Long Way To Equality – Kartini Day 2020

 

22 April 2020

Hari Kartini. Satu kata yang muncul di benak saya, ‘feminisme’. Tidak peduli beberapa orang pernah berkata emansipasi perempuan Kartini berbeda dengan paham feminisme barat, yang jelas Kartini berlangganan majalah hindia belanda yang ditulis perempuan Belanda, dan surat-menyurat dengan perempuan Belanda. Itu menjelaskan asal pemikirannya. Sama dengan munculnya nasionalisme di Filipina yang tidak akan muncul jika Jose Rizal tidak bersekolah di luar negeri. Dari mana kesadaran akan terjajah muncul jika tanpa adanya komparasi keadaan yang lebih baik? Bahwa keadaan yang sekarang tidak ‘baik-baik saja’?

Flashback 22 Oktober 2019 

Belakangan ini, saya sibuk bolak-balik ke lembaga-lembaga perempuan yang menangani penyintas kekerasan seksual di Jakarta. Baik itu yang bergerak di bidang advokasi, edukasi, maupun penyedia safe house (rumah aman). Saya mengunjungi tempat-tempat tersebut bersama Mbak Putri Handayani (engineer & mountaineer), founder dari yayasan yang sedang kami bangun. Yayasan ini bernama Yayasan Jejak Baik Indonesia, atau The Great Footprint dalam Bahasa Inggris.

“Meskipun nantinya kita sudah bolak-balik, Mbak kayaknya akan balik lagi kesini. Pasti kerja samanya sama mereka ini. Mbak tuh punya gut feeling pas ketemu yang Mbak cocok, sama kayak waktu Mbak pertama ketemu kamu,” tuturnya.

“Balik ke start lagi ya, Mbak…” meskipun saya dapat relate, tapi saya tidak merespon banyak. Saya akui, saya memang lambat dalam merespon percakapan. Ide-ide dan solusi biasanya muncul ketika saya beraktivitas sendiri, ketika mandi, melamun, atau mengunyah makanan. Ketika saya tidak berada di situasi tersebut. Saya seorang observant dan analytical, cenderung think something through saat melakukan aktivitas lain sendiri di tempat yang tenang. Kini pukul 22:07, 6 jam setelah percakapan tersebut terjadi, saya terpikir percakapan kita di mobil setelah kunjungan ke Yayasan Bandung Wangi tadi. Iya, saya juga punya gut feeling yang bagus sejak remaja. Namun, di masa remaja, saya cenderung mengabaikannya. Sejak remaja, saya suka berolahraga dan pernah volunteering di lembaga advokasi kekerasan perempuan, tetapi saya berhenti di tengah jalan dan mencobai hal lain. Lucunya, kini sekarang saya benar-benar mendengarkan gut feeling saya. Mungkin karena saya telah menyeleksi apapun yang tidak penting buat saya dan tinggal menyisakan apapun yang saya dapat connect dengan hal itu. Kini saya hanya peduli dan lakukan hal-hal penting buat saya. Dan sebaliknya, saya tinggalkan semua hal yang saya anggap tidak penting buat saya secara personal… atau hal-hal yang membuat saya tidak nyaman. I’ve set my boundaries and focus on what I value.

Kembali ke awal lagi, kini saya menjalankan visi saya. Saya seorang yang visioner dan action-oriented. Saya merawat visi dan merealisasikannya.  Visi Mbak Putri adalah empowering women through mountaineering. Kami sama-sama merasa bahwa mendaki gunung empowers us. This method really works on us and we want other women feel that too. Telah ada studi dan jurnal-jurnal yang membuktikan efek terapi dan healing di Australia dan Amerika. Saya bersama Mbak Putri dan ketiga orang lainnya berlatar belakang penggemar alam bebas (kalau saya belum pantas disebut pendaki gunung, hanya suka saja) dan pekerja sosial, sedang membangun yayasan bergerak di bidang pemberian terapi alternatif menggunakan hiking dengan pendekatan adventure therapy bagi anak muda penyintas kekerasan seksual, gangguan penggunaan obat-obatan, dan kebutuhan khusus. Lambat laun, saya mengetahui kami berlima di sini dipertemukan karena memiliki pengalaman personal mengenai masalah tersebut. And yes we’re here for a reason.

 

The reason is the rape culture here in Indonesia is crazy. Norma-norma masyarakat yang diambil dari agama cenderung bersifat patriarkis. Masih bersifat konservatif, sudah tidak relevan dengan jaman. Alhasil, stigma penyintas kekerasan seksual masih kuat di masyarakat. Stigma tersebut berpendapat perempuan penyintas kekerasan seksual pasti telah  ‘berkontribusi’ dalam merangsang birahi laki-laki untuk memerkosanya. Kebanyakan orang juga  masih tidak adil gender, menganggap wajar jika laki-laki selalu ‘mau’. Sehingga bukan laki-lakinya yang diajari untuk respect sesama manusia dan tidak memerkosa, tetapi perempuan yang dikerangkeng dengan menutup tubuhnya. Banyak juga yang masih berpikir harga diri perempuan itu terletak di keperawanannya. Benar-benar sesat pikir!  Hal itu juga lah yang membuat para penyintas kekerasan seksual bungkam dan tidak melaporkan pelecehan yang diterima. Saya pernah mengalami sendiri hal tersebut dan was really disappointed with this society. Menjadi perempuan di negara konservatif rasanya seperti lari dari satu tempat ke tempat lainnya. We are unsafe.

Kisah realita lain yang mencengangkan, yakni sudah menjadi rahasia umum banyak orang tua dari masyarakat kelas bawah yang tidak mampu, yang menjual anak perempuannya to be sexually exploited! Biasanya pelanggan-pelanggannya dimulai dari orang-orang terdekatnya, seperti keluarga. Gila! Belum cukup sampai di situ, bila perempuan-perempuan ini diambil oleh safe house untuk disembuhkan traumanya, para orang tua meminta uang ganti rugi karena sumber penghasilannya direbut.

Terenyuh hati saya mendengar realita penanganan isu sensitif ini di Jakarta yang masih miris. Di Jakarta saja masih miris, saya tidak dapat membayangkan bagaimana di daerah-daerah. Kekurangan dana adalah masalah nomor 1 bagi safe house & lembaga pendamping perempuan. Kemudian, jumlah lembaga-lembaga tersebut yang masih minim dibandingkan dengan banyaknya kasus sexual abused di Indonesia. Hanya sedikit yang memilki program yang ‘tidak seadanya’, selebihnya hanya menampung mereka tanpa memikirkan personalisasi kegiatan yang diberikan bagi masing-masing orang…

Sebagai pemerhati organisasi-organisasi perempuan di Indonesia (tadinya hanya lewat media sosial), saya yang kini mulai turun ke jalan ingin memberikan pendapat. Di media sosial, sudah banyak yang memperhatikan isu ini dengan bermunculannya media yang menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan, seperti Magdalene. Saya pikir, riset mengenai isu ini juga sudah banyak. Jurnal perempuan adalah lembaga riset hak perempuan yang terdepan di negeri ini. Tetapi nyatanya, sangat sedikit yang benar-benar turun ke masyarakat untuk memberi solusi atau sekadar berkolaborasi. Nampaknya startup untuk connecting stakeholders bukan hanya diperlukan oleh bidang pariwisata saja…

Jika saya refleksi diri, saya beruntung pernah bergiat di organisasi pencinta alam. Memang saya percaya, untuk membuat kita suka atau peduli akan sesuatu, harus terjun ke ‘lumpur’. Bergiat di Mapala membuat saya sedikit lebih aware dengan isu di sekitar, padahal di masa kecil, saya orang yang cuek dan egois. Meskipun, sekarang juga  hanya beberapa isu yang saya taruh perhatian. Di luar interest saya, tetap nggak peduli and remain ignorant. 

Sangat banyak ex pekerja-pekerja seks yang mencari-cari kegiatan cause they don’t know where to go. Lingkungannya tidak mendukung untuk berubah, sehingga mereka antusias dengan kegiatan-kegiatan edukasi dari suatu lembaga perempuan. Ada juga mereka yang telah dalam proses disembuhkan traumanya, tetap kabur dari safe house yang didirikan oleh kalangan atas karena programnya yang terlalu disiplin dan strict dalam membentuk para perempuan asuhnya menjadi tipe perempuan sukses sesuai ideal para pendirinya. Karena itulah saya memilih untuk remain childless dalam hidup saya. Saya tidak suka ide membentuk/menanamkan/dogmatisasi manusia lain sesuai nilai-nilai yang dianut oleh orang yang lebih tua.

Masih banyak perempuan penyintas di luar sana yang tetap beraktifitas dan bekerja with their unhealed trauma…

13 April 2020

Tulisan ini saya lanjutkan di masa pandemi Coronavirus 2019, yang membuat hampir semua orang punya banyak waktu luang…

Setelah mengikuti pelatihan ‘groundworks’ Wilderness Adventure Therapy dari Adventure Works, pioneer metode ini di US, Mbak Putri berbagi. Senangnya, apa yang telah kami lakukan semuanya on-track. Kecuali yang masih bolong di bidang pengukuran karena saat itu kami belum menemukan psikolog untuk bekerja sama. We know what we’re doing. Ditambah lagi, Adventure Works, serta para Clinical Mental Health professionals di Northern Illinois University* dengan senang hati akan memberikan arahan & guidance, materi assesment & measurement, bahkan hingga fundraising!

*Pendiri Adventure Works yang juga chairman Association of Experiential Education (pengakreditasi lembaga yang bergerak di bidang Experiential Education & Mental Health Therapy) mengajar di Northern Illinois Uni

Kembali 22 April 2020

Saya tidak yakin awal kali pertamanya diri saya terpapar feminisme, tampaknya dari buku-buku Ayu Utami terlebih dahulu dari membaca Surat-Surat Kartini. Yang jelas setelah perjumpaan pertama itu, saya langsung aplikasikan dalam hidup saya. Saya semakin yakin akan hal-hal yang tidak baik dalam kehidupan pribadi saya. Kemudian saya belajar feminisme di Yayasan Jurnal Perempuan. Saya mulai mendekonstruksi banyak hal yang dianggap normal oleh kultur patriarki dalam kehidupan sehari-hari saya. Hal itu menuai banyak sekali bentrokan, terutama berkaitan dengan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari…

Beranjak dewasa, saya juga mengajari adik dan Ibu saya feminisme. Adik saya sudah lebih nyambung. Namun, mengajari Ibu saya sedikit rumit dengan mindset perempuan jaman dahulu yang masih sangat tradisional, yang hidup di tanah Jawa yang sangat patriarki. Saya banyak berargumen dengan Ayah saya. Saya melindungi perempuan-perempuan di keluarga saya.

Bila saya merefleksi lagi kehidupan saya, momen-momen berbenturan dengan relasi kuasa adalah masa-masa tergelap dalam hidup saya. Dulu saya marah. Sekarang tidak, I forgave them. Mungkin karena saya telah meng-cut semua itu dari hidup saya. Ini baru hidupku, saya masih perempuan merdeka. Tapi… bagaimana dengan banyak perempuan-perempuan lain di luar sana yang tidak punya kontrol atas hidupnya sendiri? The worst thing is feeling stuck and helpless. Tampaknya memperjuangkan hak perempuan adalah perjuangan seumur hidup.


ENGLISH VERSION

April 22, 2020

One word that popped into my mind on Kartini’s day was ‘feminism’. No matter some people have said that Kartini’s emancipation is different from Western feminism, the fact that Kartini regularly read Dutch Hindi magazine written by Dutch women, and correspondenced with Dutch women, that explains the origin of her thinking in equality. How did the consciousness of the colonized arise if there is no better comparison of circumstances? That the current condition is actually not ‘okay’?

Flashback October 22, 2019

At the end of last year, I was busy going back and forth to women’s institutions that handle survivors of sexual violence in Jakarta. Whether they work in advocacy, education, as well as safe house providers. I visited these places with Mbak Putri Handayani, a mountaineer, who is also the founder of the social organization that we are setting up. This organization is called Jejak Baik Indonesia, or The Great Footprint in English.

If my vision is to empower women through fitness, Mbak Putri’s vision is empower women through mountaineering. We both believe that mountain hiking empowers us. This method really works on us and we want other women feel that too. There is study from abroad proves the therapeutic and healing effects from being in the nature. We are a group of five of outdoor enthusiasts and social workers, built a social organization aims to provide alternative healing, using Wilderness Adventure Therapy approach, in hiking for marginalized youth. The pilot project’s targeted participants are sexual abused survivors. For the long term, we thought about providing it for young people with substance abuse disorders and special needs population.

Gradually, I know that five of us are brought together because we have personal attachment about the issue. And yes we are here for a reason.

The reason is that the rape culture here in Indonesia is crazy. Social norms taken from religion with literal interpretation, that is no longer relevant with the current era tend to be patriarchists. As a result, the stigma of sexual abused survivors is still strong in the society. The stigma considers the survivors of sexual abused must have ‘contributed’ in attracting men to rape them. Most people are still not gender-fair, think that it’s men’s nature to always ‘want sex’. Rather than educate men to respect fellow human beings and not to rape, it’s women who are told to behave. Many also still think that women’s pride is located in her virginity. What a misguided thought! These stigmas have made sexual abused survivors silenced and did not report the abuse received. Being a woman in a conservative country feels like running from one place to another. We are unsafe.

Another reality, it is common knowledge of parents from underprivileged communities sell their daughters without consent to be sexually exploited! Usually the customers start from the closest people, within family members. It’s Crazy! Not quite up there, if these women are taken by safe houses to heal their trauma, the parents asked for money in exchange because the source of income were seized.

Some former sex workers look for activities because they don’t know where to go. Their neighborhoud environment does not supportive of change, so they are actually very enthusiastic about the educational or training activities that being held by women’s institution.There are also still many survivors who continue their daily activities with their unhealed trauma…

In my case that brought me the path of who I am right now…

Back April 22, 2020

I am not sure when was the first time I was exposed to feminism, it seems that Ayu Utami’s books first came to read than Kartini’s Letters. What is clear after that first encounter, I immediately applied it in my life. I am increasingly quick at spotting flaws in relation to patriarchy and unequal power relations in my life. Then I studied feminism at Yayasan Jurnal Perempuan. I began to deconstruct many things that were considered normal by patriarchal culture in my daily life. It reaps a lot of clashes, especially relating to choices in daily life…

As I grew up, I also taught my sister and my mother feminism. My sister can comprehend. However, teaching my mother was a little complicated because she was raised in a very patriarchal Javanese culture. I argued a lot with my father. I protected the women in my family.

When I reflect back to my life, moments of clashing with unequal power relations was the darkest periods. This is just my life, I’m still a free woman. But … what about many other women out there who don’t have control over their own lives? The worst thing is feeling stuck and helpless. It seems that, fighting for women’s rights is a lifetime struggle.

Memories from Bumi Cenderawasih Expedition, West Papua 2018

Strong Coordination

Jika saya dapat memutar kembali waktu, saya seharusnya berkegiatan di Mapala dengan sepenuh hati… salah satu penyesalan saya adalah menjalankan beberapa proyek di Mapala UI setengah-setengah. Namun, tidak dengan yang satu ini. Saya senang melakukannya dengan sepenuh hati.
Ada satu pengalaman yang rasanya akan kuingat sepanjang hayatku. Pengalaman itu menempa skill leadership-ku dan telah berkontribusi terhadap diri saya sekarang ini. Membantu menyadari potensi yang ada pada diri saya yang tak saya ketahui sebelumnya. Bukan yang pertama kalinya saya mengurus acara, juga bukan sekadar project management, tetapi yang satu ini menghasilkan kepuasan yang luar biasa. Puas dan bangga karena merealisasikan visi menjadi kenyataan, dan dapat bermanfaat bagi orang banyak. Pengalaman tersebut tak lain adalah pencapaian terbesarku selama menjadi anggota organisasi pencinta alam selama masa perkuliahanku, Ekspedisi Bumi Cenderawasih.

Sounding perizinan kegiatan kepada Kepala Kampung & Adat, mengingat mereka berkuasa di Pegunungan Arfak.

Ekspedisi ini takkan terlaksana jika tanpa ketua organisasi kami saat itu, yang kini jadi temanku, seorang yang strategis (INTJ), John. Saya tidak akan mengatakannya secara langsung. Melainkan hanya menulis kesan dan apresiasi untuknya di sini karena ia tahu betul kualitasnya itu, dan akan sombong seperti biasanya. Meskipun selalu mengagumi dirinya sendiri, he’s really a good leader karena turun tangan, menyadari seluruh tugas bawahannya adalah tanggung jawabnya juga. Bukan pemimpin bossy yang tugasnya selesai setelah mendelegasikannya kemudian lantas tidak mau tahu. Ia ikut bertempur di lumpur, melakukan apapun yang dapat dibantu. Contohnya seperti mengejar-ngejar pejabat yang diajak kerja sama dan mencari sponsor dari Jakarta.

Pegunungan Arfak hanya bisa dilalui dengan kendaraan 4WD karena banyak jalan belum beraspal dan membelah sungai.

Setelah 3 bulan pertama pengajuan sponsorship di Ibukota tidak membuahkan hasil, bulan ke-4 setelah mendapatkan lampu hijau pesawat Hercules TNI, saya yang penanggung jawab Non-Teknis berangkat advance bersama penanggung jawab survey ke Manokwari. Karena belum adanya pemasukan dana, rencana awal kami berdua yang meliputi menjalin kerja sama dengan stakeholders di Papua Barat dan survey lokasi ekspedisi seluruh biro peminatan olahraga alam bebas, berubah total. Fokus tim advance yang hanya berdua ini berusaha mendapatkan bantuan dari pemangku kepentingan di provinsi tujuan. Kami mengumpulkan sedikit demi sedikit sumber daya bantuan dari berbagai institusi: Kendaraan dari Polda, Kodam-Kodim, Dinkes, dan Dinpar; alat komunikasi dari cabang RAPI; bantuan akomodasi dan dana dari para pejabat daerah, para bupati dan gubernur, yang lokasinya dijadikan tempat ekspedisi.

Woman leadership.

Pencapaian ini tentu saja memakan usaha yang tak juga sedikit. Saat itu rasanya kami berdua sudah seperti PNS, setiap hari bolak-balik kantor di Manokwari. Mulut sudah berbusa seperti sales yang menyampaikan visi betapa wisata minat khusus petualangan akan berkontribusi besar bagi pendapatan daerah Papua Barat. Semua orang tampaknya sudah sama-sama tahu provinsinya memiliki kekayaan alam yang tiada bandingnya di Indonesia. Namun, tak ada yang berani berinovasi dan take action, kecuali dua anak muda penuh gairah dari Jakarta yang tiba-tiba ada di sini. Saya kira sampai saat itu hanya satu-dua orang Papua asli yang demikian. Meskipun pada akhirnya semua pihak surprised dan senang dengan hasil ekspedisi ini, pada awalnya semua orang hanya terpaksa berbuat baik dan enggan, skeptis, marah, bahkan saya mencicipi rasanya diusir.

Seremoni pelepasan ekspedisi di kantor gubernur Papua Barat.

Memang, rasanya terlalu progresif bila pemerintah melatih orang-orang Papua ‘olahraga ekstrem’* yang tidak umum dilakukan semua kalangan ini (kecuali Pemerintah Wonosobo). Mengingat untuk pangan papan, listrik, pendidikan, dan kesehatan saja mereka masih terbelakang. Bahkan, di beberapa daerah dengan ketua suku masih kuat berkuasa, terdapat hukum adat yang tidak masuk akal yang tidak menguntungkan bagi bisnis. Bila ingin menjadikan roda ekonomi wisata itu berjalan, tentunya banyak sekali pihak yang terlibat. Pelatihan dan edukasi masyarakat mengenai olahraga alam bebas tersebut dan pariwisata juga dibutuhkan. Semua bisa dilakukan jika dimulai dari pengusahanya sendiri. Begitu pandanganku, tetapi tentu saja ketika pelatih-pelatih kami, ahli-ahli pegiat sekaligus pengusaha alam bebas bertatap muka dengan pemerintah daerah, mereka menyambut baik tindak lanjut jangka panjang rencana ini. “Orang Papua juga manusia, semua dapat diajari dan dilatih…” begitu kira-kira tuturnya.

*Di luar negeri, olahraga seperti paralayang, arung jeram, dan telusur gua ini tidak termasuk ekstrem. Dengan persiapan dan perlengkapan yang teliti, olahraga ini aman dan menyenangkan.

Basecamp, Lifetime Memories With The Team

Selama mengurus ekspedisi ini, saya cuti kuliah 1 semester. Mengurus ekspedisi ini dari awal hingga akhir, meskipun saya tidak ikut mengurus pemutaran film ekspedisi di Jakarta. Tentunya selama hampir 3 bulan di Papua Barat, ada banyak sekali hal membekas di ingatan masa mudaku…

Di tengah ketidakpastian itu, api kecil dalam hati tetap menyala, begitulah kira-kira perasaan yang menyelimuti setiap harinya. Setelah sebulan, bantuan sumber daya manusia, rombongan kloter pertama atlet-atlet ekspedisi dari Jakarta beserta tim support datang. Saat itu saya sangat bersyukur. Kehadiran mereka seakan menjadi emotional support tersendiri bagi saya. Di sini, semua orang kebagian kerja. Setiap malam briefing distribusi tugas dan evaluasi dilakukan. Para atlet dibagi tugas ikut menjalin koordinasi atau survey lokasi ekspedisi kelompok mereka masing-masing. Meskipun, pastinya ada saja hal menjengkelkan. Pekerjaan saya bertambah untuk memantau konsumsi tim besar. Ada teman yang melakukan hal kecil seperti piket urus konsum saja tidak becus. Ternyata ini bukan hal remeh. Saking tidak punya uang, saat itu kami hanya bisa makan nasi dan sayur. Seringkali penanggung jawab konsum harian yang orangnya itu-itu saja terlambat, sehingga atlet-atlet ada yang sakit maag!

Tim Kayak Ekspedisi Bumi Cenderawasih, Sungai Prafi 2018.

Menginap di basecamp pramuka milik Pemda ini, pada dasarnya kami seperti anak panti atau pesantren karena adanya peraturan dari ketua pramuka, seperti segregasi jenis kelamin. Laki-laki tidak boleh masuk kamar perempuan (ruang kelas luas yang disulap jadi kamar) dan sebaliknya. Masa-masa itu kami masih suka binge drinking. Pernah suatu ketika, seorang teman perempuan baru kali pertama binge drinking dan langsung jackpot karena menenggak Cap Tikus. Mungkin karena panik karena baru pertama kali, suaranya yang ingin muntah keras sekali! Hati kami dag-dig-dug takut ditegur, atau bila berita ini sampai kepada Pemda, bisa jadi diusirlah kami dari penginapan… Lama-kelamaan, kami mengetahui budaya minum-minum tampaknya lebih umum lagi di Papua.

Ada lagi hal yang tak kalah menggelitik perut. Atas instruksi project officer ekspedisi, kami masak sendiri katering untuk acara pemaparan hasil ekspedisi dan rekomendasi pariwisata di kantor gubernur. Yang benar saja?! Pikirku, tetapi ternyata ia serius. “Kan udah biasa masak di basecamp,” sahutnya asal. Penghuni basecamp hanya sekitar 20 orang, dan hanya masak satu lauk, sementara porsi diskusi umum? Bisa jadi lebih dari 50 dengan banyak variasi lauk pauk. Alhasil, begadang masak sepanjang malam! Meskipun yang begadang sampai pagi hanya seorang teman perempuan pemanjat yang memang dikenal super strong. Saya tak kuat begadang, sementara teman lelaki begitu tak berguna di dapur, mereka semua tidur.

Bermalam di pantai Mansinam, pantai pasir putih di Manokwari yang pemandangannya langsung berhadapan dengan Pegunungan Arfak. Luar biasa indah. Kami tidur di hammock dengan pemandangan pantai, gunung, api unggun. Ketika berenang pagi harinya, gunung menyambut kepala yang lebih dulu menyambut udara di atas…

Perjalanan Jakarta – Papua Barat ditempuh dengan Pesawat Hercules TNI AU.

Saya yakin itu pertama kalinya kami semua menumpang pesawat herki dan melakukan penyeberangan kapal feri. Horizon lautan dan langit berbintang tanpa batas, perjalanan 13 jam sekali menyeberang yang rasanya tiada habisnya. Kami berbaring di dek kapal beratap bintang-bintang hingga pagi hari.

Exploring The Exotic Land

Sudah cukup kenangan konyolnya.

Pertama kalinya menginjak tanah Papua yang menurut saya luar biasa indah, tetapi juga sangat aneh ini sangat berkesan. Eksotis, persisnya.

Penanggung jawab biro paralayang tidak menyangka kenyataan citra peta dari lokasi terbang. Pegunungan Arfak dipilihnya sebagai titik terbang karena semata-mata merupakan titik tertinggi di Papua Barat. Saya yang tidak bisa baca peta juga tidak percaya itu lokasi yang sama dengan yang ada di google image. Saya kira gambar di internet hanyalah hasil kamera handphone yang tak dapat menangkap keindahan Arfak.

Pemandangan kawasan Pegunungan Arfak berupa danau membelah pegunungan seperti ‘fjord’ di Norway…

Pegunungan Arfak luar biasa indah! Benar-benar seperti video-video keindahan alam di Norway. Pegunungan dengan danau raksasa yang membelahnya, dengan air danau memantulkan citra pegunungan di atasnya bak cermin. Danau raksasa yang berada di tengah-tengah pegunungan ini berpasangan, Anggi Gida dan Anggi Giji. Anggi Gida, danau laki-laki yang misterius, memiliki warna lebih gelap keabu-abuan. Sementara itu, Anggi Giji, danau perempuan yang meneduhkan, berwarna jauh lebih terang. Tim paralayang terbang tidak menyeberangi danaunya, tetapi terbang di sisi, bahkan di atasnya, menghadap langsung pemandangan danau dan pegunungan  tersebut.

Terbang di atas Danau Anggi Gida, Pegunungan Arfak.

Saya tidak kecewa meskipun tidak dapat terbang di Pegunungan Arfak. Saat itu kemampuan saya belum mencukupi karena harus menghentikan latihan demi berangkat advance. Rasanya bangga berada dalam tim ini. Saya terharu dapat mengantar tim besar berkegiatan di Papua Barat.

Terbang di atas Danau Anggi Giji, Pegunungan Arfak.

Momen terfavorit saya adalah ketika kepala-kepala desa memperebutkan kampungnya menjadi tempat mendarat paralayang. Mereka menyetop mobil 4WD yang kami tumpangi ketika melintas kampungnya. “Nanti sa kasi noken!” sahutnya bersemangat dengan mata berbinar. Dari bawah, anak-anak, serta warga kampung berlari di jalan tanah, mengejar parasut yang melintas di udara.

Kami juga merasakan rasanya bermalam di rumah tradisional Suku Arfak, Rumah Kaki Seribu (Mod Aki Aksa atau Igkojei). ‘Kaki seribu’ karena pondasi rumah panggung ini terdiri dari tiang-tiang kayu yang menyangganya. Banyaknya tiang tersebut diumpamakan seperti hewan kaki seribu. Uniknya, proses pembuatan lantai dan dinding rumah tradisional yang terbuat dari rotan ini adalah dengan cara dianyam. Mengingat warga Pegunungan Arfak menghangatkan diri dengan membuat api unggun di dalam rumah, tidak heran bila banyak ditemukan anak-anak dengan ingus meler di hidung dan bibirnya. Ketika diperiksa oleh dokter dari bakti sosial yang kami selenggarakan, banyak dari mereka berpenyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan). Mereka tidur dengan asap dari api unggun yang dinyalakan di dalam rumah. Udara Pegunungan Arfak sangat dingin ketika malam hari, dan mereka hanya tidur beralaskan lantai rotan rumahnya.

Nyanyian selamat datang Suku Arfak di depan rumah tradisionalnya, Rumah Kaki Seribu.

Ada juga cerita pengalaman unik dari kelompok biro arung jeram yang mengarungi Sungai Pegaf dari Kabupaten Pegunungan Arfak ke Manokwari. Berbeda dengan air sungau di Pulau Jawa, air sungai di Papua Barat begitu jernih hingga dapat langsung diminum. Aliran sungai Pegaf tersebut berasal dari Pegunungan Arfak. Tidak hanya itu, mereka bertemu burung endemik yang jadi lambang khas provinsi Papua Barat, Burung Kasuari. Mereka melihat burung sebesar burung onta dengan bulu-bulunya yang penuh warna itu sedang minum air di tepi sungai.

Kayak di Sungai Prafi.

Ekspedisi ini berhasil memetakan dan menginventarisasi 17 mulut gua baru, melintasi angkasa Danau Anggi Giji dan Gida juga di Kabupaten Pegunungan Arfak juga memetakan titik-titik terbang dan mendarat yang ideal, serta mengarungi Sungai Prafi sejauh 16 km dari Kabupaten Pegunungan Arfak hingga Manokwari.

Di akhir presentasi dan diskusi pemaparan hasil, kami bersama-sama menyanyikan lagu ‘Aku Papua’…

Telusur Gua (caving) di Distrik Testega, Pegunungan Arfak.

Other Insights

Tak lupa, berikut kesan-kesan lainnya yang saya temui:

  1. Sebagian besar pelaku bisnis dan pejabat tinggi di bidang formal adalah pendatang. Sebagian besar orang Papua hanya berjualan di pasar, dan berjualan pinang di pinggir jalan.
  2. Di Manokwari, hampir semua orang selalu bertelepon! Siapapun itu, dimanapun itu. Bahkan ketika makan di restauran, atau ketika sedang menyetir, mereka semua berbicara denagn handphone-nya.
  3. Lebih baik jangan keluar malam di Manokwari pada malam hari, sepertinya semua orang di jalan mabuk! Saat malam hari, pernah saya menyaksikan seseorang oleng dan tertidur di jalan. Saya menyebutnya drunken city.
  4. Jangan cari gara-gara terlebih isu rasisme, karena mereka mudah terpancing emosi, dan bisa-bisa tinju mendarat di pipi. Saya telah melihat sendiri pemukulan di pasar, di jalan raya, bahkan pernah petugas keamanan meninju pengemudi motor yang sedang melintas.
  5. Dari dua kali saya ke tanah papua, tahun 2018 dan 2019, orang Papua baik hati dan lugu, meskipun gaya bicaranya sedikit keras. Mereka juga doyan nongkrong dan ngobrol. Jangan takut jika kamu dipanggilketika melintas, mereka cuma ingin ngobrol.

Dan masih banyak lagi! Teman saya yang mengunjungi daerah lain yang lebih jauh (Teluk Bintuni), pernah menceritakan banyak hal yang lebih menarik bin aneh lainnya…

Tarian selamat datang Suku Arfak.
Salah satu senjata Suku Arfak, panah.

News:
https://www.kompas.com/tag/ekspedisi-bumi-cenderawasih
https://travel.tempo.co/read/1120626/tim-ekspedisi-mapala-ui-temukan-17-mulut-gua-di-pegunungan-arfak

Selesainya Ekspedisi MAPALA UI di Bumi Cendrawasih

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/03/05/petualangan-mapala-ui-menjelajah-bumi-cenderawasih

https://travel.tempo.co/read/1120626/tim-ekspedisi-mapala-ui-temukan-17-mulut-gua-di-pegunungan-arfak

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/09/19/menyelam-ke-dunia-pecinta-alam-cerita-ekspedisi-bumi-cendrawasih-2018

Videos:

Backpacking South Korea Part 4: Mount Hallasan Jeju via Seongpanak

I kept thinking about it. Aku tidak bisa berhenti memikirkan untuk menyelesaikan pendakian Hallasan. Aku tidak bisa menyingkirkan visual kawah puncak Hallasan dari kepala saya. Aku memutuskan untuk mencoba lagi mendaki gunung tersebut, mengingat jalurnya yang aman, hanya saja perlu dimulai lebih awal.

Adikku menolak ikut, meskipun aku sudah memastikan ia mungkin akan menyesal melewatkannya. Karena esok hari harus check out dari airbnb pukul 12:00 siang, dan adikku tidak sudi dititipkan sebagian barang bawaan milikku (lagipula koper miliknya tidak muat), alhasil aku membawa seluruh barang bawaanku dari Indonesia. Berat beban bawaanya seperti melakukan pendakian gunung selama seminggu!

Niat berangkat pukul 06.00 pagi, namun mentari terlambut muncul karena winter. Langit masih gelap. Pukul 07.00 pagi aku naik bus ke Seongpanak dipandu oleh aplikasi Kakao Map ke halte bus yang melayani rute tersebut. Kira-kira 500 meter dari penginapan di Seogwipo. Di bus, aku juga memastikan kembali mengenai halte pemberhentian pada gadis di kursi sebelahku, meskipun Kakao Map yang memiliki fitur tracking kapan kita turun dari bus sangat akurat.

Berdasarkan petunjuk, jalur Seongpanak sepanjang 9.6 km dapat ditempuh dengan 4 jam 30 menit.

Jalur ini jelas lebih panjang daripada jalur Gwaneumsa karena jauh lebih landai. Berbeda dengan Gwaneumsa yang curam dan vegetasinya rapat, vegetasi terbuka di jalur yang landai ini membuat pemandangan indah dapat dinikmati mata. Salju yang telah mencair membuat vegetasi rendah memperlihatkan beragam warnanya; kuning keemasan, merah, coklat, dan hijau.

Mendekati puncak, jalur ini berubah curam. Sesekali aku berhenti dan menikmati pemandangan terbuka yang sangat indah dari ketinggian. Awan menyelimuti panorama, langit tanpa batas sejauh mata memandang.

Karena vegetasinya yang terbuka juga lah yang membuat jalur ini sangat berangin. Angin musim dingin begitu menusuk, terlebih lokasinya di gunung mmebuatnya melaju lebih kencang. Tanganku sudah kebas dan sangat perih untuk memegang apapun, termasuk handphone dan kamera untuk mengambil gambar.

Sampai di puncak, angin sebegitu kencangnya hingga handphone-ku hampir jatuh ke kawah! Saran dariku, jangan mendaki Hallasan seorang diri karena angin kencang merepotkan untuk mengambil gambar seorang diri. Untungnya ada ahjussi yang peka dan menawarkan mengambil fotoku.

Di Korea, wisata hiking-nya sangat terorganisir. Pos terakhir yang berjarak kurang dari 500m menuju puncak dibuka hanya sampai pukul 12:00 siang. Selain itu, pengunjung hanya dapat berada di puncak Gunung Hallasan hingga sampai pukul 14:00. Akan ada ahjussi membawa toa pengeras suara yang mengusir semua orang. Bahkan, ada satu helikopter yang akan memantau apakah masih ada pendaki yang tertinggal pada ketinggian yang lebih rendah. Kita memang tidak dapat bermalam mendaki di gunung-gunung di Korea. Pantas saja aku menemukan beberapa helipad di gunung ini.

Baengnokdam Crater, Mount Hallasan Peak (1950 m).

Kalau kamu penasaran situasi langsung di kawah, sila cek videonya di sini: https://youtu.be/U-fWq7gCFc4

Tersentuh dengan Kebaikan Hati Orang Seoul

Jalur turun Seongpanak lebih indah lagi. Kamu akan disuguhkan pemandangan tebing-tebing, perbukitan, hingga ‘hutan gantung’ di sepanjang perjalanan. Namun di tengah-tengah, vegetasi berubah menjadi rapat. Jalur dari tengah ke bawah yang berupa bebatuan juga agak melelahkan.

Pemandangan turun Jalur Seongpanak (1).
Pemandangan turun Jalur Seongpanak (2).

Karena keasyikan menikmati pemandangan sekaligus mengambil foto, aku jadi manusia terakhir yang masih berada di ketinggian, selain sekeluarga obesitas di depanku. Mereka yang telah mengeluh kelelahan, dengan nafas yang sudah terengah-engah, menumpang kereta gunung yang hanya digunakan untuk keperluan pekerjaan petugas Hallasan National Park dan orang sakit.

Karena turun dengan terburu-buru, setengah berlari, lutut kananku terkilir. Alhasil aku berjalan turun dengan sedikit pincang dan sangat lamban. Di ketinggian yang lebih rendah, di mana vegetasi sudah berupa pohon-pohon besar… Langit sudah mulai gelap, dan aku tidak membawa headlamp pula! Meringis, terpaksa aku mempercepat laju jalanku meskipun itu sangat pedih.

Dalam remang aku berjalan tersandung-sandung seorang diri, rasanya ingin marah karena kebodohan lupa membawa salah satu peralatan paling penting! Namun, sepertinya aku memang mujur. Bunyi geret kereta gunung di belakang. Sekeluarga obesitas; ayah, ibu, dan kedua anak perempuan, serta petugas gunung lewat di atas kereta yang tampaknya telah melebihi kapasitas itu. Mungkin iba melihat jalanku yang tertatih-tatih dalam kegelapan, Ibu dan anak turun dari kereta dan meminjamkanku salah satu senter miliknya. Mereka juga menemaniku berjalan hingga keluar hutan… Bahasa Inggrisnya lancar, dan benarlah mereka datang dari Seoul. Lupa nama, tetapi yang kuingat ia sekolah musik dan bermain biola. Apa kabar ya, anak perempuan gemuk yang baik hati itu?

Backpacking South Korea Part 3: Seongsan Ilchulbong and Jusangjeolli Cliff

Keindahan alam dan ketenangan Jeju town pastinya sayang untuk tidak dieksplor lebih jauh. Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi suatu daerah tanpa mengeksplornya. Maka esok harinya, kami melaju ke Southern Jeju yang ditempuh selama 4 jam menggunakan bus dari Jeju City. Benar-benar non-stop! Kepalaku rasanya agak pening karena lelah.

Adikku ini sudah layak disebut sebagai tour guide karena dari perencanaan hingga eksekusi, ia memastikan semua situs dapat kami kunjungi, dan semua kudapan enak Korea dicicipi. Kefasihannya berbahasa Korea karena menetap di Korea selama lebih dari 3 tahun, membuat perjalanan mudah, lancar, dan on time. Yang menarik, aku dapat memahami budaya dan makna dari situs-situs yang dikunjungi karena ia dapat menerjemahkannya untukku. Terlebih, informasi yang lengkap, akurat, dan terkini baik di maps, internet, maupun di sana semuanya berbahasa Korea. Kemudian, di Korea, hanya penduduk Seoul yang dapat berbahasa Inggris. Di luar orang Seoul, masyarakat Korea masih malu untuk diajak berbincang dengan foreigner. Bahkan, tembok bahasa pun masih saya temui ketika di Busan. Saya kira perjalanan bersama orang yang fasih dengan bahasa dan budaya setempat menjadi value tersendiri.

Touchdown Southern Jeju! Di kamar berikutnya, di Seogwipo, daerah selatan Jeju, kami berdua mendapatkan satu kamar luas yang seharusnya untuk sharing bersama delapan orang! Selama winter, kamar-kamar kosong. Kami juga sangat menikmati berwisata di Jeju pada musim ini karena sepi dari turis. I really love our Airbnbs selama di Korea. Di Jeju, penginapan sangat bersih, breakfast oke, dan dekorasinya tak kalah cantik, atau banyak juga yang menggemaskan. “Lucuuu!” sahut kami dengan gemas, ketika kami video call memilih-milih kamar saat masih di negara berbeda. Kamu bisa menyewa kamar di Jeju dari harga 70.000 won untuk berdua. Beruntung, kami ke daerah wisata ini sedang low season saat winter sehingga harga lebih murah. Dari jendela luas kamar, kami dapat melihat pemandangan pelabuhan, laut dan pulau di seberang.

Tahukah kamu, Jeju Island adalah pulau yang terbentuk dari letusan gunung berapi Gunung Hallasan. UNESCO menyematkan beberapa situs di Jeju yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi termasuk ke dalam ‘wonders of the world’. Penasaran dengan ‘rupa’ hasil dari aktivitas vulkanik yang menjadi situs wisata, kami pun mengunjunginya satu-persatu. Selain Gunung Hallasan, kami juga mengunjungi Seongsan Ilchulbong dan Jusangjeolli Cliff.

Kota Seongsan dan pantai.
Pemandangan dari Seongsan Ilchulbong peak.

Seongsang Ilchulbong adalah dataran tebing luas setinggi 180 m yang muncul ke permukaan laut yang terdapat di daerah pesisir timur Jeju. Pada puncaknya, terdapat kawah raksasa seluas 160 m. Dari puncaknya, kita dapat memandang luas seluruh Jeju city beserta kedua pantainya. Untuk mencapai puncak, kita harus menaiki anak tangga yang konon berjumlah 500 buah. Jumlah tersebut worth it mengingat pemandangan indah yang terbayar yang memanjakan mata. Mereka menyebut Jeju Island sebagai the Hawai’i of Korea, karena mempunyai gunung, kota, dan pantai sekaligus.

Setelah menikmati pemandangan Jeju dari puncak kawah, sempatkanlah berjalan-jalan di kampung sekitarnya. Seongsan sangat tenang dan damai. Corak warna-warni bangunan, serta pantainya menambah keindahan kota kecil ini.

Seongsan Ilchulbong.

Langit berubah mendung, kami pun langsung menaiki bus ke Seogwipo kembali. Belum untuk pulang, tetapi untuk menyaksikan keindahan alam lainnya. Jusangjeolli cliff adalah tebing hitam berbentuk kotak atau persegi lima yang terbentuk dari lava letusan gunung hallasan yang masuk ke dalam pantai Jungmun. Kebun ilalang, garis pantai serta pohon-pohon kelapa sejauh mata memandang, serta pepohonan cemara menjadi suguhan pemandangan menuju tebing tersebut. Suara ombak laut Jungnam yang membentur ke tebing begitu menenangkan.

Jusangjeolli Cliff.

Di Seogwipo, terdapat tiga air terjun yang dapat disinggahi. Cheonjeyeon, Jeongbang, dan Cheonjiyeon. Kami mengunjungi Cheonjiyeon dan Jeongbang waterfalls karena letaknya yang berdekatan.

Cheonjiyeon waterfall.

Karena ini pertama kalinya aku menginap di Airbnb ketika travelling, baru tahu terkadang ada acara potluck dinner antara penghuni bersama dorm/bunkbed, atau homestay. Sumbangan makan malam ini diantaranya: Cumi segar laut Seogwipo, ayam goreng krispy dengan saus khas korea, daging BBQ, dan babi panggang. Segala panganan lezat ini dinikmati dengan soju.

Benarlah, kedua penghuni yang dapat mengobrol dengan kami berasal dari Seoul, sementara seorang lainnya tidak berbicara dengan kami berdua. Adikku pernah berkata bila kamu menemui orang Korea dapat berbahasa Inggris, kemungkinan besar ia adalah orang Seoul. Ada beberapa budaya sopan santun antara orang yang lebih muda terhadap usia lebih tua di Korea. Budaya minumnya, orang yang muda harus memalingkan wajah ketika meneguk minuman keras. Kemudian, yang muda tidak boleh menyentuh hidangan di piring terlebih dahulu sebelum diambil oleh yang tua. Nggak sopan! Tegur adikku ketika aku melanggar semuanya.

BBQ dinner at Airbnb.

Backpacking South Korea Part 2: Mount Hallasan Jeju via Gwaneumsa Trail

Langit sudah gelap ketika kami sampai di utara Jeju. Berbeda dengan Busan, angin di Jeju jauh lebih kencang. Dinginnya terpaan angin winter sangat menyiksa, kami mempercepat langkah kami mencari-cari letak AirBnb yang telah di-booking sebelumnya. Adikku lebih tech-savvy dari padaku (jelas, hobinya main game di handphone). Selama berwisata di Korea, ia menjadi navigator menggunakan aplikasi maps yang populer dan ter-update di Korea, Kakao dan Naver maps. Saking update-nya aplikasi maps tersebut, nomor-nomor bangunan dapat terlihat. Serta fitur tracking dari aplikasi tersebut dapat memberi tahu kapan kita harus turun dari bus. “Balapan, siapa yang sampe duluan?!” sahutku kemudian berlari ketika kami sampai di lintasan jalan sejajar penginapan kami. Adikku kesusahan menyeret kopernya.

Sesampainya di penginapan, kami langsung mengisi perut dengan snack berupa mix seeds yang kubawa dari KL, dan berkemas untuk hiking esok hari. Karena ada aku, wisata bersama adikku ini sedikit bergaya MAPALA, haha. Baru sampai, besok paginya langsung ‘ekspedisi’. Awalnya, sulit untuk membujuk adikku yang benar-benar ‘anak rumahan’ dan benci olahraga untuk berwisata hiking.

View of Hallasan from Gwaneumsa

Esok paginya, kami berangkat pukul 09.00 pagi dari Jeju City dan naik taksi ke Gwaneumsa, salah satu daerah trek masuk Gunung Hallasan, setelah sebelumnya membeli perbekalan di minimarket CU terdekat. Karena daerah tersebut sepi turis pada winter seperti ini, kami tidak mendapatkan bus ke sana. Alhasil, kami naik taxi yang dipesan dengan aplikasi Kakao, aplikasi serupa Gojek/Grab di Indonesia. Berbeda dengan dua jalur lainnya yang lebih landai, jalur Gwaneumsa sangat sepi pengunjung karena lebih curam. Aku memilih jalur ini karena waktu tempuh yang lebih cepat.

Sebelum memulai pendakian di daerah bersalju, jangan lupa membeli crampon agar tidak terpeleset. Bagian tajam pada crampon memperbesar friksi antara alas kaki dengan lapisan es. Kami mampir ke toko di seberang gate masuk. Ketika adikku sibuk melihat-lihat, perhatianku tertuju pada beberapa foto di restoran sebelah. Terbayang kenikmatan menyantap semangkuk udon dengan kuah beruap, saya melipir untuk mengisi perut.

Jalur wisata Gunung Hallasan sangat jelas, bahkan dilengkapi dengan pita-pita berwarna merah di sepanjang jalan. Kupikir, salju akan menghambat pendakian ini, tetapi sebaliknya! Ternyata, saya sangat menikmati hiking pada musim dingin karena tidak banyak berkeringat. Biasanya karena udara panas, saya sangat kegerahan, dan kesal dengan keringat yang terus mengucur di dahi sering menghalangi pandangan saat mendaki gunung-gunung di Indonesia. Dari skill manajemen perjalanan yang saya pelajari di organisasi pencinta alam kampus, saya telah mempersiapkan P3K serta membawa serta selimut, karena lupa membeli emergency blanket. Terlebih, ini pertama kalinya adikku naik gunung. Ternyata saya tak perlu khawatir karena jalur yang sangat aman.

Pemandangan dari celah rapatnya vegetasi.

Kami mendaki santai, sesekali berhenti untuk mengambil gambar, atau menunggui adikku yang berjalan lambat karena kelelahan. Namun, langkah itu berubah seketika membaca tulisan di pos ketiga, satu pos sebelum pos terakhir yang berbunyi, “The last post to the summit is closed at 12:00”. Aku mengajak adikku untuk setengah berlari karena waktu tempuh normalnya menuju summit masih 2.5 jam lagi. Mengapa pihak manajemen taman nasional Hallasan menaruh spanduk tersebut di pos tengah?! Aku menyahuti adikku yang mengeluh melulu dengan semangat. Meyakinkannya bahwa ia bisa, tetapi ia malah marah-marah. Aku bukan tipe teman jalan yang menunggu, aku yakin setiap orang yang kuajak jalan sama-sama mandiri dan punya akal, sehingga bisa mengatasi situasinya. Seperti dosenku yang kutinggal ke Hunza bersama kedutaan Indonesia di Islamabad. Seperti temanku yang kutinggal ke puncak Semeru di padang ilalang Oro-oro ombo.  Jadi, kutinggal adikku berlari. Sampai ketemu di pos terakhir!

View of Hallasan peak from Gwaneumsa trail.

Terengah-engah diriku ketika akhirnya pandanganku tertuju pada bangunan putih yang dengan yakin itulah pos terakhirnya. Di belakangnya tampak rangkaian tebing batu berbaris, satu tebing tertinggi dengan pucuk tajamnya yang bersinar. Sinar itu redup ketika mataku mendapati tali gerbang pos terakhir telah terbentang, spanduk yang tampaknya seperti pengumuman yang menutupinya, serta seorang ahjussi yang meneriaki orang-orang yang melewati batas pos terakhir itu. Kemudian ia melihatku, “Closed.”

Kawanan senasib ada yang menghembuskan nafas pasrah, juga ada yang tertawa, mungkin mereka dapat melakukannya di lain waktu. Aku tersenyum getir, hanya dapat memandangi rangkaian tebing tinggi menuju puncak Hallasan di depan mataku. “I’ve came all the way for this??” Pikirku kecewa. Kemudian, memang makanan dan kebaikan hati dapat memperbaiki mood! Seorang oppa membuatku senang dengan memberikan jeruk Jeju. Gagang bunga yang menonjol di atasnya merupakan kekhasan dari jeruk yang hanya ada di Jeju ini. Karena mengira diriku mendaki sendirian, kelompoknya juga memberiku sekantung snack dan menyuguhkan minuman hangat dari termos. Mereka mengajakku ngobrol.

Mau nangis dan kesal banget, katanya. Dia tak menyangka aku meninggalkannya. “Kan akhirnya bisa sampai sini,” sahutku santai. Juga mengeluh capek. Aku tertawa mendengar adikku yang biasanya keras kepala, mengaku kapok naik gunung. Kupikir ia hanya panik karena berada di lingkungan yang tak pernah diinjaknya sebelumnya. Setelah selesai mengomel, kami memakan perbekalan berupa sushi roll kemasan, hadiah dari si oppa, dan berfoto-foto. Jalan turun akan jadi panjang, pemandangan jalur ini sedikit membosankan karena vegetasinya yang rapat.

Kami sampai di bawah sebelum gelap. Dengan celana dan sepatu yang kotor, kami naik bus menuju tea house vegan yang adikku ingin cicip. Ia memang seorang planner sejati, telah merencanakan semua tempat yang akan dikunjungi dan diinapi, makanan perhari yang akan dimakan, serta restorannya. Turun dari bus, angin dengan udara sedingin empat derajat celcius berhembus kencang di perkotaan. Langsung kututup seleting jaketku serta merapatkan mantelku. Sepertinya Jeju berangin dimulai dari sore ke malam hari. Adikku memoto bagian-bagian tea house yang antik, sementara aku ngacir menghangatkan diri ke dalam seperti anak kucing kedinginan setelah tercebur got.

Food saves the day. I would say this is my favorite place to eat in Jeju. Good raw food, good ambiance. Bibimbap, salad koreanya terdiri dari sayur-sayuran segar berwarna-warni dengan saus rempah. Orang korea menaruh minyak wijen hampir pada semua makanannya, dan aku menyukainya! Ada juga udon dari ubi, bakwan sayur, dan kimchi. Porsinya juga murah hati. Suasana tea house ini tenang. Kaca yang lebar memperlihatkan pemandangan pohon mati hitam dengan latar langit Jeju yang biru pekat diselingi awan putih. Cahaya lampu-lampu di dalam ruangan tercermin pada batang-batang pohon di luar. Magis.

Backpacking South Korea Part 1: Gamcheon, Busan

Memasuki babak baru dalam hidup, yakni berpisahnya kedua orang tua, saya mengunjungi satu-satunya saudara kandung yang sudah tiga tahun studi sarjana di Daegu. Ia kuliah sambil bekerja part-time. Adikku ini orangnya sangat mandiri. Meskipun pemalas, tidak pernah olahraga, tapi sangat rajin bekerja mencari uang. Saya kebalikannya.

Busan from Gimhae airport.

Kami bertemu di Busan pada Januari 2019, tubuhnya jadi lebih tinggi daripada dirinya dalam ingatanku. Sepertinya kini tingginya hampir 170 cm. Maklum, sudah tiga tahun tidak bertemu. Kulitnya kini lebih terang dan wajahnya bersih karena udara yang lebih bersih daripada Jakarta. Ia membawakanku syal dan mantel karena sedang musim dingin di Korea Selatan. Karena ingin sekaligus backpacking, Ia membawa kopernya juga bersamanya.

Sebelumnya, semalaman saya belum tidur. Sepupuku mengajakku wisata kuliner dan melihat-lihat Kuala Lumpur, negara tempatnya menetap kini, ketika pesawatku transit di sana. Dilanjutkan penerbangan KL – Busan pukul 02.00 dini hari. Baru tiba di Busan pukul 09.30 pagi, saya berganti pakaian hangat. Kemudian kami melanjutkan sight seeing di sekitar Busan, tepatnya ke Gamcheon-dong, Saha-gu, sembari menunggu penerbangan lokal ke Jeju pukul 04.00 sore.

Busan sangat indah! Kota ini terletak di tengah-tengah pegunungan. Kamu akan disuguhkan pemandangan kota, gunung, waduk, dan laut ketika berada di dalam tram. Kotanya juga kaya budaya, dari nelayan dan pasar ikan sampai desa yang dicat penuh warna di atas bukit yang kami kunjungi yang bernama Gamcheon Cultural Village. Untuk menuju ke Gamcheon-dong, dari bandara Gimhae International Airport ke bandara Gimhae penerbangan lokal ditempuh dengan berjalan kaki. Kemudian dari sana, kamu cukup naik tram, dilanjutkan dengan naik bus atau taxi untuk ke atas bukit. Ternyata lumayan jauh juga berjalan kaki naik ke atas! Di tengah jalan adikku menyerah dan kami naik taxi, lol.

Pemandangan Laut dan Gamcheon Cultural Village dari atas bukit.
“Desa ini dulu miskin banget, jadi warganya inisiatif warnai semua tembok-tembok rumahnya supaya narik wisatawan,” kata Adikku menerjemahkan penjelasan berbahasa Korea dari situs wisata ini.

Di Busan ini penuh jajanan street food yang bikin ngiler. Ada fish cake panas yang paling nikmat dimakan saat musim dingin seperti ini. Berbagai macam bentuk dan rasa mulai dari ikan, udang, kepiting, dan gurita. BBQ, harum manis, dll. Jajanan favoritku dari jenis manis selama di Korea yakni kue dan mochi isi kacang merah. Kamu bisa temui kue kacang merah dimana-mana di Korea Selatan. Baca selengkapnya mengenai kompilasi jajanan dan makanan di Korea Selatan di sini.

Setelah dari Gamcheon-dong, sempatkanlah jalan-jalan di sekitar pasar ikan. Pasar adalah wajah paling dekat kehidupan lokal. Busan terkenal dengan seafood-nya, tak heran jika melihat produk lautnya yang dijajakan sepanjang pasar.

Tidak terasa setelah sedikit sight seeing, lelah juga, dan 1.5 jam lagi pesawat lokal ke Jeju Island akan berangkat. Kami langsung kembali ke bandara, menyempatkan membeli makanan di CU, Indomaret & Alfamart-nya Korea, untuk mengganjal perut, dan meng-charge handphone.

Baca kelanjutan backpacking di Jeju di sini.

Rafting The Cibareno River, EXTREME!

“Mata kalian menyala-nyala melihat air sungai yang pasang,” kenang pelatih arung jeram kami, Lody Korua. “Seperti orang gila,” imbuhnya. Iya, masih muda memang waktunya gila. Yang sedih kalau sampai tua tidak sempat melakukan hal gila. Saya ingat, kala itu Sungai Cibareno berbanding terbalik ketika saat kami menyurveinya berjarak sebulan sebelum dari waktu ekspedisi. Kondisi air saat itu sedang tinggi, hujan mengguyur seharian kemarin. Debit air mengalir deras dilihat dari air sungai yang keruh dan berarus besar. Sungai itu pasang, tetapi kami tetap menuruninya.

Semalam saya menyaksikan presentasi progress pertama yang dilakukan junior-junior saya di Mapala yang bernama EBC II (Ekspedisi Bumi Cenderawasih jilid kedua). Bukan karena EBC tahun lalu belum selesai, melainkan karena ekspedisi ini dilakukan di provinsi yang sama. Di Papua Barat. Bila semua menjalankan latihan, kelima divisi biro peminatan olahraga akan berangkat  dalam ekspedisi gabungan ini. Panjat tebing, paralayang, selam, arung jeram, dan telusur gua.

Tidak terasa saya telah menghabiskan sebagian besar waktu saya di organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang eksplorasi alam bebas dan konservasi alam ini. Dari pengalaman bergiat di Mapala UI, saya memahami sebagian dari diri saya. Saya tidak suka pekerjaan monoton yang sama setiap hari. Saya lebih suka mewujudkan visi menjadi kenyataan. Melakukan hal yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya lakukan adalah sebuah tantangan tersendiri. Menghadapi jatah semester terakhir saya di kampus, membuat saya terinspirasi untuk menulis semua perjalanan yang pernah dilakukan. Dimulai dari yang lebih dulu, yakni Eksplorasi Sungai Cibareno.

Sungai Cibareno adalah sungai yang cukup ekstrem. Sungai ini bertipe continuous yang memiliki jeram-jeram ber-grade 3-6 tersebar di seluruh bagiannya. Terlebih di bagian tengah sepanjang 8.2 km yang sebagian besar berisi jeram grade 4 hingga 6. Membelah dua kabupaten, Kabupaten Banten dan Jawa Barat. Kami akan mengarungi sungai tersebut sepanjang 23 km dari Desa Bayah di Taman Nasional Halimun Salak, hingga muaranya di Pantai Cibareno, yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di selatan Pulau Jawa. Kami membaginya menjadi 3 section. Section I sepanjang 5.9 km (Medium Risk), section II sepanjang 8.2 km (High Risk), dan section III sepanjang 9.1 km (Low Risk). Sebelumnya, tim kami berlatih di sungai-sungai sekitar Jawa Barat, yakni: Sungai Cisadane, Sungai Citarik, Sungai Cicatih, dan simulasi di Sungai Cikandang. Secara umum, sungai-sungai tersebut memiliki grade 3-5.

Eksplorasi ini bukanlah first descent. Angkatan senior Mapala kami, BKP 1995 dan BKP 1997 pernah mengarunginya pada 1998 pada section tertentu. Operator arung jeram sekaligus atlet sebuah perusahaan arung jeram pernah melakukan percobaan di sana, namun gagal. Kami, tim 2 perahu yang berisi 10 orang yang hanya latihan 3 kali seusai kuliah dalam seminggu di danau kampus, dan 2 kali turun sungai dalam sebulan, nekat untuk mencoba sungai ini. Dea, Ichaw, Nisya, Salsa, Ben, John, Manak, Joko, Pipit, dan saya. Eksplorasi ini adalah sebagai ajang latihan bagi kami sebelum menginginkan ekspedisi di Papua. Sungai Cibareno dipilih karena lokasinya yang dekat serta tingkat kesulitannya yang tinggi.

IMG_6303

Benarlah, baru beberapa detik perahu turun ke sungai, hanya berjarak beberapa dayung saja, perahu kami dibuat tegang miring 90 derajat oleh arus. Naluri untuk bertahan hidup, masing-masing kami di perahu Aire biru memanjat ke high side (sisi yang lebih tinggi) dari perahu. Untunglah tidak ada yang melamun, sehingga tidak ada yang terjatuh. Setelahnya, perahu kami diterjang terus-menerus oleh standing waves.

Tim perahu lain yang memimpin, Aire Merah, berisi Penanggung jawab Teknis yang ingat benar bentukan sungai, menghentikan perahunya dengan susah payah pada eddie (arus sungai yang berputar di tempat yang relatif lebih tenang daripada sekitarnya) pertama di sungai berarus continuous kencang ini. Kami harus mengikat tali anchor perahu ke sulur-sulur pohon yang tumbuh di tebing di sisi sungai.

Kanan dan kiri dari sungai ini adalah tebing, itu yang menjadikan aksesnya sangat sulit. Saya teringat saat memetakannya sungguh menyiksa. Kami harus naik-turun tebing selama beberapa hari untuk melihat semua penampakan muka sungai ini. Kami tidak dapat menyusurinya di sisi sungai karena setiap beberapa meter, batu-batu raksasa memblokadenya. Masih beruntung beberapa km di atas tebing terdapat sawah yang dapat dilewati, namun tidak sedikit juga di atas tebing terdapat hutan dengan punggungan vegetasi lebat. Seringkali punggungan-punggungan di Taman Nasional Halimun Salak itu berujung pada bukit batu yang tidak bisa dilewati, sehingga kami harus ‘menjahit’ punggungan. Eksplorasi ini lebih menyiksa lagi, karena kali ini kami harus naik-turun tebing menyusuri jeram yang tidak dapat dilewati dengan portaging (mengangkut perahu) Aire seberat 60 kg!! Belum lagi ditambah berat keseluruhan air yang masuk ke perahu karet. “Eksplorasi ini adalah eksplorasi yang berat. Bukan hanya sungainya yang berat, terlebih juga perahunya,” celetuk John pada kamera.

IMG_6385IMG_6393

Kedua perahu, merah dan biru, telah terikat kuat di sulur-sulur pepohonan tebing sisi sungai. Kami semua menaiki tebing setinggi 1,5 meter dan melewati persawahan. Scouting dilakukan terhadap 2 buah jeram grade 4. Setelah berdebat beberapa waktu, akhirnya sebagian besar anggota tim beranggapan kedua jeram tersebut dapat kami arungi. Tiga orang anggota pengarungan bersiap dengan throw rope (gulungan tali di dalam tas yang digunakan untuk me-rescue) di atas tebing batu, siap untuk melemparkannya ketika ada orang yang terjatuh dari perahu dan terseret arus. Sementara itu, saya siap mengabadikannya dengan kamera.

Saat tim saya menuruni jeram tersebut. Belum pernah perahu kami terangkat begitu tinggi. Seperti naik roller coaster, begitulah kira-kira rasanya mengarungi jeram section 1 Cibareno.

IMG_6337

Usai bersorak-sorai berhasil mengarungi jeram, kami mencari tempat makan siang. Melewati bagian sungai yang lebih tenang. Sambil mendayung, teman-teman masih asik membicarakan serunya aksi mereka barusan, sementara saya melihat sekeliling. Section I sungai ini rupanya sangat indah. Tebing-tebingnya yang menjulang seperti bongkahan batu keramik. Juga pemandangan pepohonan yang tumbuh mencuat di sela-selanya, dengan sulur-sulur yang menjulur ke sungai. Kami menemukan sisi sungai yang tenang dengan pemandangan terbuka indah. Di sekeliling sisi sungai kami melihat hutan hijau tropis. Seekor kupu-kupu hutan yang besar menemani kami menyantap perbekalan.

IMG_6352

Setelah santap siang, kami melakukan scouting di 2 jeram berikutnya yang juga berjarak berdekatan. Nampaknya pengarungan Sungai Cibareno di section I ini berpola sama, “Sekali arung, dua jeram dilewati”. Saat pemetaan sebulan sebelumnya, jeram berikut tergolong grade 6 atau tidak mungkin diarungi karena jalur tidak cukup besar. Batu besar yang berada di ujung jeram memblokade jalur, menjadikannya tidak cukup besar untuk dilewati badan perahu. Namun, pada hari eksplorasi, air pasang membuat batu tersebut terendam, tetapi membuat hole frowning berukuran raksasa. Anggota yang melakukan scouting beranggapan jeram tersebut dapat dilewati. Tidak semua orang melakukan scouting pada saat itu, hanya 4 orang. Saat evaluasi pada hari kecelakaan, mayoritas beranggapan frowning raksasa tersebut tidak dapat dilewati.

IMG_6365

Kesialan terjadi di saat yang tepat, dua orang awak sekaligus jatuh di jeram pertama…

Saya masih merekam saat Dea, skipper perahu merah terjatuh di jeram pertama. Diikuti Ichaw yang juga terjatuh. Dari ceritanya, seluruh awak perahu kehilangan fokus antara tetap mengendalikan perahu karena akan menghadapi jeram di depan, atau menarik tubuh Dea dan Ichaw yang terseret arus untuk kembali ke perahu. Dea sempat berpegangan pada tali anchor perahu, tetapi pegangan tangannya terlepas. Ichaw yang seorang atlet renang berhasil berenang kuat crossing ke tepi sungai. Tim merah berhasil menepikan perahu pada eddie yang berjarak tidak lebih dari 5 meter di jeram berikutnya.

Perahu ditarik oleh tim biru di daratan, anchor ditambatkan. Tepat sebelum masuk jeram, Dea meraih throwrope yang dilemparkan padanya, tetapi, buah simalakama, pegangannya pada tali tersebut menahannya di jeram. Hanya tangannya yang tampak memegang tali dengan tubuh di bawah air. “LEPAS DE!! LEPAS TALINYA!!” Teriak pelempar, ketika kepala Dea muncul ke permukaan. Dea melepas tali tersebut, tubuhnya masuk ke dalam hole selama beberapa waktu. Tubuhnya lemas saat kembali muncul ke permukaan. Ben melesat mengejar Dea yang terbawa arus. Saya menaruh kamera saat Ben terpeleset di tebing sisi jeram frowning raksasa dan jatuh tepat ke dalam hole. “BEEEEEEN!!!” Manak melesat ke atas tebing dan melemparkan throwrope pada Ben. Saya melihat tangan Ben menggapai-gapai di atas air, dengan kepala yang berusaha mencari udara. “BEEEEEN!!!” Seraknya teriakannya karena tiadanya tangan Ben yang meraih. Yang ada hanya tali-temali terulur di atas jeram.

Ben muncul ke permukaan! Setelah mendapatkan udara kembali, dirinya yang merupakan orang terkuat dalam tim, masih mampu berenang ke tepian. Sementara itu, Dea belum jelas keberadaannya. Ben berlari menyusuri sungai, kali ini dengan lebih hati-hati. Tim menghubungi tim darat. Ben kembali dan menceritakan bahwa banyak warga yang keluar, berkumpul untuk mencari korban tenggelam. Setelah beberapa jam berlalu,  tim darat memberi kabar ada seorang petani yang menemukan seseorang tenggelam. Rupanya, informasi di desa kecil itu cepat sekali tersebar. Ben, John, dan Manak menjemput Dea ke lokasi. Anggota tim yang tersisa kembali masuk ke hutan, mencari area yang datar untuk membangun shelter dengan flysheet. Menjemur peralatan, dan memasak makan malam.

Larut malam, mereka kembali dengan Dea. Mereka menemukannya berjarak 800 meter dari jeram terakhir ia hanyut. Itu berarti hampir sama dengan ketika kami pernah renang jeram jauh sekali (jaraknya seperti Depok-Jakarta), saat latihan di Sungai Cicatih, ketika diantara kami tidak berhasil flipflop perahu. Kami renang jeram sejauh itu di sungai yang telah kami kenal, sementara Dea telah hanyut di sungai ber-grade ekstrem yang belum pernah kami arungi. Pembuluh darah matanya pecah, salah satu bola matanya merah. Dea dan Ben bercerita bahwa mereka tertelan ke dalam hole untuk beberapa waktu. “Gue bodoh, nggak mikir lagi,” aku Ben teringat kejadian itu.

Esok paginya, kami mengevaluasi hari kemarin. Banyak kebodohan yang telah kami lakukan, seperti diantaranya: Tidak semua anggota sempat melakukan scouting, alhasil keputusan mengarungi jeram tersebut diambil oleh 3 orang saja. Padahal menurut penilaian, jeram tersebut termasuk jeram merah yang sangat beresiko. Pelempar throw rope hanya 2 orang yang berjaga di sisi sungai, padahal minimal adalah 3 orang menurut Standard Operational Procedure. Kedua pelempar throw rope juga tidak berada di sisi sungai yang lebih tenang. Dan sempat ingin mengejar anggota yang hanyut dengan perahu melewati hole frowning raksasa tersebut.

Pergerakan selanjutnya dibuat, voting dilakukan untuk menentukan apakah tim akan mengarungi section II sepanjang 8.2 km yang didominasi jeram-jeram ber-grade 5 sampai 6. Saya angkat tangan, sama sekali bukan karena takut, melainkan saya sangsi tim akan mengarungi section II. Saya tidak mau portaging sepanjang jeram-jeram di section tersebut. Skill kami memang belum cukup. Bila bersikap realistis, menghadapi jeram section I saja kami sudah kewalahan, terlebih jika section II di mana jeram-jeramnya seperti “gundu yang disebar Tuhan.” Sebagai salah seorang yang memetakannya, section tengah Sungai Cibareno dipenuh dengan batu-batu raksasa dengan kanan-kiri tebing yang tinggi. Saya tidak bisa membayangkan portaging dengan situasi seperti itu. Salsa dan Joko yang melakukan pemetaan section tengah bersama saya mengiyakan. Keputusan berakhir pada memotong pengarungan section II dan melanjutkan pengarungan ke section III.

Kami memutuskan untuk melewatkan jeram frowning raksasa tersebut, tidak kembali mencoba mengarunginya. Kami semua portaging ke atas bukit dan tebing, menaruh perahu di sisi sungai, dan melakukan lining (membiarkan perahu tak berpenumpang terbawa arus dengan tetap mengikatnya dari atas). Benarlah, ketika dilakukan lining melewati jeram frowning raksasa tersebut, perahu hampir terbalik di atasnya! Mungkin memang Dea sengaja menjadi tumbal, sehingga kami semua tidak tercerai-berai di jeram tersebut.

Lining, perahu hampir terbalik (video)

Baca juga: https://travel.kompas.com/read/2018/03/13/221000627/mencari-restu-adat-demi-mengarungi-sungai-cibareno?page=all

More photos:

IMG_6314IMG_6336IMG_6422IMG_6447 (1).JPGIMG_6449

 

 

 

 

 

THE FREE STATES OF JONES Movie Review

e-POSTER-FINAL

Director: Gary Ross

Starring: Matthew McConaughey, Gugu Mbatha-Raw, Mahersala Ali, Kerri Russel, Christopher Berry

Score: 7.8/10

Jika melihat trailer resmi film Free State of Jones, ekspektasi yang muncul untuk film ini yaitu nantinya akan penuh pertumpahan darah karena terdapat banyak baku tembak. Tetapi nyatanya, salah besar! Film ini lebih cocok dikatakan sebagai film drama-sejarah daripada film drama-perang karena porsi “ngeri” di medan peperangan yang lebih sedikit. Film yang diangkat dari buku The State of Jones oleh Sally Jenkins dan John Stauffer, juga The Free State of Jones oleh Victoria E. Bynum ini menceritakan tentang sejarah Jones County, berlatar pada masa perang sipil Amerika. Tenang, Kamu tidak akan dikhianati oleh promosinya, kok. Tetap banyak adegan perang pada film ini. Namun, perangnya adalah perang gerilya alias perang kecil-kecilan. Kata kunci pada trailer-nya yang menunjukkan inti dari film ini adalah ujaran dari Newton Knight (Matthew McCounaghey) yang mengatakan, I’m tired of helpin’ ‘em fight for their damn cotton.

THE FREE STATE OF JONES

Ujaran Newt itu merujuk kepada Twenty Negro Law yang dikeluarkan oleh pihak Konfederasi. Hukum tersebut membebaskan setiap satu anak dari petani kaya untuk wajib militer, jika memiliki minimal dua puluh budak kulit hitam dan berlaku kelipatannya. Hal itu dimaksudkan agar sumber daya kapas sebagai devisa utama Konfederasi tetap diproduksi dengan baik, meskipun dalam situasi perang. Hukum itu mengecewakan Newton, seorang petani miskin kulit putih sekaligus tenaga medis yang telah berhasil bertahan dalam Battle of Corinth.

FREE STATE OF JONES

Tertembaknya keponakan Newt dalam sebuah perang, membuat Newt pulang ke kampung halamannya di Soso. Sesampainya di sana, ia menyaksikan pemungut pajak merampas semua hak milik petani dan peternak kecil termasuk hasil ladang dan ternak, juga barang-barang miliknya dan keluarganya. Geram dengan hal itu, ia menghalangi pemungut pajak, dan kemudian dicap sebagai pembelot. Terluka karena digigit oleh anjing yang biasa mengejar budak yang kabur, Newt kemudian diantar ke sebuah rawa oleh seorang budak milik abolisianis yang bernama Sully. Di sana, Newton bertemu dengan budak-budak yang kabur. Setelah perang sipil usai, jumlah desertir bertambah banyak. Mereka menemukan jalan sendiri ke rawa tersebut di mana para prajurit dan budak yang kabur berkumpul. Dipimpin oleh Newt, komunitas itu kemudian menyusun pemberontakan terhadap Konfederasi.

FREE STATE OF JONES

Menonton film ini, membuat kita turut berempati terhadap orang-orang kulit hitam pada masa perbudakan. Kita ikut merasakan bagaimana rasanya diburu terus-menerus. Menontonnya sedikit melelahkan karena film ini ber-tone gelap dengan kemalangan yang mengikuti. Kanal Variety memberikan deskripsi yang bagus. Kita akan merasa menjadi seorang ‘liberal yang baik’. Hal tersebut paling pas ditunjukkan dengan jawaban Moses “Why you ain’t?” Atas hinaan yang dilontarkan oleh seorang desertir kulit putih yang memanggilnya budak N****. Newt kemudian memperjelas hal itu dengan mengatakan para budak kulit hitam hanya mengambilkan kapas demi petani kaya, sementara orang kulit putih rela mati demi mereka. Menontonnya membuat kita sadar bahwa yang dulu diperjuangkan seperti persamaan ras kini dapat kita nikmati. Suasana pada jaman itu makin terasa dengan dilengkapi foto-foto perang sipil Amerika sungguhan. Selain itu, film ini membuat kita mengerti bahwa perlunya belajar dari sejarah agar tindakan bodoh seperti diskriminasi ras pada jaman dulu tidak terjadi lagi.

fsj 4

Hal lain yang patut diapresiasi yaitu akting dari Matthew McCounaghey. McCounaghey memerankan Newton Knight yang sangat praktikal dan tanpa keraguan sedikit pun. Tindakan impulsifnya yang emosional suksesmembuahkan kontroversi dalam kenyataan; apakah ia layak disebut pahlawan atau hanya seorang preman yang merampok ladang-ladang milik orang kaya. Ya, Newton Knight digambarkan sebagai seseorang yang meninggalkan ambiguitas moral demi mencapai tujuannya. Wah, jika ia adalah pembuat komunitas interrasial pertama dan mematangkan Union dalam memenangkan perang demi menghapuskan perbudakan, so, he’s the man!

free 1

Meskipun begitu, Free State of Jones tidak luput dari kekurangan. Yang pertama, emosi dalam film ini cenderung kaku. Baik emosi kesedihan ketika Konfederasi dengan semena-mena membunuh para desertir dan budak, maupun emosi percintaan yang tertahan antara Newton Knight dan Rachel, kekasih Newt yang seorang mantan budak. Kemudian, selipan-selipan dalam film mengenai kisah cucu laki-laki Newt yang tidak bisa menikahi pacarnya karena seorang ras campuran atas peraturan di Missisipi pada saat itu sedikit mengganggu.

@mutshiaa

Tulisan ini pernah dipublikasikan di cinemaniaindonesia.wordpress.com.

https://cinemaniaindonesia.wordpress.com/?s=mutshiaa&submit=Search

Twitter @CINEMANIA_ID (https://twitter.com/cinemania_id?lang=id)

Now CINEVERSE (https://cineverse.id/category/cinemania/).

Hiking Mount Semeru, Women & Hiking in Indonesia

7Apa tanda-tanda jika saya menyukaimu? tandanya adalah saya mau berbagi hal-hal favorit saya. Makanan, minuman, es krim kesukaan saya. Sama seperti postingan ini yang menceritakan saya yang berbagi petualangan dengan orang terdekat saya.

Meskipun saya memiliki banyak teman dan tergabung dalam banyak kelompok, hanya sedikit orang-orang yang dekat dengan saya. Saya memutuskan untuk liburan mengunjungi Gunung Semeru, Gunung tertinggi di Pulau Jawa, bersama sahabat saya yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, Shallyna. Ia seorang sahabat saya sejak di sekolah menengah atas. Ia telah memperkenalkan banyak hal kepada saya, dan kami telah mencobai banyak hal baru bersama. Saya pun ingin ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Selain itu, saya mudah bosan dan sering berganti-ganti suasana. Saya bukan tipe orang yang menghabiskan waktu di satu tempat atau satu kelompok saja. Itu pula sebabnya saya tidak mengajak teman-teman yang biasa mendaki gunung bersama saya. And we both knew if we do it, it is gonna be one of our best memories together in our lifeEspecially because of that is her first time.

Manusia takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya. Penentang yang paling bersikeras biasanya adalah orang yang tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu. Anak-anak muda Indonesia telah disuapi dogma mengenai pentingnya ijin orangtua sebelum mendaki gunung. Berbagai berita mengenai celakanya anak-anak muda yang mendaki gunung tanpa seijin orang tuanya marak beredar dari mulut ke mulut, hingga di media sosial. Mulai dari yang hilang karena tersesat akibat kabut tebal menghadang, jatuh ke jurang, hingga ‘disesatkan’ oleh makhluk astral. Berita-berita yang menarik banyak pembaca, namun menanamkan ketakutan massal tersebut juga menjangkiti orangtua kami. Dan benarlah, hambatan pertama datang dari orang yang paling kami cintai, yakni para Ibu kami. Ibu-ibu kami tidak pernah mengunjungi gunung.

Seorang Ibu akan melakukan apapun agar kita tidak pergi. Mereka saling bertelepon dan menyamakan pendapat. Mulai dari alasan yang logis seperti, berbahayanya hal tersebut karena Shally tidak pernah mendaki gunung sebelumnya dan ia akan merepotkan saya. Kemudian alasan yang mulai tidak logis seperti, berbahaya karena it is just two of us and we’re girls (and all of men we’ll find in the trip probably want to rape us). Hingga pernyataan final yang dipaksakan seperti perkataan seorang Ibu itu mengandung mukjizat, yang tanpanya kami tidak dapat kelancaran. Perkataan seorang Ibu itu dapat menjadi kenyataan, yang dengan sumpahnya kami tidak akan selamat.11Alhasil, karena mata kami hanya tertuju pada Semeru dan kebutuhan untuk bertualang di alam yang tak terbendung lagi, kami memutuskan untuk tetap pergi. Perasaan lega muncul ketika kami bertemu teman-teman baru di Jeep yang kami tumpangi dari Tumpang menuju Ranu Pane. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang dari kelompok inilah yang akan bersama kami selama beberapa hari kedepan. Kelompok kami berjumlah 11 orang, 6 orangnya dari Banyuwangi, dan 3 orang lainnya dari Jakarta. Kami tiba di basecamp Ranu Pane pada 4 Juli 2017. Kami baru mengetahui betapa Gunung ini menjadi sangat populer, akibat film 5 CM, hingga kuota pendakian Gunung Semeru dibatasi ‘hanya’ 500 orang saja perharinya. Kami tiba terlalu malam, sehingga tidak sempat me-booking dengan menaruh KTP kelompok di loket taman nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sehingga kami harus menunggu satu malam lagi. Dua malam tersebut merupakan malam terpanjang bagi kami, karena udara di Ranu Pane saat itu begitu dingin yang tidak memungkinkan kami untuk tidur nyenyak.

 

Berbeda lagi dengan siangnya, sebuah drama menyebabkan saya merasa tidak tahan melewatkan hari itu lebih lama lagi. Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar Desa Ranu Pane. Selesai mengunjungi sebuah danau, Ranu Regulo, kami melihat sebuah gapura dan arca yang cantik. Ternyata setelah didekati, tempat itu adalah sebuah pura. Pura Ulun Danu di Ranu Pane. Setelah menanyakan kepada seorang Bapak berkopiah, ia membolehkan kami untuk masuk kesana. Shally memasuki pura tersebut, sementara saya membaca tulisan tata tertib pura yang letaknya agak tersembunyi. Belum sempat saya mengobrol dengan teman saya mengenai isi dari tata tertib tersebut, seorang tua yang memakai iket udeng melesat cepat ke dalam pura. Ia menginterogasi dan memarahi teman saya. Terdengar bentakan-bentakan dari mulutnya, tubuhnya yang tua bergetar. Si tua penjaga pura ini mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Nampaknya ia merasa terhina karena tempat berdoanya ternodai oleh seorang muda yang masuk tanpa berpakaian rapi. Di situlah drama itu dimulai. Shallyna terus-menerus mengutarakan ketakutannya akan kesialan yang bisa datang. “Kejadian tadi siang itu merupakan sebuah tanda,” katanya bersikeras. Saya nampak tidak mau mendengarkannya. “Hal-hal yang unik seperti ini yang harus kita perhatikan,” ia mengulangi saran seorang gadis yang telah mengikuti Open Trip ke Semeru. Jelas lah si gadis berkata demikian, karena saya mengetahui dalam sebuah Open Trip selalu ada seorang guide yang menginformasikan mitos-mitos setempat. Dan saya tidak percaya mitos. Saya telah mendengar curahan hati Shally mengenai ketakutannya akan kesialan yang akan menimpa karena tidak memiliki restu Ibunya saat perjalanan di kereta. Dan sekarang saya harus mendengarkan spekulasi-spekulasinya mengenai bencana yang akan menimpa kami. Hal ini merupakan energi negatif dan buruk bagi saya. “Biasa lah Shel, orang tua tadi tuh cuma mengabdi sama agama, jadi tingkahnya begitu. Gampang tersinggung,” hibur saya. “Kalo ada apa-apa sama gue emang Lo mau tanggung jawab? Nggak kan?” WTF. Ia mulai bertingkah seperti mamanya dan Ibu saya. Menimpakan hal ini kepada saya, seakan saya satu-satunya yang harus bertanggung jawab jika nanti terjadi apa-apa padanya. “Yaudah, kita lihat saja. Kalau di perjalanan Lo sial, kita pulang saja” Tentu saja saya tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Pulang setelah perjalanan 17 jam di kereta? No way. Kemudian ia merajuk, “PULANG? Itu saja yang bakal Lo lakukan?” That was really hitted my nerve. “Mut, ya emang bener kan, kalau di tempat-tempat kayak gini tuh harus perhatiin hal-hal kayak tadi. Karena memang masyarakat sini masih percaya banget sama hal-hal kayak gitu”. Saya hanya dapat berkata dalam hati karena malas berdebat saat itu, “Tetapi itu bukan kepercayaan saya. Itu kepercayaan mereka. So, it has nothing to do with me.”

Setiap gunung di Indonesia memiliki mitos-mitos. Warga lokal akan melarangmu ini dan itu, menceritakanmu tentang hantu yang ini dan yang itu. Saya menghormati kepercayaan mereka yang mengandung kemistisan itu, tentu saja, tetapi itu bukan kepercayaan saya. If you become upset about what they say, you wouldn’t get anywhere. Lagipula, kesialan dapat diantisipasi dengan persiapan yang baik dan sikap hati-hati.

Suasana tegang diakhiri dengan ngobrolin soal ‘tenda goyang’, yang mungkin merupakan salah satu yang dapat kami tangkap dari dari ucapan teman-teman dari Banyuwangi. Mereka berbicara Bahasa Jawa dan kami tidak mengerti. Meskipun begitu, kami cukup puas dengan mereka berusaha menerjemahkan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Kembali lagi ke tenda goyang, saya dan Shally sama-sama ingin melakukannya suatu hari nanti. I have been wanting that since a long time ago, actually. “Tapi nggak di gunung di Indonesia. Mistis, sih,” kataku. “Iya, katanya hantu tuh nggak suka wilayahnya dinodai sama sex”. Meskipun saya tidak suka memercayai hal semacam itu, saya tetap saja tidak mau dijailin dengan tidak dapat dilepasnya penis siapapun itu dari kemaluan saya!

Saya kira perjalanan ini tidak mengecewakan, Semeru memang seindah yang ada di foto-foto yang ada di penelusuran google (google image). Tiket kereta yang tiga kali lipat lebih mahal karena kami kehabisan tiket, sungguh terbayar. Kami mulai mendaki pada tanggal 6 Juli dan selama 3 hari kedepan, kami sungguh beruntung mendapatkan cuaca sangat cerah. Kami tiba di Ranu Kumbolo pada saat paling indahnya, yaitu saat sore hari. Padang ilalang di sekitar Ranum menjadi padang berwarna keemasan, dan pancaran biru gelap air danau tampak begitu meneduhkan. Tentu saja, kami menyempatkan langsung mengabadikannya dalam foto. Tidak hanya Ranu Kumbolo, sepanjang jalur dari entry point Desa Ranu Pane menuju Mahameru sangat indah! Tentu saja, karena tidak berkabut. KAMI SANGAT BERUNTUNG. Mulai dari bukit dan tebing karst dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo, kemudian padang rumput dan bunga lavender di Oro-oro Ombo, pohon-pohon cemara di Cemoro Kandang, padang bunga edelweiss di Jambangan, berkemah dengan view Gunung Semeru di Kalimati, hingga pemandangan yang dapat terlihat di.jalur summit Puncak Semeru yang luar biasa indah.

2

8

9

Setelah Shally dan rombongan dari Banyuwangi mengantarkan saya dan ketiga orang dari Jakarta Timur, kami pamit di bawah rindang pohon-pohon cemara, di perbatasan antara Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo. Shally memutuskan untuk tidak summit karena mengejar kereta yang telah ia beli tiketnya. Ia hanya memiliki 1 hari lagi yang akan dihabiskan untuk mengunjungi Bromo.

Saya tidak akan menceritakanmu mengenai summit ke Mahameru. Biar itu menjadi kejutan buatmu juga. Yang akan saya ceritakan disini ialah saat saya hendak sampai di puncak, yang saya tempuh 7 jam lamanya, sehingga saya memandang sunrise ketika masih di kemiringan. Eric, teman jalan saya yang juga dari Jakarta, menjabat seorang tua yang adalah kenalannya. Bapak-bapak itu juga menjabat tangan saya. “Berapa lama, Bang, summit-nya?” Dengan malu-malu kucing ia menjawab, “Empat atau lima jam, gitu”. Saya dan teman-teman takjub mendengarnya. Seorang tua ini mestilah seorang ahli dalam mendaki gunung. Eric menjawab merendah, “Wah, kita yang muda-muda aja tujuh jam, Bang”. Seorang tua ini kemudian melirik saya sambil tersenyum, “Maklum lah tujuh jam, bawa wanita soalnya”. Mata saya menyipit mendengarnya, memandanginya lekat-lekat. Dasar orang tua seksis.

12

13

Memang saya tidak ikut bergantian membawa satu carrier kecil yang dibawa kelompok kecil saya, namun saya sama sekali tidak membebani tim dan membawa air minum  summit saya sendiri. Malah, saya berjalan di paling depan. Jika saat itu saya tidak berjalan sendirian alias mendaki bersama lingkaran kawan naik gunung saya, saya tidak akan mengetahui tentang hal ini. Saya tidak menyalahkan Si Tua itu juga, karena memang inilah yang terjadi di kalangan pendaki-pendaki di Indonesia, di luar kepecinta-alaman. Mereka menganggap mendaki gunung adalah olahraga laki-laki. Karena itulah rombongan dari Banyuwangi tidak mengajak pacar-pacarnya. “Takut nggak kuat, Mbak” jelas Yordan, salah seorang anak rombongan dari Banyuwangi, lelaki yang supel dan menyenangkan. “Ama itu, takut kena penyakit kedinginan itu…”. “Hipotermia,” imbuhku. Eric juga tidak mengajak pacarnya. “Wah, bahaya!” sahutnya. “Takut nagih, ya?” tanya Bongki, juga teman jalan kami. “Pasti nagih, nanti jarang di rumah,” Eric menambahkan. Bukan hanya itu, dalam sebuah angkot di perjalanan pulang di terminal Bekasi-Pulogadung, saya juga ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain. Katanya, mereka direpotkan dengan membawakan carrier teman-temannya yang perempuan. Seorang lelaki yang mengambilkan beberapa botol air Ranu Kumbolo untuk Shally juga bercerita yang serupa. Alhasil, mereka semua jadi kapok mengajak teman-teman perempuannya lagi.

Saya tidak berbicara mengenai kemampuan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan seharusnya berhenti melemahkan diri, atau mengambil kesempatan dari enaknya jadi perempuan (meskipun saya juga terkadang melakukan itu) untuk dapat mencapai kesetaraan. Mempersiapkan diri sebelum pendakian dengan jogging dan latihan fisik menjamin tidak akan merepotkan selama perjalanan. Kemudian, jangan pernah mengiyakan keterbatasan-keterbatasan karena lahir dalam tubuh perempuan. Contohnya, mamamu melarangmu naik gunung karena kamu seorang perempuan. Memangnya semua laki-laki ingin memperkosa? Atau, mamamu melarangmu naik gunung karena jika kamu dapat naik gunung, tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu karena kamu adalah perempuan yang kuat. Well, if  he does not like you, he is simply not your type.

Terakhir, saya senang telah mengajaknya naik gunung untuk pertama kali. Mengapa? Dulu, saya pernah berpikir bahwa saya akan capek jika harus mengikuti gaya hidupnya di masa depan. Shally adalah orang yang cenderung suka hedon. Contohnya makan di restoran fancy dan membeli tas-tas branded. Dan ia akan menjadi seorang dokter. Kami sahabat sejiwa dan tahu hanya maut yang memisahkan kami. Saya senang nantinya kami tetap bisa melakukan hal yang cocok untuk dilakukan berdua. Kini, sepertinya ia lebih berkeinginan menghabiskan uangnya untuk naik gunung daripada untuk hobinya yang lalu.

10

 

 

Later, In The Future… #LGBTQ

Tulisan ini dibuat pada 2016 lalu.

Betapa sesuatu yang dulu dianggap gila, adalah hal yang normal kini. Masa lalu penuh dengan kebodohan-kebodohan. Masa kini kelak akan menjadi masa lalu di masa depan. Dan kebenaran berpihak pada posisi dimana kita berpijak dan melihat.

Do not afraid to be eccentric in opinion, for every opinion now accepted was once eccentric – Bertrand Russel.

Yah, mungkin postingan ini dapat dibilang “terlambat”, karena momentum hebohnya LGBT sudah lewat, tetapi, postingan ini hanya menjadi pengingat bagi saya. Tahun 2016 menjadi tahun yang patut diingat (terlebih bagi saya pribadi), karena tahun ini teman-teman (LGBT) yang mungkin telah lama bersembunyi, mulai terlihat. UI hampir bubar (bercanda) karena komunitas yang tidak dianggap menampakkan dirinya. Negara saya sempat heboh dengan adanya berita-berita dari media Repu***** yang tanpa ijin menggunakan foto seorang mahasiswa kampus yang gay dengan judul semena-mena (hal tersebut dilakukan tanpa konfirmasi, saya mengetahuinya karena berada di group chat SGRC). Dari media sosial dan chatting pribadi, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat, menteri-menteri hingga presiden memberi tanggapan beragam.

Saya jadi teringat film gerakan favorit saya, yaitu The Normal Heart (2014). Film ini menceritakan tentang saat wabah HIV AIDS melanda New York pada 1981-1984, dilihat dari kacamata seorang penulis dan aktivis gay Ned Weeks (Mark Ruffalo) yang juga pendiri organisasi advokasi HIV yang bernama Gay Men’s Health Crisis. Organisasi tersebut mengumpulkan dana untuk penelitian mengenai penyakit yang kini disebut AIDS (saat itu dianggap penyakit gay, belum ada istilah dalam kedokteran). Ned  yang memperjuangkan penyakit tersebut agar diakui keberadaannya dan dijadikan prioritas oleh negara meminta Felix Turner (Matt Bomer), seorang New York Times reporter untuk lebih banyak mempublikasikan mengenai wabah penyakit misterius yang belum terusut tersebut. Ned dan Felix kemudian mulai menjalin cinta.

Berikut ini adalah scene favorit saya, scene yang menyentuh titik empati saya. Ketika kekasih, teman, dan saudara satu sama lain mulai hilang bentuk  dan sekarat karena AIDS, dalam persembunyian di sebuah pesta komunitas gay, mereka berdansa…

(Di sini nggak bisa diputar videonya. Tonton di sini: The Normal Heart 2014 )

Setelah browsing sedikit mengenai Prof. Musdah Mulia, sosok peneliti Departemen Agama RI yang memberi opini berani mengenai legalnya pernikahan LGBT, saya jadi paham mengenai teka-teki tulisan berjudul “Gender” yang ditulis oleh Hendri Yulius pada Tempo edisi 18-24 April 2016.

Pertama-tama, saya beberkan terlebih dahulu opini Prof. Musdah mengenai legalitas pernikahan sesama jenis: LGBT itu dibolehkan oleh Islam karena yang dilarang adalah pernikahan sesama jenis yang merujuk pada ‘same sex’ atau sesama jenis kelamin. Sementara itu, LGBT merujuk pada ‘gender’ atau konstruksi sosial terhadap jenis kelamin seseorang. Jadi, menurut tokoh agama progresif, LGBT tidak haram karena meskipun jenis kelamin pasangan tersebut sama, namun gender-nya berbeda.

Jika dipikir-pikir, apa yang dahulu dianggap ‘terlarang’, apa yang dulu diperjuangkan, kini satu-persatu dapat kita nikmati. Jika bernostalgia, dulu, para feminis memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dulu, para tokoh anti aparteid berjuang untuk menghapus perbudakan dan aniaya terhadap ras tertentu  yang dulu dilegalkan. Kini, kita dapat menikmati kesetaraan itu.

Sejarah kelam yang paling terlihat di negara kita adalah, dulu, seorang jenderal polisi yang terkenal baik dengan karir yang sangat memuaskan, menjadi jatuh terpuruk hanya karena ia  berupaya menghimbau masyarakat untuk memakai penutup kepala yang kini kita sebut sebagai ‘helm’. Saat itu, safety belum diutamakan dan kecelakaan adalah hal yang biasa. Jenderal itu melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Masyarakat menganggap penutup kepala itu gila. Karirnya jatuh dan dirinya dipenjarakan. Jenderal tersebut benar-benar berpikir melebihi masanya.

“Beruntunglah orang-orang yang merasa terasing (teralienasi)” – K.H. Husein Muhammad.