About Marriage

Kata yang paling sering saya dengar selama saya kuliah saya adalah: ازواج. Menikah. Hal tersebut cukup mengejutkan saya pribadi karena mengapa harus kata itu yang mengganggu di kepala saya? Kata itu sering diucapkan oleh orang-orang seusia saya ketika saya masih di tingkat pertama perkuliahan dan kini makin sering terdengar ketika saya berada di tingkat dua. Di sini, saya hanya ingin berbagi perspektif lain tentang memikirkan ulang hal yang turun-temurun dilakukan tanpa dipikirkan.

Mengapa orang ingin menikah? karena itu tradisi. Menikah sudah sejak dulu ada, dilakukan turun-temurun. Jaman dulu, wanita memang dididik untuk menikah. Menikah, melahirkan anak, dan memberi makan semua orang (saya mendapatkan quote ini dari sebuah film My Big Fat Greek Wedding) adalah image dari wanita baik-baik. Jika tidak melakukan ketiga hal tersebut, tidak pantas disebut wanita baik-baik. But thanks to feminism, kini jaman telah berubah (meskipun dampaknya terasa di belahan bumi yang lain).

Lady-Chatterley

Saya curiga kalau orang-orang yang ingin menikah muda bukan menyukai pernikahan, tetapi menyukai “pesta pernikahan”. Dalam pesta pernikahan, bayang-bayangnya memang seperti gemerlapan. Menjadi pusat perhatian semua orang, melayani tamu-tamu yang datang, mendengar pujian bagaimana cantiknya dirimu dan kekasih dalam balutan gaun nikah yang seragam, selama beberapa jam duduk dan tersenyum terus melihat mereka semua menyantap hidangan yang enak. Oh, indahnya!

Sementara itu, dengan polosnya, kamu tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelahnya saat malam tiba. Kamu bahkan tidak menyukai hal itu (baca: having sex). “Mengerikan,” katamu. “Memangnya sakit, ya?” katamu. Padahal, justru itulah bagian terbaiknya!

Bagian yang kamu benci itu tetap kamu lakukan pada malam-malam berikutnya, demi menyenangkan suamimu. Tanpa kamu mengerti kenikmatan darinya. Tidak ada gairah saat melakukannya. Terlebih dapat mencobai berbagai gaya. Alhasil, keduanya tidak mendapat kepuasan. Kalau begitu, pantas saja kalau Islam menghalalkan poligami. (Meskipun saya pribadi tidak setuju dengan poligami).

Salah satu alasan mengapa tradisi menikah tetap berlangsung hingga kini adalah agar mempunyai anak. Anak yang lucu-lucu. Tetapi, tidak banyak orang tahu bahwa merawat anak tidak semudah yang terbayangkan. Semua orang mudah melakukannya. Tanpa mengetahui bahwa anak juga menyebabkan terkikisnya romantisme bahkan pertengkaran antara kamu dan suami, juga menghambat karirmu (jika kamu bekerja). Lucu bahwa pernikahan hanyalah untuk berkembang biak. Lihat saja kemana pun kamu pergi, anak-anak dimana-mana. Negara ini sudah penuh! tidak butuh banyak bayi lagi dari rahimmu, tapi butuh seorang anak yang bisa memperbaiki carut-marut negeri ini. Lebih baik merawat satu dari banyaknya anak terlantar yang ada daripada memproduksi banyak yang baru lagi.

tumblr_inline_mw6rfcuxdn1s93g6s
What your Dad says

Merawat anak membutuhkan kedewasaan. Kamu tidak bisa lagi bersikap egois. Saya mengatakan ini karena terbukti bahwa, ketika memiliki anak, seluruh uang hasil kerja kerasmu diberikan untuk kepentingan sang anak. Tidak bisa tidak. Untuk bahagiamu, hanya datang dari kebahagiaan anakmu. Kamu bahagia jika anakmu bahagia.

Yang paling menjengkelkan adalah kalimat “Menikah karena Allah”. Nah, yang mengatakan ini adalah wanita yang menawarkan diri menjadi budak setelah menikah. Padahal, seorang suami tidak terjamin aman dan dapat melindungi. Lagipula mengapa kamu butuh untuk dilindungi? Jalannya seperti ini: Menikah -> menjadi budak suami ( meniti jalan ke surga) -> Meninggal -> Surga. Kamu dengan senang hati melayani suamimu, hingga merelakan karirmu agar kamu tidak absen dalam menghidangkan masakan di meja makan. Kehidupanmu hanya seputar domestik dan keluar rumah hanya dengan ijin dari suami. Kamu menurut pada semua perkataan suamimu hingga menomorduakan kepentingan dirimu. Kamu memberi makan seluruh teman-teman yang suamimu bawa ke rumah. Sungguh menjenuhkan dan melelahkan!

Hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang bermakna. Saya sendiri ingin hidup saya bukan hanya sekedar menjalani “siklus hidup”.  Siklus hidup yang seperti ini: Belajar sungguh-sungguh saat kuliah -> lulus dengan Cum Laude -> kerja -> menikah -> punya anak -> berhenti kerja -> mengurus anak -> anak besar -> ditinggalkan anak menikah -> tua -> meninggal. Saya juga tidak ingin tiba-tiba saya, anak perempuan dari seorang Ibu, tiba-tiba sudah punya anak lagi. Saya tidak ingin hanya tubuh saya saya yang menua karena sibuk menjalani hidup, tanpa menjadi lebih dewasa.

The unexamined life is not worth living” -Socrates.

Pernahkah dirimu memikirkan hal yang lebih penting daripada sekadar menikah? Adakah cita yang kamu ingin wujudkan sebelum menikah? Seperti menjadi traveller yang keliling dunia, melihat dunia yang lebih besar dan baru bagimu. Atau menjadi aktivis, memperbaiki negerimu atau dunia ini, hidup untuk kemanusiaan dan keadilan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s