Kelak, di Masa Depan…

Tulisan ini dibuat pada 2016 lalu.

Betapa sesuatu yang dulu dianggap gila, adalah hal yang normal kini. Masa lalu penuh dengan kebodohan-kebodohan. Masa kini kelak akan menjadi masa lalu di masa depan. Dan kebenaran berpihak pada posisi dimana kita berpijak dan melihat.

Yah, mungkin postingan ini dapat dibilang “terlambat”, karena momentum hebohnya LGBT sudah lewat, tetapi, postingan ini hanya menjadi pengingat bagi saya. Tahun 2016 menjadi tahun yang patut diingat (terlebih bagi saya pribadi), karena tahun ini teman-teman (LGBT) yang mungkin telah lama bersembunyi, mulai terlihat. UI hampir bubar (bercanda) karena komunitas yang tidak dianggap menampakkan dirinya. Negara saya sempat heboh dengan adanya berita-berita dari media Repu***** yang tanpa ijin menggunakan foto seorang mahasiswa kampus yang gay dengan judul semena-mena (hal tersebut dilakukan tanpa konfirmasi, saya mengetahuinya karena berada di group chat SGRC). Dari media sosial dan chatting pribadi, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat, menteri-menteri hingga presiden memberi tanggapan beragam.

Saya jadi teringat film gerakan favorit saya, yaitu The Normal Heart (2014). Film ini menceritakan tentang saat wabah HIV AIDS melanda New York pada 1981-1984, dilihat dari kacamata seorang penulis dan aktivis gay Ned Weeks (Mark Ruffalo) yang juga pendiri organisasi advokasi HIV yang bernama Gay Men’s Health Crisis. Organisasi tersebut mengumpulkan dana untuk penelitian mengenai penyakit yang kini disebut AIDS (saat itu dianggap penyakit gay, belum ada istilah dalam kedokteran). Ned  yang memperjuangkan penyakit tersebut agar diakui keberadaannya dan dijadikan prioritas oleh negara meminta Felix Turner (Matt Bomer), seorang New York Times reporter untuk lebih banyak mempublikasikan mengenai wabah penyakit misterius yang belum terusut tersebut. Ned dan Felix kemudian mulai menjalin cinta.

Berikut ini adalah scene favorit saya, scene yang menyentuh titik empati saya. Ketika kekasih, teman, dan saudara satu sama lain mulai hilang bentuk  dan sekarat karena AIDS, dalam persembunyian di sebuah pesta komunitas gay, mereka berdansa…

(Di sini nggak bisa diputar videonya. Tonton di sini: The Normal Heart 2014 )

Setelah browsing sedikit mengenai Prof. Musdah Mulia, sosok peneliti Departemen Agama RI yang memberi opini berani mengenai legalnya pernikahan LGBT, saya jadi paham mengenai teka-teki tulisan berjudul “Gender” yang ditulis oleh Hendri Yulius pada Tempo edisi 18-24 April 2016.

Pertama-tama, saya beberkan terlebih dahulu opini Prof. Musdah mengenai legalitas pernikahan sesama jenis: LGBT itu dibolehkan oleh Islam karena yang dilarang adalah pernikahan sesama jenis yang merujuk pada ‘same sex’ atau sesama jenis kelamin. Sementara itu, LGBT merujuk pada ‘gender’ atau konstruksi sosial terhadap jenis kelamin seseorang. Jadi, menurut tokoh agama progresif, LGBT tidak haram karena meskipun jenis kelamin pasangan tersebut sama, namun gender-nya berbeda.

Jika dipikir-pikir, apa yang dahulu dianggap ‘terlarang’, apa yang dulu diperjuangkan, kini satu-persatu dapat kita nikmati. Jika bernostalgia, dulu, para feminis memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dulu, para tokoh anti aparteid berjuang untuk menghapus perbudakan dan aniaya terhadap ras tertentu  yang dulu dilegalkan. Kini, kita dapat menikmati kesetaraan itu.

Sejarah kelam yang paling terlihat di negara kita adalah, dulu, seorang jenderal polisi yang terkenal baik dengan karir yang sangat memuaskan, menjadi jatuh terpuruk hanya karena ia  berupaya menghimbau masyarakat untuk memakai penutup kepala yang kini kita sebut sebagai ‘helm’. Saat itu, safety belum diutamakan dan kecelakaan adalah hal yang biasa. Jenderal itu melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Masyarakat menganggap penutup kepala itu gila. Karirnya jatuh dan dirinya dipenjarakan. Jenderal tersebut benar-benar berpikir melebihi masanya.

“Beruntunglah orang-orang yang merasa terasing (teralienasi)” – K.H. Husein Muhammad.

 

 

[PUISI] Seperti Layaknya Kita

Biarkanlah aku pergi jauh.

Tanpa memikirkan dirimu, dirinya, untuk kembali.

Tanpa harus memenuhi diriku,

untuk tumbuh sesuai keinginanmu.

Kelak, aku akan pergi jua.

Kini dan nanti, tak ada bedanya.

Jangan lah takut.

Kelak pasti aku kan kembali.

Setelah kuraih mimpi-mimpiku.

Setelah kutembus larangan-laranganmu.

Setelah kujawab semua ketakutan-ketakutanmu.

 

Aku melihat yang tak kau lihat,

Tidakkah kau lihat itu?

Aku berpikir apa yang tak terpikir oleh pikirmu,

Tidakkah terlintas di benakmu?

 

Oh, Ibu.

Impianku adalah terlarang bagimu, dan

aku akan tetap pergi.

Karena aku tidak hidup di masamu, Bu.

Karena aku tidak hidup dalam ketakutanmu, Bu.

Kau bilang, “Merasa puas lah,” tetapi

bahagiamu bukan lah bahagiaku.

Aku akan tetap menembus batas-batasku yang kau ciptakan.

Batas-batas tak terlihat, terbuat dari ketakutan.

Engkau takut akan sesuatu yang belum pernah kau rasakan,

aku tidak.

 

Oh, Ayah.

Mengingatmu adalah yang paling menyakitkan.

Kita berbeda dalam semua,

kecuali dalam spiritual.

Spiritualmu adalah keyakinan yang lurus,

punyaku adalah logika dan kemanusiaan.

 

Kumohon jangan,

kau suruh aku ini dan itu, kau larang aku ini dan itu.

Karena aku tidak berpikir sepertimu.

Karena semua perkataanmu tak sampai menembus kepalaku,

terlebih sampai di hatiku.

Bagiku, nasehat-nasehatmu adalah kegilaan.

Bagimu, kesukaanku adalah kesesatan.

Indah bagiku, setan bagimu.

Indah bagimu, buta bagiku.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri-negeri mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

setan-setan itu dengan mataku sendiri,

mengagungkan ritualnya seperti layaknya kita.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri mimpi-mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

pikiran orang-orang sesat yang telah kuselami itu,

merasa benar layaknya kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berarung Jeram di Cisadane, Solusi Liburan Singkat yang Menantang

Pada hari Sabtu, 1 April 2017 kemarin, saya dan teman-teman caang (calon anggota) dalam rangka magang BKP MAPALA UI baru saja mengarungi Cisadane. Berbagai latihan sebelumnya telah kami jalani di Danau UI, kini kami tinggal mengaplikasikannya di sungai sungguhan ini. Pagi yang cerah itu, di bawah jembatan, kami awali dengan berenang aktif menyeberangi salah satu titik arus utama sungai. Jika saat latihan di Danau UI kami tiba di titik  seberang sesuai keinginan kami, maka di sungai, meski telah mengantisipasi dengan berenang 45 derajat menuju ke arah berlawanan dengan arus, tetap saja kami terseret beberapa meter! Latihan mendayung dan menggerakkan perahu membelah arus sungai juga tidak semudah yang dibayangkan. Meski telah mendayung kuat-kuat, perahu kami rasanya seperti hanya berjalan di tempat saja, tak kunjung berpindah tempat! Pada detik itu juga saya mengetahui bahwa kami tidak bakal hanya tinggal mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan. Sungai sama sekali berbeda dengan danau. Terdapat jeram-jeram yang menantang untuk dilewati dengan tetap menjaga perahu tidak oleng, juga pemandangan ‘liar’ Cisadane yang siap untuk dinikmati.

18740206_1931682867111799_8928991406153568078_n

Sebelum mengarungi jeram terbesar di sungai ini, kami semua turun dari perahu untuk menyusun strategi terlebih dahulu. Pertama, kami menentukan sungai bagian mana yang akan kami lewati, pergerakan apa yang akan kami lakukan dengan jalur sungai yang kami pilih, dan menentukan titik pelempar tali untuk berjaga-jaga jika ada orang yang terjatuh dari perahu saat mengarungi jeram ini.

18740451_1931682580445161_7183051321566364286_n

Dayung diangkat ke atas oleh orang yang berada di daratan, pertanda dokumenter dan pelempar tali telah siap dan tanda untuk tim perahu agar mulai mengarung. Perahu karet Aire merah merayap perlahan dari bibir sungai. Semakin mendekati jeram, awak perahu mendayung makin cepat nan kuat. “Pancung kiri!!!” komando kapten perahu, menyuruh awak perahu terdepan kiri untuk membelokkan perahu ke kanan. Pancung terlambat dilakukan dan perahu menabrak batu besar. Perahu oleng dan benar saja, jeram ini cukup kuat hingga berhasil menjatuhkan dua orang kapten perahu dan seorang awak perahu! Lemparan tali yang dilemparkan dari daratan tidak bisa menggapai awak yang terseret arus. Setelah berada di arus yang lebih tenang, seorang kapten perahu melakukan penyelamatan diri dengan berpegangan pada tali perahu dan mengangkat dirinya ke atas perahu. Setelah itu, satu persatu awak yang jatuh ditarik naik kembali ke perahu.

DSCF9080

Sinar matahari memantulkan kilau-kilau pada permukaan air sungai. Ketika matahari telah berada di atas kepala dan jeram-jeram besar sudah mulai habis, kami menikmati pemandangan Cisadane yang liar tak terawat. Sesekali berteduh di bawah dahan-dahan pohon yang memayungi pinggir sungai. Permukaan air tenang, dayung menyelam rendah dan perahu bergerak lambat. Sejauh mata memandang, terlihat muka sungai dan langit yang luas di atas tebing dan rimbunan pohon. Secara alami, rimbunnya pohon-pohon dan tebing-tebing yang melingkupi sungai memperindah pemandangan.

Mengamati pemandangan Cisadane beserta aktifitas warga lokal di sekitar sungai bisa menjadi hal yang mengasyikkan. Sering terlihat beberapa orang warga lokal yang sedang beraktifitas memanfaatkan sungai. Beberapa orang memancing, beberapa lainnya mandi dan mencuci. Perahu harus bergerak lihai menghindari tali-tali pancing yang tersebar di atas permukaan air sungai. Ada juga warga yang lalu lalang dengan kayu bakar sebagai pelampungnya. Ngarung dan menikmati pemandangan akan lebih asyik lagi jika seandainya sungai Cisadane ini bersih. Sayangnya, pada beberapa titik, terutama di titik yang terdapat pemukiman penduduk, terlihat sampah-sampah mengambang di permukaan sungai dan berserakan di bibir sungai.

Sungai Cisadane memang cocok untuk diarungi oleh para pemula. Sungai yang memiliki tipe pull and drop, yaitu jenis sungai dengan arus relatif tenang dengan jeram di beberapa titik. Berarung jeram di Cisadane tidak hanya menawarkan asyiknya terlompat di atas perahu karet, tetapi juga pemandangan yang menarik. Entry point sungai untuk berarung jeram berada di bawah jembatan Ciampea dan berakhir di Kampung Pasir sebagai exit point-nya. Kamu dapat mengarungi 9 km dari sungai ini selama 2 jam. Lokasi sungai ini tak jauh dari pusat kota. Sungai ini dapat ditempuh hanya beberapa jam dari Jakarta, sehingga berarung jeram di sungai ini sangat pas untuk menjadi pilihan kegiatan pengisi akhir pekanmu.

“Mengarungi tenangnya Cisadane ditemani liarnya pemandangan Cisadane. Seliar para Abah yang hanya pakai kancut mancing di bibir sungai, dan perahu kami harus meliuk lincah menghindari tali-tali kail pancingan di atas permukaan sungai. Seliar perempuan dengan tetek bergelantungan karena BH-nya tersangkut di ranting-ranting pohon, memayungi perahu kami yang berteduh sejenak.”

Fitri Muthi’ah Hanum, CAM 029

[Perjalanan PP BKP MAPALA UI 2016] Lega dan Resah dalam Penantian

Saya mempercepat langkah saya hingga kecepatan maksimal, sesekali berlari-lari kecil. Apapun yang ditemui oleh kaki saya di dalam sepatu yang basah, baik batu maupun lumpur di sungai ini, saya terjang. Sumpah serapah terucap karena kaki saya terantuk batu-batu kali akibat licinnya batu yang dialiri arus sungai. Erangan kecil kekesalan muncul saat saya berusaha melepaskan diri dari lumpur yang mencengkeram hingga sedalam lutut, menghambat pergerakan saya. Batin saya mengutuk kerikil-kerikil sungai yang masuk ke dalam sepatu, menyiksa telapak kaki saya di tengah pengejaran yang saya lakukan ini. Saya tidak peduli lagi. Saya harus bertemu kembali dengan Tim Bikun secepatnya. Handy talky (HT) ada di tangan saya, sementara Tim Bikun 4, Tim Bikun yang sedang bertugas, berada jauh di depan. Ya, saya tertinggal tim saya. Sebuah tim tanpa memegang alat komunikasi yang menghubungkan antara tim satu dengan tim lainnya dapat berakibat fatal.

1496148106329

Hari ini adalah hari Selasa, 31 Januari 2017. Hari ini saya bertugas sebagai pemegang komunikasi dalam Tim Bikun. Tim Bikun adalah call sign dari sebuah tim kecil yang melakukan blitz dan orientasi medan. Blitz dilakukan oleh tim kecil yang terdiri dari navigator, bacoker atau seseorang yang membabat vegetasi penghalang jalan dengan tramontina, step counter, dan komunikator untuk mencari membuka jalan lebih dulu di depan Tim Besar, bertujuan agar mempercepat pergerakan Tim Besar nantinya. Sementara itu, orientasi medan adalah memastikan secara langsung medan atau alam yang sebenarnya dengan yang tergambar pada peta topografi. Tugas Tim Bikun pagi ini adalah menyusuri sungai yang sesuai dengan yang tertera di peta, kemudian mencari punggungan naik menuju emergency exit point (EEP). EEP adalah jalan yang telah di-plotting menuju desa terdekat dari tempat kami berada. EEP tujuan kami adalah dusun Jampit di Desa Mlaten.

“Ioo!” Suara saya bergema, berloncatan dari satu sisi tebing ke sisi tebing lainnya di atas sana, kemudian teredam oleh suara arus sungai. “Iooo!!!” teriak saya sekencang-kencangnya. Tidak ada jawaban. Suara saya tak dapat mengalahkan suara arus sungai ini. Alhasil, saya berlari secepat yang saya bisa, terus menyusuri sungai. Sekelebat pikiran mengenai sebab mengapa saya terpisah dari tim saya hilang – muncul, entah akibat tugas ganda yang saya lakukan sebagai komunikator dan step counter, atau karena menunggu pemasangan safety line oleh salah seorang teman yang bertugas sebagai rescuer… hingga akhirnya, lega rasanya, ketika saya bertemu dengan navigator dari Tim Bikun 4.

Kepadanya saya mengabarkan keberadaan tim bikun selanjutnya yang akan menggantikan kami, mengingat sudah hampir satu kilometer kami berada jauh meninggalkan Tim Besar. Saya bilang pada Nano, call sign bagi PJ Navigasi tersebut, bahwa Tim rolling telah bergerak menuju kesini. Melalui HT, saya kemudian menyuruh Tim rolling untuk mempercepat pergerakan. Tak lama, teriakan khas MAPALA UI samar-samar terdengar. Sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang mendengarnya untuk menjawab. “Ioo!” balas kami.

Terlihat lah batang-batang hidung dari Tim Bikun 1 atau tim yang akan menggantikan kami bertugas blitz pada pagi menjelang siang hari ini. Namun saat ini bukan lah waktu istirahat bagi kami, Tim Blitz 4, karena kami masih harus mengambil carrier kami yang kami tinggalkan di belakang. Kami meninggalkan carrier kami di bawah turunan curam, di dekat pertigaan sungai pertama, di samping padang jelatang. Tim yang bertugas sebagai tim blitz seringkali sengaja melepaskan carrier masing-masing agar pergerakan lebih cepat dan lebih maksimal dalam membuka jalan di daerah yang belum terjangkau sebelumnya. Saya mendesah. Mengambil kembali carrier berarti harus kembali bergerak ke belakang dan kembali lagi ke depan. Itu berarti harus melewati sebanyak dua kali hal-hal menjengkelkan berikut ini: Menyusuri sungai beserta isinya yang menyandung dan memerangkap kaki, masuk ke dalam dan keluar dari sungai kemudian melewati tanah licin karena terdapat batu kali besar atau jeram kecil yang tidak bisa dilewati, dan harus melewati sisa-sisa padang jelatang, yang, meskipun telah kami tebas sebelumnya, masih dapat menusuk kulit di balik pakaian kami dan menjadikannya terasa panas dan gatal.

1496148102576

Jika saja saya tak harus terburu-buru saat ini karena harus menyusul Tim Besar yang telah berada di belakang Tim Blitz 1 di depan sana, tentu saya akan jalan perlahan. Jika saya tidak perlu menyusul tim besar, saya lebih memilih untuk menikmati lembah perawan ini. Lembahan ini tidak berbau busuk pemakaman seperti tubuh dan carrier kami yang berselimut tanah, tetapi bau segar air sungai. Pohon dengan dahan-dahannya yang ramping memayungi sungai ini. Sinar matahari terselip di antaranya. Tebing-tebing menjulang tinggi berdiri kokoh di kedua sisi lembahan ini seperti prajurit pribadi kerajaan…

Akhirnya, pada pukul 12.30, saya dan Tim Bikun 4 sampai di tempat Tim Besar berada, dengan carrier di atas bahu kami. Saat itu, Tim Besar sedang beristirahat. Di sisi sebuah sungai antara dua tebing yang menjulang tinggi di dalam lembah ini, saya ikut beristirahat untuk makan siang bersama Tim Besar. Menu makan siang itu hanya oatmeal dengan susu, namun suasana lokasi di mana kami beristirahat saat itu menambah nafsu santap siang kami. Rumput hijau adalah tempat kami duduk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil kami masing-masing. Lumut hijau terang menghiasi dinding tebing. Suara kami mengobrol sambil mengunyah makanan dalam mulut kami beradu dengan suara gemericik aliran sungai. Suara burung samar-samar menyahut, berbisik-bisik, dari atas sana, mengintip rombongan asing yang makan dengan kalap.

Hari itu merupakan hari kesembilan kami berada di dalam hutan. Setelah tadi malam Tim Besar sudah satu suara bahwa rute Emergency Exit Point menjadi target pergerakan kami selanjutnya, jujur saja, kini mulai terbit lagi semangat saya dan beberapa Caang (calon anggota) untuk kembali melanjutkan perjalanan. Bagaimana tidak, kami telah melewatkan tiga hari tersesat mencari punggungan turun checkpoint kelima yang cukup membuat frustrasi!

Tidak banyak waktu istirahat yang dimiliki jika kamu sedang bertugas sebagai tim yang melakukan blitz. Waktu istirahat Tim Bikun lebih cepat lima hingga sepuluh menit daripada Tim Besar yang biasanya memiliki waktu istirahat selama setengah jam. Rasanya baru saja saya tiba dan mengeluarkan peralatan masak kelompok kecil. Saya benci ketika orang-orang sudah bersiap lengkap dengan carrier mereka yang telah dibopong di punggung, buckle yang telah di-adjust serta strap belt yang telah mereka pasang, sementara saya masih memasukkan kembali sendok, garpu, kompor, gas, dan trangia kembali ke dalam carrier dengan terburu-buru. Apalagi, pada waktu yang lain, saya beberapa kali menjadi orang yang in charge menjadi Alpha dalam komunikasi pada skenario jalan Tim Besar. Alpha merupakan salah satu orang yang membawa HT, menjadi orang yang paling depan dari Tim Besar, dengan posisi jalan tepat di belakang Tim Bikun.

Keterlambatan tersebut karena tidak adanya kesepakatan mengenai pembersihan kembali alat-alat makan kelompok seperti sendok, garpu, dan trangia. Tanpa adanya kesepakatan bahwa masing-masing orang dalam kelompok kecil harus membersihkan alat makannya masing-masing, hal tersebut menjadi dibebankan kepada pembawa barang tersebut, yaitu saya. Hal itu terjadi juga karena wadah makan kami menggunakan trangia yang merupakan barang bawaan kelompok, bukan tempat bekal masing-masing. Jika saja kami makan menggunakan tempat bekal pribadi, para anggota kelompok saya akan membersihkan wadah makannya sendiri karena akan di-packing kembali ke dalam carrier mereka masing-masing. Kedepannya, saya harus membuat aturan mengenai hal-hal sepele macam itu.

Akhirnya, dengan rasa lelah yang masih tersisa dari blitz tadi, bahkan tak sempat mengeluarkan kerikil-kerikil dari dalam sepatu, saya menyusul Tim Bikun yang telah bergerak. Hujan turun ketika saya bergabung kembali dengan Tim Bikun 4. Alhasil, hanya lima orang saja yang ditunjuk oleh seorang Caang yang merupakan penanggung jawab (PJ) teknis untuk orientasi medan, memastikan bahwa punggungan yang dipilih oleh Nano Kecil, penanggung jawab navigasi harian, menuju desa EEP atau tidak. Saya tidak termasuk di dalamnya. Penunjukkan lima orang saja ini didasarkan oleh sangat terjalnya kemiringan punggungan yang akan Tim Besar naiki tersebut, sehingga harus dipasang sistem safety line oleh Tim Rescue caang. Melalui saya dan saya lanjutkan pesannya terhadap Alpha yang berada dalam Tim Besar dengan HT, PJ Teknis memerintahkan Tim Besar untuk membangun flysheet untuk berlindung dari hujan. Punggungan yang diperkirakan sebagai punggungan EEP tersebut terletak pada deretan tebing. Hujan deras juga membuat tanah semakin licin hingga memperbesar resiko terjatuh. Sistem safety line merupakan sistem yang terdiri dari beberapa webbing yang telah disambung-sambungkan ujungnya dan dikaitkan atau dibuat anchor pada sebuah pohon yang kuat, kemudian dibuat loop pada jarak yang konsisten sejauh raihan tangan sebagai stopper atau pegangan dari pengguna safety line tersebut. Singkatnya, safety line adalah rangkaian tali pengaman dari webbing untuk pegangan para pendaki di tebing atau punggungan terjal.

Saya pun kembali ke tempat Tim Besar berada, setelah sebelumnya, tentu saja,  mengeluarkan kerikil-kerikil dalam sepatu. Di sana, yang mana masih di tempat kami makan siang tadi, Tim Besar sedang duduk berlindung di bawah flysheet. Dengan minuman hangat yang digilir, kami bernyanyi tentang rindu dan cinta. Cukup lama saya dan Tim Besar duduk kedinginan sambil bernyanyi, menunggu kelima Caang tangguh yang sedang berjuang di sana. Dari komunikasi kami dengan tim yang sedang melakukan orientasi medan dan memasang safety line, saya mengetahui bahwa ada dua HT yang baterainya habis. HT yang dipegang saya dan HT yang dipegang oleh Charlie, call sign dari seseorang pemegang alat komunikasi dengan posisi jalan paling belakang dari Tim Besar. Habisnya baterai HT kami itu saya ketahui dari waktu transmit yang hanya bertahan selama 2 detik. Setelah saya mencoba membetulkannya dengan mengganti baterainya, salah satu HT menjadi korslet akibat masuknya bulir-bulir air ke dalam HT. Memang, HT tidak bisa bertahan akan basah sedikit apapun. Saya tidak bisa mengganti baterai HT lainnya karena hanya memegang satu set baterai cadangan.

Hal yang baik dengan datangnya hujan lebat ini adalah melegakan rasanya, saya dapat mengeluarkan kerikil yang sejak tadi mengganggu pergerakan saya. Hal buruknya adalah kekhawatiran akan perpanjangan  hari kami berada di gunung yang muncul, mengingat kami bisa saja tersesat lagi atau tidak menemukan punggungan EEP dalam waktu yang lama. Ekstensi hari, hal tersebut merupakan ketakutan terbesar saya saat itu. Sekelebat tentang momen-momen perjalanan panjang ini sejak hari pertama terulang kembali. 0% kenyamanan, itulah gelar yang disandang oleh perjalanan ini menurut saya. Bukan karena kami tidak sempat mandi selama berada di gunung, melainkan hujan deras yang mengguyur setiap harinya membuat udara berkali lipat lebih dingin. Kami harus memakai kembali baju trekking yang basah akibat hujan hari kemarin setiap pagi. Gigitan serangga agas, serangga yang muncul di tempat lembab, memiliki bentuk serupa nyamuk dengan ukuran lebih kecil, namun dengan efek gigitan yang lebih parah, mengakibatkan bentol dengan rasa gatal dan perih yang luar biasa pada kulit kami. Beberapa caang yang tidak rajin mengganti sepatu yang basah dengan sandal supaya kering serta tidak membersihkan kaki saat di tempat berkemah juga terserang penyakit kutu air. Selama kami masih berada di gunung, kami hidup was-was dengan bayang-bayang penyakit kutu air yang terus menghantui karena mudah menularnya penyakit tersebut.

1496148100254

Momen-momen ketidaknyamanan tadi membuat saya rindu Ibu saya. Mungkin karena Ibu lah yang selama ini menyediakan kenyamanan bagi saya, baik secara materi maupun imateril. Ada juga dari sekelebat kilas balik tadi yang membuat saya tertawa kecil ketika mengingatnya. Tentang tangan-tangan kami yang menengadah ke langit ketika secuil sinar mentari muncul. “Di Depok, matahari dikutuk, di sini matahari di sembah,” begitu celetuk salah seorang Caang yang saya ingat.

HTKira-kira pada pukul 15.30, Tango, call sign untuk PJ Teknis berujar, “Safety line telah selesai dipasang. Tim Bikun 4 tolong segera kesini untuk orientasi medan lagi di atas sana”. Itu merupakan panggilan untuk saya juga. Pekerjaan masih banyak. Nanti malam, HT-HT yang rusak harus kembali dibetulkan dengan cara dikeringkan. Terbayang betapa terjalnya punggungan yang akan kami lewati, dilihat dari waktu pemasangan safety line yang lama. Punggungan EEP juga masih belum ditemukan. Tetapi setidaknya, kerikil sudah dikeluarkan. “Often, it isn’t the mountains ahead that wear you out, it’s the little pebble in your shoe.” – Muhammad Ali.

Fitri Muthi’ah Hanum, CAM 029

Tulisan ini dimuat dalam buku kumpulan feature Perjalanan Panjang BKP Mapala UI 2016, “Pengembaraan: 11 Hari Hidup di Belantara”. Buku tersebut berisi 19 buah feature yang disusun berdasawarkan waktu terjadinya peristiwa. Membacanya dari awal seperti menyusun puzzle mengenai perjalanan kami.

Link Buku feature: https://drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnczJsVFFlZnljbDQ/view

Link Gallery Book Perjalanan Panjang: https://www.drive.google.com/file/d/0B83ENTq7f0xnbnc2Z1h5X0JwU28/view

[REVIEW FILM] MACBETH

1Director: Justin Kurzel

Starring: Michael Fassbender, Marion Cotillard, Paddy Considine, Sean Harris, Jack Reynor, Lochlann Harris

Score: 9/10

All hail Macbeth that shall be king …

Film perang western abad pertengahan memang selalu dinantikan, karena menyuguhkan adegan perang brutal yang mendebarkan. Namun, Macbeth menjadi film perang paling ditunggu karena merupakan adaptasi dari salah satu drama paling terkenal Shakespeare. Selain menonton prajurit berani dalam baju zirah, pedang besi  yang menghunus leher, kegilaan dan kebrutalan dalam berperang, film Macbeth juga menghadirkan indahnya permainan kata dari Shakespeare yang penuh teka-teki sekaligus juga menghipnotis melalui tokoh-tokohnya. Film ini merupakan sebuah dongeng kengerian.

2

Sutradara Justin Kurzel dapat dibilang sukses mentransformasi  drama Shakespeare ke layar lebar. Kisah memukau dengan citra puitis transenden ini mendapat komposisi yang pas dalam film. Selain lokasi film yang menampilkan visual yang seperti negeri dongeng (pegunungan di Isle of SkyeBamburgh Castle, dll.) dan keseluruhan dialog yang puitis, performa para aktornya juga memiliki andil besar dalam mewujudkannya. Michael Fassbender nampaknya memang terlahir untuk peran ini! Fassbender dan Cotillard dalam aktingnya mampu menampilkan jiwa setiap manusia yang dibuat bingung dan tersesat oleh hal-hal transenden.

3

Menonton film ini, kamu akan menyelam ke dunia spiritual dan magis secara bersamaan. Selama 113 menit, buang jauh-jauh pikiran rasionalmu dan hidupkan imajinasimu. Terdapat banyak tipu daya dan hal diluar akal dalam film ini. Drama tragedi ini tidak berjalan sesuai kemauan kita, para tokoh tidak bertindak sesuai apa yang kita inginkan mereka untuk lakukan. Atau apa yang akan kita lakukan jika kita menjadi mereka. Mencengangkan bagaimana teman seperjuangan di medan perang dibunuh oleh rekannya sendiri, kejayaan yang dahulu diperjuangkan tidak dinikmati, dan keberanian yang berpuluh-puluh tahun tertanam sirna setelah mendengar sebuah ramalan.

4

Macbeth merupakan kisah tentang pembunuhan, pengkhianatan, dan ambisi. Film yang memiliki tone muram ini bersetting saat perang sipil melanda Skotlandia. Di sisi Raja Skotlandia saat itu, ada Macbeth, seorang ksatria pahlawan perang yang bergelar Thane of Glamis, yang memimpin batalyon terakhir Raja Duncan yang sudah lelah. “Thane” merupakan sebutan bangsawan di Skotlandia. Sisi Raja Duncan dan pengkhianat yang dipimpin Macdonwald dengan tentara bayaran, bertemu pada Battle of Ellon.

5

Terdapat dua sisi dari Macbeth, sisi yang bersih dan kotor. Dan Fassy mewujudkannya dengan sempurna. Ketika gelarnya hanya Thane of Glamis, Macbeth nampak tidak memiliki ambisi atas mahkota Raja. Mencintai raja dan negaranya. Setelah memenangkan perang tersebut, Macbeth dan teman seperjuangannya, Banquo (Paddy Considine), ditemui oleh tiga orang penyihir yang disebut The Weird Sisters. The Weird Sisters menggumamkan sesuatu yang mana adalah sebuah ramalan bahwa Macbeth akan menerima gelar Thane of Cawdor kemudian selanjutnya akan menjadi raja, dan Banquo akan menjadi ayah dari para raja. Macbeth tidak bisa berhenti memikirkan ramalan tersebut, namun kata-katanya masih terkesan skeptis.

Turning point pertama terjadi ketika ramalan pertama menjadi kenyataan. Raja Duncan menghadiahinya gelar Thane of Cawdor, gelar yang tidak lagi dimiliki oleh Macdonwald. Sementara putra Duncan, Malcolm, yang bergelar The Prince of Fife, menggantikannya menjadi Raja Skotlandia yang baru. Dari sini, ia membuang segalanya dan dimulai lah ambisinya untuk menjadi Raja Skotlandia.

6

Satu persatu kejadian yang gaib menuntunnya untuk mewujudkan ramalan tersebut, termasuk melalui istrinya. Hingga menjadi istri dari Raja Macbeth, Cotillard tampil powerful dan lebih ambisius dengan mendorong Macbeth dalam pembunuhan Raja Duncan. Dari ksatria jujur berhati baik, ia menjadi raja lalim. From a man so ‘full o’ the milk of human kindness became a man whose hands were so covered in blood they could never be wiped clean. Macbeth yang malang! terlambat menyadari bahwa ramalan tersebut nyatanya adalah sebuah kutukan.

7

Terakhir, hal yang patut diapresiasi dari film ini adalah sinematografinya yang tak biasa dan indah. Film ini memanfaatkan keadaan alam seperti kabut, cahaya, awan dan memadukannya dengan filter warna. Selain itu, banyak menggunakan siluet-siluet. Scoring-nya yang apik juga seperti pengiring musik pertunjukan di teater.

8910

Fair is foul, and foul is fair.

Hover through the fog and filthy air.

Tulisan ini pernah dimuat di cinemaniaindonesia.wordpress.com. Untuk pedoman nonton filmmu dan rekomendasi prediksi film hits atau menang festival yang akurat, baca aja cinemaniaindonesia.wordpress.com. Untuk selalu update mengenai watch list mu, ikuti saja twitter-nya di @CINEMANIA_ID ya! #promosi

 

[PUISI] ‘Ini’ – ‘Itu’

Ini-itu

Oh, kelezatan apa ini, ‘ini’?

Aku tidak bisa berhenti.

Ekstase memabukkan, ini surga dunia.

Dulu aku berpikir, karena adanya ‘ini’, wanita bisa jadi tak perlu menikah.

Setruman mengalir di darahku, dari bawah ke kepalaku.

Aku melepaskan semuanya biarkan otot kendur.

Seketika aku seperti merasakan terangkat ke udara.

Dengan bunga-bunga dan muka lembut bumi dibawahku.

Lalu aku mengulat, kemudian tidur.

 

Jika ini saja sudah enak,

Aku tak bisa membayangkan yang lebih lagi, ‘itu’.

 

Oh, ‘ini’ melekat di otakku.

Tak ada satu waktu pun hal ‘ini’ berada di luar aktif pikirku.

Tak sabar hatiku bertemu denganmu lagi, ‘ini’.

Aku tak pernah jauh-jauh dari ‘ini’.

Seperti anak muda yang merindukan datangnya waktu masturbasi –Ayu Utami.

Puisi ini ditulis pada tahun 2014 lalu.

[Perjalanan 2 BKP MAPALA UI 2016] Walah, Navigasi!

Rombongan caang (calon anggota) Mapala UI beserta panitia BKP (Badan Kepengurusan Pelantikan) 2016 disambut oleh udara dingin setibanya di Agrowisata Gunungmas. Saat itu hari sudah gelap, sorot headlamp satu-persatu nampak berpendar. Navigasi dan komunikasi merupakan materi yang akan kami pelajari dalam perjalanan kedua kami dalam BKP 2016 ini.

Sejujurnya, perjalanan kedua ini cukup membuat saya berdebar bahkan sebelum dimulai. Pasalnya, saya bodoh dalam matematika dan asing dengan derajat, koordinat, azimut, dan kawan-kawannya. Memang saya hadir dalam materi navigasi, namun rasa kantuk pada malam penyampaian materi itu menghalau materi tersebut untuk nyantol di kepala saya. Dan memang, mentor saya, Irvan, M-952-UI, telah mengajari kami sebelum perjalanan ini dimulai, namun semua materi yang diberikan tersebut seperti mengawang di udara.

1480346056489.jpg
Dag dig dug.. jderrr!!

Sebelum kami, para caang, mendirikan tenda di kawasan agrowisata, seluruh handphone kami dikumpulkan. Panitia tentu telah memperkirakan bahwa akan ada caang yang tricky dengan bernavigasi secara otomatis lewat  gadget miliknya. Hal tersebut tentu tidak berlaku bagi saya semenjak saya asing dengan perpetaan, menggunakan google maps saja sangat jarang. Saya lebih suka merepotkan orang di sepanjang jalan dengan bertanya dimana letak tempat tujuan ketika bepergian. Jadi, dengan enteng saya serahkan handphone milik saya.

Kali ini, bukan lambung nyaman Big Dome lagi tempat saya terlelap. Kini, saya dan kelompok enam perjalanan dua saya yang terdiri dari Apoy, Ben, Fauzan, Putri, Verdy, dan saya sendiri tidur di dalam Java four. Tiada yang mempercayai Apoy yang telah berusaha meyakinkan bahwa tenda tersebut mempunyai kapasitas maksimal untuk enam orang. Kenyataan bahwa Apoy telah tidur bersama enam orang lainnya yang berbadan lebih besar dari kami semua pada perjalanan satu kemarin juga sulit untuk dipercaya. Bagaimana tidak, dua orang dari kami lebih memilih tidur di teras daripada berjejalan dalam tenda ini pada malam yang berbeda.

Sebagai orang yang bangun paling awal pada pagi pertama, saya langsung menyiapkan peralatan masak sambil kepala menengadah langit. Hamparan bintang terang dalam kegelapan seakan memayungi barisan tenda kami, visual indah tersebut terekam dalam benak saya. Hamparan langit luas tanpa apapun yang menghalangi, itulah salah satu hal favorit saya saat naik gunung. Tidak lama kemudian, ketika saya ingin berbagi pemandangan indah tersebut kepada manusia-manusia di dalam tenda yang sudah mulai grasak-grusuk, tiba-tiba awan dengan cepat menelan seluruh hamparan bintang di langit. Di langit, gemerlap payung bintang tergantikan dengan kabut abu-abu kuburan. Dahi yang mengernyit bukan pertanda saya telah meramal bahwa hari itu akan menjadi hari dimana, setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak berdaya.

Dalam perjalanan dua ini, kami bertugas untuk mencari dan menemukan checkpointcheckpoint yang tersedia di sepanjang jalur menuju puncak Gegerbentang. Cp-cp tersebut tentu saja hanya diberi tahu koordinatnya. Banyaknya ada enam checkpoint, itu berarti ada enam kertas tersembunyi di setiap checkpoint yang harus ditemukan sebagai bukti kami telah melewati tempat itu. Jika pada perjalanan satu BKP 2016 dua minggu yang lalu kami hanya mengikuti jalur yang tersedia, kali ini kami membuka jalur di beberapa titik. Caang telah dibagi kepada dua kelompok besar dengan jalur yang berbeda. Jalur Joglok dan Jalur Gedogan. Tim yang lebih dulu sampai ke checkpoint terakhir, yang mana berada di Puncak Gegerbentong lah yang menjadi pemenang.

Saya geli jika teringat bagaimana saya mencari checkpoint pertama. Di peta jalur kami yang telah di-highlight, sudah jelas bahwa letak Cp 1 belum menaiki punggunggan. Namun, saya dan beberapa teman ikut naik punggungan dan tentu saja tidak menemukan apa-apa. Setelah lebih dari satu setengah jam mencari, waktu habis dan kami langsung melanjutkan mencari Cp berikutnya. Belakangan saya mengetahui bahwa Cp1 masih terletak di kawasan wisata Gunungmas, tepatnya berada di mulut punggunggan sebagai entry point punggunggan, gerbang gunung yang seharusnya dari sana kami masuk. Setelah menemukan beberapa Cp berikutnya, kami menyadari bahwa Cp-cp yang kami cari tersebar di titik-titik ekstrem: di punggungan, di lembahan, di saddle, di pendilan, dan di puncak.

Dari yang tidak tahu-menahu apa-apa; apa yang harus saya lakukan dalam orientasi medan? mengapa saya harus naik ke tempat yang lebih tinggi untuk melakukannya? Kemana saya harus pergi selanjutnya? Saya jadi tahu. Layaknya pembuatan alat musik gamelan, otak saya yang bekerja sangat lambat dalam navigasi ini perlu waktu dan dalam penempaannya menghasilkan kemajuan (yang sangat) sedikit demi sedikit (sekali).

1480346122957
“Dimana checkpoints beradaa?”  kiri-kanan: Selli, Ichaw, Ghozi, Tita, Putri, saya, Ojan, Ben, Apoy.

Dalam pencarian checkpoint kedua hingga keempat, saya masih meraba-raba untuk dapat memutuskan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ketika itu rasanya saya masih mengekor saja di antara teman-teman caang lainnya, sekeras apapun saya berusaha untuk aktif. Bukannya tidak antusias dan lantas menyerahkan peran bernavigasi kepada anak-anak Adam semata, melainkan rasanya saya belum bisa mengimbangi ritme pergerakan navigasi teman-teman yang lain. Ketika Apoy dan Ben, dua orang paling berjasa dalam perjalanan navigasi jalur Gedogan ini (yang juga anggota  kelompok saya), telah memperdebatkan suatu hasil yang mereka peroleh, saya masih menanyakan kepada mereka cara mereka memperoleh hasil itu.

Mentor kelompok kami, Irvan, terus mendorong saya dan Putri, perempuan dalam kelompok enam untuk turut aktif bernavigasi. Malah, Irvan meneriaki saya untuk mengeluarkan pendapat saya. “Muti, ayo keluarkan pendapatmu!” ujarnya spontan. “Yah, kalau bisa…” jawab saya seadanya, pahit. Sebagai seorang feminis, saya benci merasa tidak berdaya.

Baru pada hari pencarian dua Cp terakhir, hari dimana para mentor membuat ladies day demi meningkatkan peran para caang perempuan dalam perjalanan dua ini, saya mulai tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan saat itu. Saya senang caang perempuan  dapat membuka jalur dan marking dengan tramontina, juga melakukan blitz untuk orientasi medan. Setelah itu, istilah-istilah dalam bernavigasi rasanya tidak lagi seperti alien lagi bagi saya. Learning by doing, kalimat klise dan simpel yang diucapkan mentor kami kini terdengar relevan.

Saya memercayai ruh yang sama ditiupkan kepada wanita dan pria, yang membedakan adalah tubuh biologis. Karena itulah posisi push-up kami berbeda, tetapi kemampuan kami bisa menjadi sama. Namun, dengan nilai-nilai dalam masyarakat yang tidak benar dan tidak adil, juga konstruksi sosial yang bias gender, rangkul kami, berikan kami peran untuk dapat menjadi setara. Karena itu, inisiatif mentor kami sudah tepat dengan mengadakan ladies day, karena kami, caang perempuan, kurang mendapatkan peran dalam kelompok kami. Setelah dipikir-pikir, tidak benar jika mengkambinghitamkan kemampuan saya yang masih tertinggal, sebab seharusnya saya bisa mengejarnya dengan terus bertanya lebih keras.
Tidak bermaksud menyalahkan caang laki-laki yang kurang sabar dalam mengikutsertakan sebagian dari kami yang sedikit lebih lamban, sebab saya mengerti caang laki-laki merasa tertuntut dan merasa memiliki beban di pundaknya atas ketepatan waktu selesainya kegiatan navigasi tersebut. Sebab laki-laki selalu dituntut lebih hebat dari wanita dalam masyarakat kami. Sebab wanita harus selalu merendahkan diri demi menjaga ego laki-lakinya.

Kami kembali ke Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) di kampus sekitar pukul setengah satu dini hari. Salah seorang mentor dari jalur Joglok yang pernah mengajari saya navigasi, bernama Manak, mencoba mengetes saya dengan menanyakan bentukan medan pada suatu titik koordinat kepada saya. Saya berusaha terdengar sudah yakin ketika menjawab pertanyaannya, meskipun saya tidak. Jawaban saya salah, ternyata saya terbalik membaca urutan garis di samping peta (saya lupa nama garisnya)! Nampaknya saya akan kembali meneror mentor saya untuk kembali belajar navigasi dengannya, meski saya tahu perjalanan dua sudah berakhir dan hal itu bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Ck, navigasi, navigasi! Saya menantikan waktu ketika saya bisa menguasainya…

1480346205373
“Muka longsor kini sumringah”. Caang BKP MAPALA UI 2016 s.d. Perjalanan 2.

P.S. Saya tahu, tulisan ini lebih terasa seperti sebuah ‘press release’ atau curhat daripada apapun.
Ditulis 1 Desember 2016, masih seorang Caang.
Salam,
CAM-029-UI.