[JOURNEY] Eksplorasi Sungai Cibareno

“Mata kalian menyala-nyala melihat air sungai yang pasang,” kenang pelatih arung jeram kami, Lody Korua. “Seperti orang gila,” imbuhnya. Iya, masih muda memang waktunya gila. Yang sedih kalau sampai tua tidak sempat melakukan hal gila. Saya ingat, kala itu Sungai Cibareno berbanding terbalik ketika saat kami menyurveinya berjarak sebulan sebelum dari waktu ekspedisi. Kondisi air saat itu sedang tinggi, hujan mengguyur seharian kemarin. Debit air mengalir deras dilihat dari air sungai yang keruh dan berarus besar. Sungai itu pasang, tetapi kami tetap menuruninya.

Semalam saya menyaksikan presentasi progress pertama yang dilakukan junior-junior saya di Mapala yang bernama EBC II (Ekspedisi Bumi Cenderawasih jilid kedua). Bukan karena EBC tahun lalu belum selesai, melainkan karena ekspedisi ini dilakukan di provinsi yang sama. Di Papua Barat. Bila semua menjalankan latihan, kelima divisi biro peminatan olahraga akan berangkat  dalam ekspedisi gabungan ini. Panjat tebing, paralayang, selam, arung jeram, dan telusur gua.

Tidak terasa saya telah menghabiskan sebagian besar waktu saya di organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang eksplorasi alam bebas dan konservasi alam ini. Dari pengalaman bergiat di Mapala UI, saya memahami sebagian dari diri saya. Saya tidak suka pekerjaan monoton yang sama setiap hari. Saya lebih suka mewujudkan visi menjadi kenyataan. Melakukan hal yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya lakukan adalah sebuah tantangan tersendiri. Menghadapi jatah semester terakhir saya di kampus, membuat saya terinspirasi untuk menulis semua perjalanan yang pernah dilakukan. Dimulai dari yang lebih dulu, yakni Eksplorasi Sungai Cibareno.

Sungai Cibareno adalah sungai yang cukup ekstrem. Sungai ini bertipe continuous yang memiliki jeram-jeram ber-grade 3-6 tersebar di seluruh bagiannya. Terlebih di bagian tengah sepanjang 8.2 km yang sebagian besar berisi jeram grade 4 hingga 6. Membelah dua kabupaten, Kabupaten Banten dan Jawa Barat. Kami akan mengarungi sungai tersebut sepanjang 23 km dari Desa Bayah di Taman Nasional Halimun Salak, hingga muaranya di Pantai Cibareno, yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di selatan Pulau Jawa. Kami membaginya menjadi 3 section. Section I sepanjang 5.9 km (Medium Risk), section II sepanjang 8.2 km (High Risk), dan section III sepanjang 9.1 km (Low Risk). Sebelumnya, tim kami berlatih di sungai-sungai sekitar Jawa Barat, yakni: Sungai Cisadane, Sungai Citarik, Sungai Cicatih, dan simulasi di Sungai Cikandang. Secara umum, sungai-sungai tersebut memiliki grade 3-5.

Eksplorasi ini bukanlah first descent. Angkatan senior Mapala kami, BKP 1995 dan BKP 1997 pernah mengarunginya pada 1998 pada section tertentu. Operator arung jeram sekaligus atlet sebuah perusahaan arung jeram pernah melakukan percobaan di sana, namun gagal. Kami, tim 2 perahu yang berisi 10 orang yang hanya latihan 3 kali seusai kuliah dalam seminggu di danau kampus, dan 2 kali turun sungai dalam sebulan, nekat untuk mencoba sungai ini. Dea, Ichaw, Nisya, Salsa, Ben, John, Manak, Joko, Pipit, dan saya. Eksplorasi ini adalah sebagai ajang latihan bagi kami sebelum menginginkan ekspedisi di Papua. Sungai Cibareno dipilih karena lokasinya yang dekat serta tingkat kesulitannya yang tinggi.

IMG_6303

Benarlah, baru beberapa detik perahu turun ke sungai, hanya berjarak beberapa dayung saja, perahu kami dibuat tegang miring 90 derajat oleh arus. Naluri untuk bertahan hidup, masing-masing kami di perahu Aire biru memanjat ke high side (sisi yang lebih tinggi) dari perahu. Untunglah tidak ada yang melamun, sehingga tidak ada yang terjatuh. Setelahnya, perahu kami diterjang terus-menerus oleh standing waves.

Tim perahu lain yang memimpin, Aire Merah, berisi Penanggung jawab Teknis yang ingat benar bentukan sungai, menghentikan perahunya dengan susah payah pada eddie (arus sungai yang berputar di tempat yang relatif lebih tenang daripada sekitarnya) pertama di sungai berarus continuous kencang ini. Kami harus mengikat tali anchor perahu ke sulur-sulur pohon yang tumbuh di tebing di sisi sungai.

Kanan dan kiri dari sungai ini adalah tebing, itu yang menjadikan aksesnya sangat sulit. Saya teringat saat memetakannya sungguh menyiksa. Kami harus naik-turun tebing selama beberapa hari untuk melihat semua penampakan muka sungai ini. Kami tidak dapat menyusurinya di sisi sungai karena setiap beberapa meter, batu-batu raksasa memblokadenya. Masih beruntung beberapa km di atas tebing terdapat sawah yang dapat dilewati, namun tidak sedikit juga di atas tebing terdapat hutan dengan punggungan vegetasi lebat. Seringkali punggungan-punggungan di Taman Nasional Halimun Salak itu berujung pada bukit batu yang tidak bisa dilewati, sehingga kami harus ‘menjahit’ punggungan. Eksplorasi ini lebih menyiksa lagi, karena kali ini kami harus naik-turun tebing menyusuri jeram yang tidak dapat dilewati dengan portaging (mengangkut perahu) Aire seberat 60 kg!! Belum lagi ditambah berat keseluruhan air yang masuk ke perahu karet. “Eksplorasi ini adalah eksplorasi yang berat. Bukan hanya sungainya yang berat, terlebih juga perahunya,” celetuk John pada kamera.

IMG_6385IMG_6393

Kedua perahu, merah dan biru, telah terikat kuat di sulur-sulur pepohonan tebing sisi sungai. Kami semua menaiki tebing setinggi 1,5 meter dan melewati persawahan. Scouting dilakukan terhadap 2 buah jeram grade 4. Setelah berdebat beberapa waktu, akhirnya sebagian besar anggota tim beranggapan kedua jeram tersebut dapat kami arungi. Tiga orang anggota pengarungan bersiap dengan throw rope (gulungan tali di dalam tas yang digunakan untuk me-rescue) di atas tebing batu, siap untuk melemparkannya ketika ada orang yang terjatuh dari perahu dan terseret arus. Sementara itu, saya siap mengabadikannya dengan kamera.

Saat tim saya menuruni jeram tersebut. Belum pernah perahu kami terangkat begitu tinggi. Seperti naik roller coaster, begitulah kira-kira rasanya mengarungi jeram section 1 Cibareno.

IMG_6337

Usai bersorak-sorai berhasil mengarungi jeram, kami mencari tempat makan siang. Melewati bagian sungai yang lebih tenang. Sambil mendayung, teman-teman masih asik membicarakan serunya aksi mereka barusan, sementara saya melihat sekeliling. Section I sungai ini rupanya sangat indah. Tebing-tebingnya yang menjulang seperti bongkahan batu keramik. Juga pemandangan pepohonan yang tumbuh mencuat di sela-selanya, dengan sulur-sulur yang menjulur ke sungai. Kami menemukan sisi sungai yang tenang dengan pemandangan terbuka indah. Di sekeliling sisi sungai kami melihat hutan hijau tropis. Seekor kupu-kupu hutan yang besar menemani kami menyantap perbekalan.

IMG_6352

Setelah santap siang, kami melakukan scouting di 2 jeram berikutnya yang juga berjarak berdekatan. Nampaknya pengarungan Sungai Cibareno di section I ini berpola sama, “Sekali arung, dua jeram dilewati”. Saat pemetaan sebulan sebelumnya, jeram berikut tergolong grade 6 atau tidak mungkin diarungi karena jalur tidak cukup besar. Batu besar yang berada di ujung jeram memblokade jalur, menjadikannya tidak cukup besar untuk dilewati badan perahu. Namun, pada hari eksplorasi, air pasang membuat batu tersebut terendam, tetapi membuat hole frowning berukuran raksasa. Anggota yang melakukan scouting beranggapan jeram tersebut dapat dilewati. Tidak semua orang melakukan scouting pada saat itu, hanya 4 orang. Saat evaluasi pada hari kecelakaan, mayoritas beranggapan frowning raksasa tersebut tidak dapat dilewati.

IMG_6365

Kesialan terjadi di saat yang tepat, dua orang awak sekaligus jatuh di jeram pertama…

Saya masih merekam saat Dea, skipper perahu merah terjatuh di jeram pertama. Diikuti Ichaw yang juga terjatuh. Dari ceritanya, seluruh awak perahu kehilangan fokus antara tetap mengendalikan perahu karena akan menghadapi jeram di depan, atau menarik tubuh Dea dan Ichaw yang terseret arus untuk kembali ke perahu. Dea sempat berpegangan pada tali anchor perahu, tetapi pegangan tangannya terlepas. Ichaw yang seorang atlet renang berhasil berenang kuat crossing ke tepi sungai. Tim merah berhasil menepikan perahu pada eddie yang berjarak tidak lebih dari 5 meter di jeram berikutnya.

Perahu ditarik oleh tim biru di daratan, anchor ditambatkan. Tepat sebelum masuk jeram, Dea meraih throwrope yang dilemparkan padanya, tetapi, buah simalakama, pegangannya pada tali tersebut menahannya di jeram. Hanya tangannya yang tampak memegang tali dengan tubuh di bawah air. “LEPAS DE!! LEPAS TALINYA!!” Teriak pelempar, ketika kepala Dea muncul ke permukaan. Dea melepas tali tersebut, tubuhnya masuk ke dalam hole selama beberapa waktu. Tubuhnya lemas saat kembali muncul ke permukaan. Ben melesat mengejar Dea yang terbawa arus. Saya menaruh kamera saat Ben terpeleset di tebing sisi jeram frowning raksasa dan jatuh tepat ke dalam hole. “BEEEEEEN!!!” Manak melesat ke atas tebing dan melemparkan throwrope pada Ben. Saya melihat tangan Ben menggapai-gapai di atas air, dengan kepala yang berusaha mencari udara. “BEEEEEN!!!” Seraknya teriakannya karena tiadanya tangan Ben yang meraih. Yang ada hanya tali-temali terulur di atas jeram.

Ben muncul ke permukaan! Setelah mendapatkan udara kembali, dirinya yang merupakan orang terkuat dalam tim, masih mampu berenang ke tepian. Sementara itu, Dea belum jelas keberadaannya. Ben berlari menyusuri sungai, kali ini dengan lebih hati-hati. Tim menghubungi tim darat. Ben kembali dan menceritakan bahwa banyak warga yang keluar, berkumpul untuk mencari korban tenggelam. Setelah beberapa jam berlalu,  tim darat memberi kabar ada seorang petani yang menemukan seseorang tenggelam. Rupanya, informasi di desa kecil itu cepat sekali tersebar. Ben, John, dan Manak menjemput Dea ke lokasi. Anggota tim yang tersisa kembali masuk ke hutan, mencari area yang datar untuk membangun shelter dengan flysheet. Menjemur peralatan, dan memasak makan malam.

Larut malam, mereka kembali dengan Dea. Mereka menemukannya berjarak 800 meter dari jeram terakhir ia hanyut. Itu berarti hampir sama dengan ketika kami pernah renang jeram jauh sekali (jaraknya seperti Depok-Jakarta), saat latihan di Sungai Cicatih, ketika diantara kami tidak berhasil flipflop perahu. Kami renang jeram sejauh itu di sungai yang telah kami kenal, sementara Dea telah hanyut di sungai ber-grade ekstrem yang belum pernah kami arungi. Pembuluh darah matanya pecah, salah satu bola matanya merah. Dea dan Ben bercerita bahwa mereka tertelan ke dalam hole untuk beberapa waktu. “Gue bodoh, nggak mikir lagi,” aku Ben teringat kejadian itu.

Esok paginya, kami mengevaluasi hari kemarin. Banyak kebodohan yang telah kami lakukan, seperti diantaranya: Tidak semua anggota sempat melakukan scouting, alhasil keputusan mengarungi jeram tersebut diambil oleh 3 orang saja. Padahal menurut penilaian, jeram tersebut termasuk jeram merah yang sangat beresiko. Pelempar throw rope hanya 2 orang yang berjaga di sisi sungai, padahal minimal adalah 3 orang menurut Standard Operational Procedure. Kedua pelempar throw rope juga tidak berada di sisi sungai yang lebih tenang. Dan sempat ingin mengejar anggota yang hanyut dengan perahu melewati hole frowning raksasa tersebut.

Pergerakan selanjutnya dibuat, voting dilakukan untuk menentukan apakah tim akan mengarungi section II sepanjang 8.2 km yang didominasi jeram-jeram ber-grade 5 sampai 6. Saya angkat tangan, sama sekali bukan karena takut, melainkan saya sangsi tim akan mengarungi section II. Saya tidak mau portaging sepanjang jeram-jeram di section tersebut. Skill kami memang belum cukup. Bila bersikap realistis, menghadapi jeram section I saja kami sudah kewalahan, terlebih jika section II di mana jeram-jeramnya seperti “gundu yang disebar Tuhan.” Sebagai salah seorang yang memetakannya, section tengah Sungai Cibareno dipenuh dengan batu-batu raksasa dengan kanan-kiri tebing yang tinggi. Saya tidak bisa membayangkan portaging dengan situasi seperti itu. Salsa dan Joko yang melakukan pemetaan section tengah bersama saya mengiyakan. Keputusan berakhir pada memotong pengarungan section II dan melanjutkan pengarungan ke section III.

Kami memutuskan untuk melewatkan jeram frowning raksasa tersebut, tidak kembali mencoba mengarunginya. Kami semua portaging ke atas bukit dan tebing, menaruh perahu di sisi sungai, dan melakukan lining (membiarkan perahu tak berpenumpang terbawa arus dengan tetap mengikatnya dari atas). Benarlah, ketika dilakukan lining melewati jeram frowning raksasa tersebut, perahu hampir terbalik di atasnya! Mungkin memang Dea sengaja menjadi tumbal, sehingga kami semua tidak tercerai-berai di jeram tersebut.

Lining, perahu hampir terbalik (video)

Baca juga: https://travel.kompas.com/read/2018/03/13/221000627/mencari-restu-adat-demi-mengarungi-sungai-cibareno?page=all

More photos:

IMG_6314IMG_6336IMG_6422IMG_6447 (1).JPGIMG_6449

 

 

 

 

 

Advertisements

[THOUGHT] Live for The Essentials

Saat ini, saya sedang tengah mengerjakan skripsi saya. Banyak hal yang telah terjadi menginspirasi saya untuk kembali menulis. Banyak pikiran yang lewat. Sudah lama saya tidak menulis, lupa kalau menulis adalah penyembuh pikiran-pikiran saya yang terkadang datang sekaligus dalam satu waktu, dan restless.  Perasaan yang berkecamuk dan tidak dapat saya ungkapkan kepada siapapun. Tidak ada yang mengerti, saya kira. 

Penasaran tanpa akhir, saya mengeksplor dan mencobai semua hal yang saya kira saya menyukainya. Saya tidak pernah percaya apapun jika saya tidak mengalaminya sendiri. Saya mencoba hal-hal baru, memiliki mimpi-mimpi baru, dan pada akhirnya saya kembali ke titik nol. I’ve tried many different things because I don’t want to feel stuckThe most regreted thing in life is ‘inaction’. I don’t hallucinate, I do  actions. I always walk my talk. Research, execute, evaluate, repeat.

Titik Nol. Pekerjaan-pekerjaan yang telah saya jajal semuanya tidak ada yang memberikan saya kepuasan. Saya memahami pola yang saya lalui jika saya kecewa dengan hidup dan society. Saya kembali ke fitness. Saya sangat mudah bosan. Namun tidak ada hal monoton di dunia ini yang saya tidak bosan mengerjakannya kecuali berolahraga. Saya bisa olahraga dari siang hingga malam, I can be at a gym for several hours a day, haha.

Ngomong-ngomong, sejak kecil saya selalu berolahraga. I love doing sports so much. Badminton, tenis, basket, flag football, semua pernah saya lakukan. Memang Ibu pernah menginginkan saya menjadi atlet, namun Ia terlalu submisif, patuh kepada pendapat Ayah yang beranggapan itu tidak feminin. Terlebih ketika bergabung dengan Mapala, saya mencoba olahraga arung jeram dan paralayang. Berada di alam bebas yang menantang dan tidak dapat diprediksi adalah keseruan tersendiri.

Sebenarnya saya sudah tahu apa yang saya inginkan sejak saya duduk di bangku SMA. Saya suka olahraga dan menulis. Tetapi ajaran-ajaran, dogma, dan tuntutan dari luar yang menyebabkan saya mencoba hal lain. Pada akhirnya ketika saya telah mencoba semuanya, saya kembali ke titik nol.

Sudah dua minggu saya statis di depan laptop, mengerjakan skripsi. Tetapi, bukankah ini yang saya inginkan? berkarya. Bukankah membaca sajak-sajak bahasa lain, dan menulis tentang sajak-sajak tersebut adalah yang saya inginkan dahulu? Nampaknya saya harus meyakinkan diri saya bahwa yang saya lakukan adalah yang saya inginkan. Agar pikiran saya tidak membayangkan berada di tempat lain dan melakukan hal yang juga lain.

Saya teringat mimpi saya yang dahulu ini. Mimpi yang satu ini telah membawa saya memilih Sastra Arab sebagai jurusan kuliah sarjana saya. Juga telah membuat saya menjadi penjelajah dalam organisasi mahasiswa pencinta alam kampus. Para orientalis;  penjelajah, peneliti, para nomad, yang menjelajah dan menulis sesuatu yang asing bagi mereka, mengesankan saya. Saya ingat, keinginan saya yang terdalam hanyalah ingin menjadi penulis dan hidup nomaden.

Pencarian saya terhadap kebebasan dan perasaan hidup sepenuhnya, sepertinya akan berakhir ke titik start. Selain berolahraga, saya rasa, tidak ada lagi di dunia ini yang membuat saya merasa lebih hidup daripada menjadi asing di tempat yang asing. Orang-orang menyebutnya travelling, tetapi wandering lebih tepat dalam konteksku. Saya membutuhkan perubahan yang konstan. Tidak adanya perubahan membuat saya tertekan oleh perasaan terperangkap.

Sejak dulu, saya tidak suka keterikatan. Hubungan dengan manusia lainnya membuat saya merasa terikat dan terperangkap. Pergaulan. Organisasi. Keluarga. Keluarga Indonesia sangat melelahkan, mengikuti masyarakat pun terlalu berat buat saya. Banyak hal tidak masuk akal dan bertentangan dengan prinsip saya. Dimanapun saya berada, saya merasa terasing dan tidak akan fit in. Saya tahu, tidak ada yang dapat melihat hal itu dari luar.

Saya ingin lepas dari ini semua.

Mengapa begitu sulit bagi saya untuk merasa bebas? Untuk mencapai kebebasan?

Sebenarnya, saya selalu melarikan diri, tetapi tidak sepenuhnya. Pada usia saya yang berjarak belasan hari dari dua puluh tiga ini, saya baru memikirkan mengenai apa yang benar-benar inginkan dalam hidup saya. Hidup seperti apa yang saya inginkan? Mungkin karena pertemuan saya dengan Wy yang berani menjalankan hidupnya seperti yang ia inginkan. Mengingatkan saya kepada mimpi pertama saya, kembali. Seperti yang saya pernah katakan padanya, “That’s what i wanted too. To see and to experience as much as I can, but I’m not that brave, though“.

Mengapa saya harus takut?

Apa yang saya takutkan? Ketidakpastian? Tidak menjadi siapa-siapa? Tidak punya apa-apa?

Pride and status game is stupid.

We work hard for things we don’t need.

Akan tetapi semua ketidakpastian itu akan terbayar dengan melihat apa yang tidak dilihat orang lain, mengalami pengalaman yang tak ada duanya.

Lagipula…

Berumah tangga dan memiliki anak bukanlah keinginan saya. Sejak dulu saya tidak pernah menginginkan anak. Jika memiliki anak, bibir saya hanya bercerita tentang Sang Buah Hati. Kebahagiaannya menjadi kebahagiaan saya. Hidup saya menjadi bukan milik saya lagi. Sementara, saya ingin menjadi manusia yang terus berkembang dan hidup sepenuhnya, mempunyai anak hanya akan menahan saya. I just wanna live light.

Saya telah memutuskan. Saya akan melakukan hal yang benar-benar saya inginkan. Bagaimanapun caranya, secepatnya. There is no perfect timing, the faster the betterThere is no time to do all nothing I want to do. Ketika saya telah dapat mendanai diri dan telah berbuat untuk manusia lainnya.

Akan tiba waktunya ketika saya hanya berolahraga dan hidup sepenuhnya, mengembara dan menulis. Terdengar selfish? Ya, memang begitulah nampaknya siklus hidup saya. Periode selfish dan altruist silih berganti dijalani. Saya kira para aktivis – tidak hanya aktivis HAM dan lingkungan, tetapi juga penyair perlawanan, juga demikian. Ada masanya mereka mengembara demi kewarasan. Lebih baik lagi jika saya bisa melakukan keduanya sekaligus. Fitness and sport makes me stronger physically and mentally, and I want other women feel that too. I want them to be empowered and feel good about themselves.

Di tiap tempat-tempat di mana saya tinggalkan langkah, mungkin saya akan membuat diari. Menulis semua yang tidak dapat saya ungkapkan kepada siapapun ini. Pikiran, perasaan, keterasingan yang saya alami. Membaca sajak-sajak dan prosa orang-orang yang terasing seperti saya, dalam bahasa-bahasa berbeda. Mungkin saya akan terjemahkan beberapa karyanya. Mungkin kalian akan menemukan bagian-bagian dari diri saya yang tercecer dari tulisan-tulisan saya nanti, dengan bahasa yang berbeda-beda pula.

 

[REVIEW] THE FREE STATES OF JONES

e-POSTER-FINAL

Director: Gary Ross

Starring: Matthew McConaughey, Gugu Mbatha-Raw, Mahersala Ali, Kerri Russel, Christopher Berry

Score: 7.8/10

Jika melihat trailer resmi film Free State of Jones, ekspektasi yang muncul untuk film ini yaitu nantinya akan penuh pertumpahan darah karena terdapat banyak baku tembak. Tetapi nyatanya, salah besar! Film ini lebih cocok dikatakan sebagai film drama-sejarah daripada film drama-perang karena porsi “ngeri” di medan peperangan yang lebih sedikit. Film yang diangkat dari buku The State of Jones oleh Sally Jenkins dan John Stauffer, juga The Free State of Jones oleh Victoria E. Bynum ini menceritakan tentang sejarah Jones County, berlatar pada masa perang sipil Amerika. Tenang, Kamu tidak akan dikhianati oleh promosinya, kok. Tetap banyak adegan perang pada film ini. Namun, perangnya adalah perang gerilya alias perang kecil-kecilan. Kata kunci pada trailer-nya yang menunjukkan inti dari film ini adalah ujaran dari Newton Knight (Matthew McCounaghey) yang mengatakan, I’m tired of helpin’ ‘em fight for their damn cotton.

THE FREE STATE OF JONES

Ujaran Newt itu merujuk kepada Twenty Negro Law yang dikeluarkan oleh pihak Konfederasi. Hukum tersebut membebaskan setiap satu anak dari petani kaya untuk wajib militer, jika memiliki minimal dua puluh budak kulit hitam dan berlaku kelipatannya. Hal itu dimaksudkan agar sumber daya kapas sebagai devisa utama Konfederasi tetap diproduksi dengan baik, meskipun dalam situasi perang. Hukum itu mengecewakan Newton, seorang petani miskin kulit putih sekaligus tenaga medis yang telah berhasil bertahan dalam Battle of Corinth.

FREE STATE OF JONES

Tertembaknya keponakan Newt dalam sebuah perang, membuat Newt pulang ke kampung halamannya di Soso. Sesampainya di sana, ia menyaksikan pemungut pajak merampas semua hak milik petani dan peternak kecil termasuk hasil ladang dan ternak, juga barang-barang miliknya dan keluarganya. Geram dengan hal itu, ia menghalangi pemungut pajak, dan kemudian dicap sebagai pembelot. Terluka karena digigit oleh anjing yang biasa mengejar budak yang kabur, Newt kemudian diantar ke sebuah rawa oleh seorang budak milik abolisianis yang bernama Sully. Di sana, Newton bertemu dengan budak-budak yang kabur. Setelah perang sipil usai, jumlah desertir bertambah banyak. Mereka menemukan jalan sendiri ke rawa tersebut di mana para prajurit dan budak yang kabur berkumpul. Dipimpin oleh Newt, komunitas itu kemudian menyusun pemberontakan terhadap Konfederasi.

FREE STATE OF JONES

Menonton film ini, membuat kita turut berempati terhadap orang-orang kulit hitam pada masa perbudakan. Kita ikut merasakan bagaimana rasanya diburu terus-menerus. Menontonnya sedikit melelahkan karena film ini ber-tone gelap dengan kemalangan yang mengikuti. Kanal Variety memberikan deskripsi yang bagus. Kita akan merasa menjadi seorang ‘liberal yang baik’. Hal tersebut paling pas ditunjukkan dengan jawaban Moses “Why you ain’t?” Atas hinaan yang dilontarkan oleh seorang desertir kulit putih yang memanggilnya budak N****. Newt kemudian memperjelas hal itu dengan mengatakan para budak kulit hitam hanya mengambilkan kapas demi petani kaya, sementara orang kulit putih rela mati demi mereka. Menontonnya membuat kita sadar bahwa yang dulu diperjuangkan seperti persamaan ras kini dapat kita nikmati. Suasana pada jaman itu makin terasa dengan dilengkapi foto-foto perang sipil Amerika sungguhan. Selain itu, film ini membuat kita mengerti bahwa perlunya belajar dari sejarah agar tindakan bodoh seperti diskriminasi ras pada jaman dulu tidak terjadi lagi.

fsj 4

Hal lain yang patut diapresiasi yaitu akting dari Matthew McCounaghey. McCounaghey memerankan Newton Knight yang sangat praktikal dan tanpa keraguan sedikit pun. Tindakan impulsifnya yang emosional suksesmembuahkan kontroversi dalam kenyataan; apakah ia layak disebut pahlawan atau hanya seorang preman yang merampok ladang-ladang milik orang kaya. Ya, Newton Knight digambarkan sebagai seseorang yang meninggalkan ambiguitas moral demi mencapai tujuannya. Wah, jika ia adalah pembuat komunitas interrasial pertama dan mematangkan Union dalam memenangkan perang demi menghapuskan perbudakan, so, he’s the man!

free 1

Meskipun begitu, Free State of Jones tidak luput dari kekurangan. Yang pertama, emosi dalam film ini cenderung kaku. Baik emosi kesedihan ketika Konfederasi dengan semena-mena membunuh para desertir dan budak, maupun emosi percintaan yang tertahan antara Newton Knight dan Rachel, kekasih Newt yang seorang mantan budak. Kemudian, selipan-selipan dalam film mengenai kisah cucu laki-laki Newt yang tidak bisa menikahi pacarnya karena seorang ras campuran atas peraturan di Missisipi pada saat itu sedikit mengganggu.

@mutshiaa

Tulisan ini pernah dipublikasikan di cinemaniaindonesia.wordpress.com.

[JOURNEY] Semeru, Perempuan, dan Gunung

7Apa tanda-tanda jika saya menyukaimu? tandanya adalah saya mau berbagi hal-hal favorit saya. Makanan, minuman, es krim kesukaan saya. Sama seperti postingan ini yang menceritakan saya yang berbagi petualangan dengan orang terdekat saya.

Meskipun saya memiliki banyak teman dan tergabung dalam banyak kelompok, hanya sedikit orang-orang yang dekat dengan saya. Saya memutuskan untuk liburan mengunjungi Gunung Semeru, Gunung tertinggi di Pulau Jawa, bersama sahabat saya yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, Shallyna. Ia seorang sahabat saya sejak di sekolah menengah atas. Ia telah memperkenalkan banyak hal kepada saya, dan kami telah mencobai banyak hal baru bersama. Saya pun ingin ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Selain itu, saya mudah bosan dan sering berganti-ganti suasana. Saya bukan tipe orang yang menghabiskan waktu di satu tempat atau satu kelompok saja. Itu pula sebabnya saya tidak mengajak teman-teman yang biasa mendaki gunung bersama saya. And we both knew if we do it, it is gonna be one of our best memories together in our lifeEspecially because of that is her first time.

Manusia takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya. Penentang yang paling bersikeras biasanya adalah orang yang tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu. Anak-anak muda Indonesia telah disuapi dogma mengenai pentingnya ijin orangtua sebelum mendaki gunung. Berbagai berita mengenai celakanya anak-anak muda yang mendaki gunung tanpa seijin orang tuanya marak beredar dari mulut ke mulut, hingga di media sosial. Mulai dari yang hilang karena tersesat akibat kabut tebal menghadang, jatuh ke jurang, hingga ‘disesatkan’ oleh makhluk astral. Berita-berita yang menarik banyak pembaca, namun menanamkan ketakutan massal tersebut juga menjangkiti orangtua kami. Dan benarlah, hambatan pertama datang dari orang yang paling kami cintai, yakni para Ibu kami. Ibu-ibu kami tidak pernah mengunjungi gunung.

Seorang Ibu akan melakukan apapun agar kita tidak pergi. Mereka saling bertelepon dan menyamakan pendapat. Mulai dari alasan yang logis seperti, berbahayanya hal tersebut karena Shally tidak pernah mendaki gunung sebelumnya dan ia akan merepotkan saya. Kemudian alasan yang mulai tidak logis seperti, berbahaya karena it is just two of us and we’re girls (and all of men we’ll find in the trip probably want to rape us). Hingga pernyataan final yang dipaksakan seperti perkataan seorang Ibu itu mengandung mukjizat, yang tanpanya kami tidak dapat kelancaran. Perkataan seorang Ibu itu dapat menjadi kenyataan, yang dengan sumpahnya kami tidak akan selamat.11Alhasil, karena mata kami hanya tertuju pada Semeru dan kebutuhan untuk bertualang di alam yang tak terbendung lagi, kami memutuskan untuk tetap pergi. Perasaan lega muncul ketika kami bertemu teman-teman baru di Jeep yang kami tumpangi dari Tumpang menuju Ranu Pane. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang dari kelompok inilah yang akan bersama kami selama beberapa hari kedepan. Kelompok kami berjumlah 11 orang, 6 orangnya dari Banyuwangi, dan 3 orang lainnya dari Jakarta. Kami tiba di basecamp Ranu Pane pada 4 Juli 2017. Kami baru mengetahui betapa Gunung ini menjadi sangat populer, akibat film 5 CM, hingga kuota pendakian Gunung Semeru dibatasi ‘hanya’ 500 orang saja perharinya. Kami tiba terlalu malam, sehingga tidak sempat me-booking dengan menaruh KTP kelompok di loket taman nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sehingga kami harus menunggu satu malam lagi. Dua malam tersebut merupakan malam terpanjang bagi kami, karena udara di Ranu Pane saat itu begitu dingin yang tidak memungkinkan kami untuk tidur nyenyak.

 

Berbeda lagi dengan siangnya, sebuah drama menyebabkan saya merasa tidak tahan melewatkan hari itu lebih lama lagi. Kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar Desa Ranu Pane. Selesai mengunjungi sebuah danau, Ranu Regulo, kami melihat sebuah gapura dan arca yang cantik. Ternyata setelah didekati, tempat itu adalah sebuah pura. Pura Ulun Danu di Ranu Pane. Setelah menanyakan kepada seorang Bapak berkopiah, ia membolehkan kami untuk masuk kesana. Shally memasuki pura tersebut, sementara saya membaca tulisan tata tertib pura yang letaknya agak tersembunyi. Belum sempat saya mengobrol dengan teman saya mengenai isi dari tata tertib tersebut, seorang tua yang memakai iket udeng melesat cepat ke dalam pura. Ia menginterogasi dan memarahi teman saya. Terdengar bentakan-bentakan dari mulutnya, tubuhnya yang tua bergetar. Si tua penjaga pura ini mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Nampaknya ia merasa terhina karena tempat berdoanya ternodai oleh seorang muda yang masuk tanpa berpakaian rapi. Di situlah drama itu dimulai. Shallyna terus-menerus mengutarakan ketakutannya akan kesialan yang bisa datang. “Kejadian tadi siang itu merupakan sebuah tanda,” katanya bersikeras. Saya nampak tidak mau mendengarkannya. “Hal-hal yang unik seperti ini yang harus kita perhatikan,” ia mengulangi saran seorang gadis yang telah mengikuti Open Trip ke Semeru. Jelas lah si gadis berkata demikian, karena saya mengetahui dalam sebuah Open Trip selalu ada seorang guide yang menginformasikan mitos-mitos setempat. Dan saya tidak percaya mitos. Saya telah mendengar curahan hati Shally mengenai ketakutannya akan kesialan yang akan menimpa karena tidak memiliki restu Ibunya saat perjalanan di kereta. Dan sekarang saya harus mendengarkan spekulasi-spekulasinya mengenai bencana yang akan menimpa kami. Hal ini merupakan energi negatif dan buruk bagi saya. “Biasa lah Shel, orang tua tadi tuh cuma mengabdi sama agama, jadi tingkahnya begitu. Gampang tersinggung,” hibur saya. “Kalo ada apa-apa sama gue emang Lo mau tanggung jawab? Nggak kan?” WTF. Ia mulai bertingkah seperti mamanya dan Ibu saya. Menimpakan hal ini kepada saya, seakan saya satu-satunya yang harus bertanggung jawab jika nanti terjadi apa-apa padanya. “Yaudah, kita lihat saja. Kalau di perjalanan Lo sial, kita pulang saja” Tentu saja saya tidak mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Pulang setelah perjalanan 17 jam di kereta? No way. Kemudian ia merajuk, “PULANG? Itu saja yang bakal Lo lakukan?” That was really hitted my nerve. “Mut, ya emang bener kan, kalau di tempat-tempat kayak gini tuh harus perhatiin hal-hal kayak tadi. Karena memang masyarakat sini masih percaya banget sama hal-hal kayak gitu”. Saya hanya dapat berkata dalam hati karena malas berdebat saat itu, “Tetapi itu bukan kepercayaan saya. Itu kepercayaan mereka. So, it has nothing to do with me.”

Setiap gunung di Indonesia memiliki mitos-mitos. Warga lokal akan melarangmu ini dan itu, menceritakanmu tentang hantu yang ini dan yang itu. Saya menghormati kepercayaan mereka yang mengandung kemistisan itu, tentu saja, tetapi itu bukan kepercayaan saya. If you become upset about what they say, you wouldn’t get anywhere. Lagipula, kesialan dapat diantisipasi dengan persiapan yang baik dan sikap hati-hati.

Suasana tegang diakhiri dengan ngobrolin soal ‘tenda goyang’, yang mungkin merupakan salah satu yang dapat kami tangkap dari dari ucapan teman-teman dari Banyuwangi. Mereka berbicara Bahasa Jawa dan kami tidak mengerti. Meskipun begitu, kami cukup puas dengan mereka berusaha menerjemahkan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Kembali lagi ke tenda goyang, saya dan Shally sama-sama ingin melakukannya suatu hari nanti. I have been wanting that since a long time ago, actually. “Tapi nggak di gunung di Indonesia. Mistis, sih,” kataku. “Iya, katanya hantu tuh nggak suka wilayahnya dinodai sama sex”. Meskipun saya tidak suka memercayai hal semacam itu, saya tetap saja tidak mau dijailin dengan tidak dapat dilepasnya penis siapapun itu dari kemaluan saya!

Saya kira perjalanan ini tidak mengecewakan, Semeru memang seindah yang ada di foto-foto yang ada di penelusuran google (google image). Tiket kereta yang tiga kali lipat lebih mahal karena kami kehabisan tiket, sungguh terbayar. Kami mulai mendaki pada tanggal 6 Juli dan selama 3 hari kedepan, kami sungguh beruntung mendapatkan cuaca sangat cerah. Kami tiba di Ranu Kumbolo pada saat paling indahnya, yaitu saat sore hari. Padang ilalang di sekitar Ranum menjadi padang berwarna keemasan, dan pancaran biru gelap air danau tampak begitu meneduhkan. Tentu saja, kami menyempatkan langsung mengabadikannya dalam foto. Tidak hanya Ranu Kumbolo, sepanjang jalur dari entry point Desa Ranu Pane menuju Mahameru sangat indah! Tentu saja, karena tidak berkabut. KAMI SANGAT BERUNTUNG. Mulai dari bukit dan tebing karst dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo, kemudian padang rumput dan bunga lavender di Oro-oro Ombo, pohon-pohon cemara di Cemoro Kandang, padang bunga edelweiss di Jambangan, berkemah dengan view Gunung Semeru di Kalimati, hingga pemandangan yang dapat terlihat di.jalur summit Puncak Semeru yang luar biasa indah.

2

8

9

Setelah Shally dan rombongan dari Banyuwangi mengantarkan saya dan ketiga orang dari Jakarta Timur, kami pamit di bawah rindang pohon-pohon cemara, di perbatasan antara Cemoro Kandang dan Oro-oro Ombo. Shally memutuskan untuk tidak summit karena mengejar kereta yang telah ia beli tiketnya. Ia hanya memiliki 1 hari lagi yang akan dihabiskan untuk mengunjungi Bromo.

Saya tidak akan menceritakanmu mengenai summit ke Mahameru. Biar itu menjadi kejutan buatmu juga. Yang akan saya ceritakan disini ialah saat saya hendak sampai di puncak, yang saya tempuh 7 jam lamanya, sehingga saya memandang sunrise ketika masih di kemiringan. Eric, teman jalan saya yang juga dari Jakarta, menjabat seorang tua yang adalah kenalannya. Bapak-bapak itu juga menjabat tangan saya. “Berapa lama, Bang, summit-nya?” Dengan malu-malu kucing ia menjawab, “Empat atau lima jam, gitu”. Saya dan teman-teman takjub mendengarnya. Seorang tua ini mestilah seorang ahli dalam mendaki gunung. Eric menjawab merendah, “Wah, kita yang muda-muda aja tujuh jam, Bang”. Seorang tua ini kemudian melirik saya sambil tersenyum, “Maklum lah tujuh jam, bawa wanita soalnya”. Mata saya menyipit mendengarnya, memandanginya lekat-lekat. Dasar orang tua seksis.

12

13

Memang saya tidak ikut bergantian membawa satu carrier kecil yang dibawa kelompok kecil saya, namun saya sama sekali tidak membebani tim dan membawa air minum  summit saya sendiri. Malah, saya berjalan di paling depan. Jika saat itu saya tidak berjalan sendirian alias mendaki bersama lingkaran kawan naik gunung saya, saya tidak akan mengetahui tentang hal ini. Saya tidak menyalahkan Si Tua itu juga, karena memang inilah yang terjadi di kalangan pendaki-pendaki di Indonesia, di luar kepecinta-alaman. Mereka menganggap mendaki gunung adalah olahraga laki-laki. Karena itulah rombongan dari Banyuwangi tidak mengajak pacar-pacarnya. “Takut nggak kuat, Mbak” jelas Yordan, salah seorang anak rombongan dari Banyuwangi, lelaki yang supel dan menyenangkan. “Ama itu, takut kena penyakit kedinginan itu…”. “Hipotermia,” imbuhku. Eric juga tidak mengajak pacarnya. “Wah, bahaya!” sahutnya. “Takut nagih, ya?” tanya Bongki, juga teman jalan kami. “Pasti nagih, nanti jarang di rumah,” Eric menambahkan. Bukan hanya itu, dalam sebuah angkot di perjalanan pulang di terminal Bekasi-Pulogadung, saya juga ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain. Katanya, mereka direpotkan dengan membawakan carrier teman-temannya yang perempuan. Seorang lelaki yang mengambilkan beberapa botol air Ranu Kumbolo untuk Shally juga bercerita yang serupa. Alhasil, mereka semua jadi kapok mengajak teman-teman perempuannya lagi.

Saya tidak berbicara mengenai kemampuan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan seharusnya berhenti melemahkan diri, atau mengambil kesempatan dari enaknya jadi perempuan (meskipun saya juga terkadang melakukan itu) untuk dapat mencapai kesetaraan. Mempersiapkan diri sebelum pendakian dengan jogging dan latihan fisik menjamin tidak akan merepotkan selama perjalanan. Kemudian, jangan pernah mengiyakan keterbatasan-keterbatasan karena lahir dalam tubuh perempuan. Contohnya, mamamu melarangmu naik gunung karena kamu seorang perempuan. Memangnya semua laki-laki ingin memperkosa? Atau, mamamu melarangmu naik gunung karena jika kamu dapat naik gunung, tidak akan ada laki-laki yang mau denganmu karena kamu adalah perempuan yang kuat. Well, if  he does not like you, he is simply not your type.

Terakhir, saya senang telah mengajaknya naik gunung untuk pertama kali. Mengapa? Dulu, saya pernah berpikir bahwa saya akan capek jika harus mengikuti gaya hidupnya di masa depan. Shally adalah orang yang cenderung suka hedon. Contohnya makan di restoran fancy dan membeli tas-tas branded. Dan ia akan menjadi seorang dokter. Kami sahabat sejiwa dan tahu hanya maut yang memisahkan kami. Saya senang nantinya kami tetap bisa melakukan hal yang cocok untuk dilakukan berdua. Kini, sepertinya ia lebih berkeinginan menghabiskan uangnya untuk naik gunung daripada untuk hobinya yang lalu.

10

 

 

[THOUGHT] Kelak, di Masa Depan…

Tulisan ini dibuat pada 2016 lalu.

Betapa sesuatu yang dulu dianggap gila, adalah hal yang normal kini. Masa lalu penuh dengan kebodohan-kebodohan. Masa kini kelak akan menjadi masa lalu di masa depan. Dan kebenaran berpihak pada posisi dimana kita berpijak dan melihat.

Yah, mungkin postingan ini dapat dibilang “terlambat”, karena momentum hebohnya LGBT sudah lewat, tetapi, postingan ini hanya menjadi pengingat bagi saya. Tahun 2016 menjadi tahun yang patut diingat (terlebih bagi saya pribadi), karena tahun ini teman-teman (LGBT) yang mungkin telah lama bersembunyi, mulai terlihat. UI hampir bubar (bercanda) karena komunitas yang tidak dianggap menampakkan dirinya. Negara saya sempat heboh dengan adanya berita-berita dari media Repu***** yang tanpa ijin menggunakan foto seorang mahasiswa kampus yang gay dengan judul semena-mena (hal tersebut dilakukan tanpa konfirmasi, saya mengetahuinya karena berada di group chat SGRC). Dari media sosial dan chatting pribadi, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat, menteri-menteri hingga presiden memberi tanggapan beragam.

Saya jadi teringat film gerakan favorit saya, yaitu The Normal Heart (2014). Film ini menceritakan tentang saat wabah HIV AIDS melanda New York pada 1981-1984, dilihat dari kacamata seorang penulis dan aktivis gay Ned Weeks (Mark Ruffalo) yang juga pendiri organisasi advokasi HIV yang bernama Gay Men’s Health Crisis. Organisasi tersebut mengumpulkan dana untuk penelitian mengenai penyakit yang kini disebut AIDS (saat itu dianggap penyakit gay, belum ada istilah dalam kedokteran). Ned  yang memperjuangkan penyakit tersebut agar diakui keberadaannya dan dijadikan prioritas oleh negara meminta Felix Turner (Matt Bomer), seorang New York Times reporter untuk lebih banyak mempublikasikan mengenai wabah penyakit misterius yang belum terusut tersebut. Ned dan Felix kemudian mulai menjalin cinta.

Berikut ini adalah scene favorit saya, scene yang menyentuh titik empati saya. Ketika kekasih, teman, dan saudara satu sama lain mulai hilang bentuk  dan sekarat karena AIDS, dalam persembunyian di sebuah pesta komunitas gay, mereka berdansa…

(Di sini nggak bisa diputar videonya. Tonton di sini: The Normal Heart 2014 )

Setelah browsing sedikit mengenai Prof. Musdah Mulia, sosok peneliti Departemen Agama RI yang memberi opini berani mengenai legalnya pernikahan LGBT, saya jadi paham mengenai teka-teki tulisan berjudul “Gender” yang ditulis oleh Hendri Yulius pada Tempo edisi 18-24 April 2016.

Pertama-tama, saya beberkan terlebih dahulu opini Prof. Musdah mengenai legalitas pernikahan sesama jenis: LGBT itu dibolehkan oleh Islam karena yang dilarang adalah pernikahan sesama jenis yang merujuk pada ‘same sex’ atau sesama jenis kelamin. Sementara itu, LGBT merujuk pada ‘gender’ atau konstruksi sosial terhadap jenis kelamin seseorang. Jadi, menurut tokoh agama progresif, LGBT tidak haram karena meskipun jenis kelamin pasangan tersebut sama, namun gender-nya berbeda.

Jika dipikir-pikir, apa yang dahulu dianggap ‘terlarang’, apa yang dulu diperjuangkan, kini satu-persatu dapat kita nikmati. Jika bernostalgia, dulu, para feminis memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Dulu, para tokoh anti aparteid berjuang untuk menghapus perbudakan dan aniaya terhadap ras tertentu  yang dulu dilegalkan. Kini, kita dapat menikmati kesetaraan itu.

Sejarah kelam yang paling terlihat di negara kita adalah, dulu, seorang jenderal polisi yang terkenal baik dengan karir yang sangat memuaskan, menjadi jatuh terpuruk hanya karena ia  berupaya menghimbau masyarakat untuk memakai penutup kepala yang kini kita sebut sebagai ‘helm’. Saat itu, safety belum diutamakan dan kecelakaan adalah hal yang biasa. Jenderal itu melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Masyarakat menganggap penutup kepala itu gila. Karirnya jatuh dan dirinya dipenjarakan. Jenderal tersebut benar-benar berpikir melebihi masanya.

“Beruntunglah orang-orang yang merasa terasing (teralienasi)” – K.H. Husein Muhammad.

 

 

[POEM] Seperti Layaknya Kita

Biarkanlah aku pergi jauh.

Tanpa memikirkan dirimu, dirinya, untuk kembali.

Tanpa harus memenuhi diriku,

untuk tumbuh sesuai keinginanmu.

Kelak, aku akan pergi jua.

Kini dan nanti, tak ada bedanya.

Jangan lah takut.

Kelak pasti aku kan kembali.

Setelah kuraih mimpi-mimpiku.

Setelah kutembus larangan-laranganmu.

Setelah kujawab semua ketakutan-ketakutanmu.

 

Aku melihat yang tak kau lihat,

Tidakkah kau lihat itu?

Aku berpikir apa yang tak terpikir oleh pikirmu,

Tidakkah terlintas di benakmu?

 

Oh, Ibu.

Impianku adalah terlarang bagimu, dan

aku akan tetap pergi.

Karena aku tidak hidup di masamu, Bu.

Karena aku tidak hidup dalam ketakutanmu, Bu.

Kau bilang, “Merasa puas lah,” tetapi

bahagiamu bukan lah bahagiaku.

Aku akan tetap menembus batas-batasku yang kau ciptakan.

Batas-batas tak terlihat, terbuat dari ketakutan.

Engkau takut akan sesuatu yang belum pernah kau rasakan,

aku tidak.

 

Oh, Ayah.

Mengingatmu adalah yang paling menyakitkan.

Kita berbeda dalam semua,

kecuali dalam spiritual.

Spiritualmu adalah keyakinan yang lurus,

punyaku adalah rasio dan kemanusiaan.

 

Kumohon jangan,

kau suruh aku ini dan itu, kau larang aku ini dan itu.

Karena aku tidak berpikir sepertimu.

Karena semua perkataanmu tak sampai menembus kepalaku,

terlebih sampai di hatiku.

Bagiku, nasehat-nasehatmu adalah kegilaan.

Bagimu, kesukaanku adalah kesesatan.

Indah bagiku, setan bagimu.

Indah bagimu, buta bagiku.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri-negeri mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

setan-setan itu dengan mataku sendiri,

mengagungkan ritualnya seperti layaknya kita.

 

Oh, Ayah dan Ibu.

Biarlah aku,

menginjakkan kakiku,

di negeri mimpi-mimpi.

Menceritakan kepadamu tentang,

pikiran orang-orang sesat yang telah kuselami itu,

merasa benar layaknya kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[JOURNEY] Berarung Jeram di Cisadane, Solusi Liburan Singkat yang Menantang

Pada hari Sabtu, 1 April 2017 kemarin, saya dan teman-teman caang (calon anggota) dalam rangka magang BKP MAPALA UI baru saja mengarungi Cisadane. Berbagai latihan sebelumnya telah kami jalani di Danau UI, kini kami tinggal mengaplikasikannya di sungai sungguhan ini. Pagi yang cerah itu, di bawah jembatan, kami awali dengan berenang aktif menyeberangi salah satu titik arus utama sungai. Jika saat latihan di Danau UI kami tiba di titik  seberang sesuai keinginan kami, maka di sungai, meski telah mengantisipasi dengan berenang 45 derajat menuju ke arah berlawanan dengan arus, tetap saja kami terseret beberapa meter! Latihan mendayung dan menggerakkan perahu membelah arus sungai juga tidak semudah yang dibayangkan. Meski telah mendayung kuat-kuat, perahu kami rasanya seperti hanya berjalan di tempat saja, tak kunjung berpindah tempat! Pada detik itu juga saya mengetahui bahwa kami tidak bakal hanya tinggal mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan. Sungai sama sekali berbeda dengan danau. Terdapat jeram-jeram yang menantang untuk dilewati dengan tetap menjaga perahu tidak oleng, juga pemandangan ‘liar’ Cisadane yang siap untuk dinikmati.

18740206_1931682867111799_8928991406153568078_n

Sebelum mengarungi jeram terbesar di sungai ini, kami semua turun dari perahu untuk menyusun strategi terlebih dahulu. Pertama, kami menentukan sungai bagian mana yang akan kami lewati, pergerakan apa yang akan kami lakukan dengan jalur sungai yang kami pilih, dan menentukan titik pelempar tali untuk berjaga-jaga jika ada orang yang terjatuh dari perahu saat mengarungi jeram ini.

18740451_1931682580445161_7183051321566364286_n

Dayung diangkat ke atas oleh orang yang berada di daratan, pertanda dokumenter dan pelempar tali telah siap dan tanda untuk tim perahu agar mulai mengarung. Perahu karet Aire merah merayap perlahan dari bibir sungai. Semakin mendekati jeram, awak perahu mendayung makin cepat nan kuat. “Pancung kiri!!!” komando kapten perahu, menyuruh awak perahu terdepan kiri untuk membelokkan perahu ke kanan. Pancung terlambat dilakukan dan perahu menabrak batu besar. Perahu oleng dan benar saja, jeram ini cukup kuat hingga berhasil menjatuhkan dua orang kapten perahu dan seorang awak perahu! Lemparan tali yang dilemparkan dari daratan tidak bisa menggapai awak yang terseret arus. Setelah berada di arus yang lebih tenang, seorang kapten perahu melakukan penyelamatan diri dengan berpegangan pada tali perahu dan mengangkat dirinya ke atas perahu. Setelah itu, satu persatu awak yang jatuh ditarik naik kembali ke perahu.

DSCF9080

Sinar matahari memantulkan kilau-kilau pada permukaan air sungai. Ketika matahari telah berada di atas kepala dan jeram-jeram besar sudah mulai habis, kami menikmati pemandangan Cisadane yang liar tak terawat. Sesekali berteduh di bawah dahan-dahan pohon yang memayungi pinggir sungai. Permukaan air tenang, dayung menyelam rendah dan perahu bergerak lambat. Sejauh mata memandang, terlihat muka sungai dan langit yang luas di atas tebing dan rimbunan pohon. Secara alami, rimbunnya pohon-pohon dan tebing-tebing yang melingkupi sungai memperindah pemandangan.

Mengamati pemandangan Cisadane beserta aktifitas warga lokal di sekitar sungai bisa menjadi hal yang mengasyikkan. Sering terlihat beberapa orang warga lokal yang sedang beraktifitas memanfaatkan sungai. Beberapa orang memancing, beberapa lainnya mandi dan mencuci. Perahu harus bergerak lihai menghindari tali-tali pancing yang tersebar di atas permukaan air sungai. Ada juga warga yang lalu lalang dengan kayu bakar sebagai pelampungnya. Ngarung dan menikmati pemandangan akan lebih asyik lagi jika seandainya sungai Cisadane ini bersih. Sayangnya, pada beberapa titik, terutama di titik yang terdapat pemukiman penduduk, terlihat sampah-sampah mengambang di permukaan sungai dan berserakan di bibir sungai.

Sungai Cisadane memang cocok untuk diarungi oleh para pemula. Sungai yang memiliki tipe pull and drop, yaitu jenis sungai dengan arus relatif tenang dengan jeram di beberapa titik. Berarung jeram di Cisadane tidak hanya menawarkan asyiknya terlompat di atas perahu karet, tetapi juga pemandangan yang menarik. Entry point sungai untuk berarung jeram berada di bawah jembatan Ciampea dan berakhir di Kampung Pasir sebagai exit point-nya. Kamu dapat mengarungi 9 km dari sungai ini selama 2 jam. Lokasi sungai ini tak jauh dari pusat kota. Sungai ini dapat ditempuh hanya beberapa jam dari Jakarta, sehingga berarung jeram di sungai ini sangat pas untuk menjadi pilihan kegiatan pengisi akhir pekanmu.

“Mengarungi tenangnya Cisadane ditemani liarnya pemandangan Cisadane. Seliar para Abah yang hanya pakai kancut mancing di bibir sungai, dan perahu kami harus meliuk lincah menghindari tali-tali kail pancingan di atas permukaan sungai. Seliar perempuan dengan tetek bergelantungan karena BH-nya tersangkut di ranting-ranting pohon, memayungi perahu kami yang berteduh sejenak.”

Fitri Muthi’ah Hanum, CAM 029