui Big Dome hijau ini.

15036376_1830331837246903_9042776322582227485_n
Kami senang dengan tenda sewaan kami!

Kami, kelompok empat, senang dengan tenda sewaan kami. Kelompok kami terdiri dari enam orang: Saya, Kawkab, Dea, Luthfi, Ratu, dan Jazmi. Kami mendirikan tenda dekat dengan jalan di lembah Surya Kencana. Setelah saya bersikeras menginginkan pintu tenda menghadap jalan, saya dapat bersantai dengan pemandangan indah padang rumput yang dipercantik dengan beberapa tanaman edelweiss, para pendaki yang lewat, dan Gunung Gemuruh dari pintu risleting tenda yang dibuka! Tenda yang lumayan luas memungkinkan kami berenam untuk difoto di dalamnya, karena ada cukup ruang untuk orang lainnya yang mengambil gambar kami dengan kamera. Selain itu, di tenda itu juga lah kami berlatih puisi teatrikal kami yang absurd dengan cahaya temaram headlamp. Yah, meskipun kami agak kecewa karena penampilan kami pada acara persembahan penampilan calon anggota (caang) berakhir dengan kegagalan karena kami  lupa pertengahan hingga akhir naskahnya.

15036402_1830356273911126_5154190409499275809_n
Ketika pintu dibuka..

Penampilan tenda kami yang ramah meski tanpa susuk, seakan mengundang beberapa raga yang kedinginan untuk turut berteduh. Berdiri kokoh dengan konsumsi lapak yang terbesar diantara tenda-tenda kecil lainnya, pastilah orang-orang yang melihat telah membayangkan ‘posisi wenak’ dengan tidur-tidur di dalamnya. Beberapa mentor BKP Mapala yang lewat,  mampir untuk menghangatkan diri di dalam. Termasuk mentor kelompok kami pada perjalanan satu ini, Chey M-963-UI, dan  mentor kelompok lainnya, Irvan. Beberapa dari mereka berdecak takjub mengungkapkan rasa setuju  mengenai betapa nyamannya tenda tersebut, beberapa lainnya ingin ikut tidur di tenda yang luas ini, dan seorang lainnya menyuruh dua orang tetangga di tenda sebelah yang mana mereka berdua memiliki kelamin berbeda untuk bergabung bersama kami. Tentu saja kami menolak, kami tidak sudi berbagi! Hal menggelitik lain adalah ketika beberapa mentor kelompok lain, Bagea dan Firman ngguyon dengan menyarankan kami untuk membuka lapak tempat salat alias musala di tenda kami dengan menarik iuran. Hasil dari musala berbayar tersebut pastilah akan lumayan, katanya.

Namun, tidak semua orang memuji, satu-dua lainnya melepaskan ‘hewan-hewan kurungan’ ketika pertama kali melihat tenda kami. Saya teringat pada suatu pagi dini hari, pertama kalinya kami semua berkemah dalam perjalanan satu itu di tanah area perkebunan jalur masuk Gunung Putri. Pagi itu bukan kukuruyuk ayam jantan yang membuat kami terbangun, melainkan teriakan berikut, “An****, gede banget ni tenda!” Ya, terlebih area kosong di perkebunan tersebut tidaklah luas, sehingga tenda kami sangat terlihat mencolok berdiri di tengah tenda-tenda kecil lainnya.

Lihat perbandingannya, begitulah besarnya.

Bukan maksud hati untuk memajang tenda yang dari sananya sudah besar ini di tengah-tengah tanah kemah yang sempit di area perkebunan. Bukan maksud kami untuk menjejalkan tenda besar kami untuk berdesakan dengan tenda kecil lainnya, melainkan nasib bagi kami yang memiliki tenda besar yang mana membutuhkan lapak yang lebih besar pula. Kami terusir dari satu tempat ke tempat lainnya ketika hendak mendirikan tenda di tanah sempit tersebut karena ukuran tenda yang besar memakan lapak milik kelompok lain. Semua sudut area telah terisi tenda, jadilah kami memasang tenda di lapak yang tersisa, di tengah-tengah. Di Surya Kencana, ketika kelompok lain mengangkat tenda mereka yang sudah terpasang dengan mudah untuk berpindah lokasi, kami tidak bisa melakukan hal yang sama karena tenda besar kami terlalu berat. Alhasil, kami harus membongkar dan memasang ulang tenda tersebut. Yah, nampaknya Big Dome hijau ini tidak pantas disandingkan dengan paus meski sama-sama berwarna hijau dan bertubuh besar, juga bukanlah mukjizat dari Tuhan, melainkan sesimpel kami kehabisan tenda ukuran secukupnya di tempat penyewaan barang-barang kegiatan outdoor.

P.S. saya memberi judul ‘Kubah Hijau Besar’ tak lain merupakan terjemah English – Indonesia dari Big Dome.

Ditulis 15 November 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s